Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Tiba-tiba


__ADS_3

Semilir angin berhembus terasa sangat menyejukkan. Membawa sisa embun yang sempat turun menyelimuti kota tadi malam. Cuaca terlihat cerah, dengan sedikit awan tebal yang melintas menutupi sinar dari sang mentari.


Dari sekian banyak orang yang menyambut hari dengan suasana cerah, ada seorang wanita yang



justru terlihat lesu tak bertenaga. Dia sedang berdiri di sebuah halte, menunggu bus. Beberapa kali, ia menghela napas kasar, seakan ingin membuang sesuatu yang mengganjal dalam hatinya.


Benar, itu adalah Zea.


Pagi-pagi buta, dia mendapat sebuah panggilan dari kantor untuk segera menyelesaikan kesepakatan wawancara dengan Nesh. Jadi, mau tidak mau, dia harus menemui Darion sekali lagi.


Ah … aku harus bagaimana?


Setelah diingat, Zea kabur begitu saja setelah mendapatkan pengakuan dari Darion. Bahkan, setelah pria itu meyakinkan Zea dan meminta waktu padanya. Ya, dia lari begitu saja tanpa berkata apapun.


Beberapa panggilan dari Darion diabaikan selama beberapa hari ini. Pesan yang sudah dia baca pun tidak dibalas sama sekali. Entah, hal apa yang menjadi pertimbangan.


Sebuah bus dari arah timur terlihat berjalan mendekat. Warna merahnya yang mencolok sudah pasti membuat siapapun mengetahui itu. Selama 30 menit dia menempuh perjalanan dengan menggunakan bus. Cukup jauh lantaran dia berangkat dari apartemennya.


“Nona Azalea? Tuan Darion sudah menunggu Anda,” ucap salah seorang staf yang menyambut Zea di lobby.


Perasaan Zea jauh lebih rumit dari sebelumnya. Jika kemarin dia datang hanya dengan alasan bisnis belaka, kali ini tidak demikian. Dia jelas tahu kalau ini hanya taktik dari Darion untuk meminta jawaban darinya.

__ADS_1


Benar saja, begitu dia membuka pintu, tangannya langsung ditarik masuk ke dalam dengan paksa. Sepertinya, Darion tidak lagi mau menyembunyikan perasaannya. Dia bahkan langsung memeluk tubuh Zea, mendekapnya kuat-kuat tanpa permisi lebih dahulu.


“Kenapa kau sangat nakal? Berani-beraninya mengabaikan panggilan dan juga pesanku!”


Aroma wangi parfum dari Darion tercium semerbak menampik segala rasa canggung Zea. Perasaan gugup, cemas, dan segala kegundahan yang mengikat hatinya, perlahan terlepas. Hanya ketenangan yang dia rasa, meski Darion sedang protes lantaran diabaikan.


Sudah tidak bisa menghindar lagi. Sepertinya aku benar-benar menyukai pria egois ini.


“A-Aku tidak bisa napas,” rintih Zea berharap pria itu segera melepaskan dekapannya.


Tanpa berkata apapun, Darion mulai melonggarkan dekapan yang semula begitu erat. Hanya dilonggarkan saja, tidak dilepaskan begitu saja. Lalu, dengan suara beratnya, dia mengatakan sesuatu.


“Aku akan menghukummu!”


“Jangan ulangi lagi. Jika terjadi, aku akan memberi hukuman yang melelahkan.”


“Haruskan aku memilih hukuman melelahkan itu,” goda Zea yang mulai menerima sedikit perlakuan frontal Darion.


“Aku anggap itu sebagai jawaban darimu, Baby.”


NYESS


Rasa panas di sekujur tubuh tiba-tiba berubah. Seperti air dingin yang disiram ke atas kepalanya, melebur segala rasa panas yang berselimut. Namun, kedua pipinya justru memerah.

__ADS_1


Zea yang sedang malu-malu lantas mendorong tubuh Darion. Dia berjalan tanpa mengatakan apapun, lalu duduk di sofa dan mengeluarkan tablet.


“Jadi, Anda bisa segera menyetujui pertanyaan yang saya bawa hari ini kan?” tanya Zea berniat mengalihkan topik.


Darion melihat tingkah Zea begitu lucu, sehingga terselip sebuah niat untuk menggoda wanita yang baru saja menerima pernyataan cintanya itu.


“Masukan saja benda itu. Aku sudah menyiapkan pertanyaan dan jawaban sendiri. Besok, kamu bisa datang untuk mengambilnya,” ucapnya sambil berjalan mendekati Zea.


Mendengar penyelesaian yang semudah itu, Zea tentu saja sangat kesal. Jika Darion sendiri bisa menyiapkannya, lantas kenapa dia harus membuang-buang waktu selama beberapa hari ini? Sungguh konyol.


Zea menoleh, hendak menatap Darion dan bersiap mencacinya. Namun saat dia menoleh, Darion sudah berada di belakang sofa sambil membungkukkan tubuh. Membuat wajah mereka saling berhadapan satu sama lain dengan jarak yang begitu dekat.


Tepat pada saat itu, seseorang menerobos masuk tanpa izin, membuat Darion langsung berdiri tegak dan menoleh ke arah pintu. Sedangkan Zea langsung menoleh lagi ke depan.


“Ma-maaf, aku tidak tahu jika Anda memiliki tamu!”


Suara seorang pria muda yang begitu familiar di telinga Zea, membuat kedua matanya terbelalak lantaran terkejut. Entah mengapa, kedua tangannya mendadak gemetar. Tidak hanya itu, bahkan jantungnya pun tak karuan.


I-Itu suaranya. Itu benar-benar suaranya.


...☆TBC☆...


__ADS_1


__ADS_2