Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Hal gila


__ADS_3

Darion hanya memegang tangannya saja, tetapi hati Zea sudah bergetar hebat. Sekali lagi, pria itu berhasil mengguncang relung hatinya hanya dengan tatapan matanya.


Dingin menusuk, tetapi begitu sampai ke dalam, perasaan itu berubah menjadi hangat. Seperti selimut bulu tebal, yang tidak hanya memberi rasa hangat tapi juga terasa lembut.


Perasaan yang teramat sulit ditolak oleh Zea pada saat itu. Hingga akhirnya, ia tanpa sadar mengangguk, setuju dengan tawaran dari Darion.


"Mau makan apa? Aku akan menyuruh mereka memesankan untuk kita." Darion perlahan melepaskan tangannya, takut jika Zea akan menariknya dengan paksa.


"A-apa saja. Anda bisa memesan apa saja."


"Pasta? Kau suka?"


"Ya, saya tidak masalah dengan itu."


"Baiklah. Tunggu dan duduklah dengan nyaman."


Setelah menyuruh Zea untuk duduk kembali, Darion buru-buru keluar untuk mencari Drax agar bisa segera memesankan makanan.


Sedangkan di sisi lain, Zea justru terlihat menyesali keputusannya. Dia menjatuhkan diri di atas sofa, lalu tertunduk sambil merutuki dirinya yang bodoh.


Namun sesadis apapun makiannya pada kebodohan itu, pada akhirnya dia hanya bisa pasrah.


Lagi pula itu hanya makan siang. Benar makan siang. Aahh … bodohnya aku!


Lima menit telah berlalu, Darion belum juga kembali ke ruangannya. Sepertinya, ada sesuatu yang menahannya, hingga dia membutuhkan waktu yang lama di luar. Namun hal itu sedikit membuat Zea bisa bernapas lega. Setidaknya, dia tidak perlu melihat wajah tampan Darion yang berhasil menggetarkan hatinya.


Terlalu santai dan tidak adanya kegiatan, membuat mata Zea tiba-tiba terasa berat. Rasa kantuk mulai menyerang dirinya. Mungkin, itu imbas dari begadang hingga jam 4 pagi dan hanya tidur selama 3 jam saja.


Bermaksud untuk menutup matanya sesaat dan tetap fokus dengan telinganya, Zea justru terlelap tanpa sadar dengan bersandar tangan. Darion yang melihat itu sambil membawa dua paperbag pun, langsung membetulkan posisinya agar bisa tidur dengan nyaman. Lalu, menyelimuti tubuh Zea dengan jas miliknya


Tidak hanya itu, dia bahkan menghubungi asistennya untuk menunda semua jadwalnya hari ini. Juga, melarang siapapun untuk masuk ke ruangannya.

__ADS_1


Dari kursi kerjanya, dia bisa menatap wajah Zea yang tertidur dengan pulas. Meski dia terlihat sibuk dengan beberapa berkas di atas meja, tetapi sesekali mata tajamnya itu beralih fokus pada Zea.


Sampai, kedua mata gadis itu terbuka.


Aku ketiduran?


Menyadari dia tertidur di ruang kerja Darion, membuat Zea langsung buru-buru bangun dan langsung duduk dengan tegak. Dia bahkan terlihat merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


“Maaf. Saya minta maaf.”


Darion tidak berkomentar apapun setelah mendengar permintaan maaf dari Zea. Dia justru bangkit berdiri, lalu mengambil paper bag yang baru saja di antar oleh Drax 10 menit yang lalu.


Dia berjalan mendekati Zea, kemudian mengajaknya makan siang dengan nada yang lembut. “Tidak masalah, kau pasti lelah. Mari makan lebih dulu.”


Zea tidak langsung menjawab. Dia berpikir, mungkin tidurnya sudah amat lama. Sehingga ia buru-buru melihat arloji di tangan. Benar saja, pada saat itu jam sudah menunjukkan pukul tiga. Seharusnya, dia sudah kembali ke kantor untuk menulis laporan.


Buru-buru ia bangkit berdiri, tetapi lagi-lagi ditahan oleh Darion. Hanya saja, kali ini tidak menggunakan tangan, melainkan ucapan. Ucapan yang membuat Zea kembali duduk di sofa.


Zea tidak mengerti. Kenapa ucapan Darion selalu bisa membuatnya patuh tanpa bisa berontak. Apa itu lantaran Darion sebagai narasumber yang cukup berpengaruh? Atau ada alasan yang lain?


Namun Zea tidak ingin berpikir lebih panjang. Ia merain kotak makan siang yang baru saja dikeluarkan Darion dari dalam paper bag. Saat menyentuh kotak yang terasa hangat, tentu saja Zea terkejut.


Makanannya baru sampai?


Sebenarnya tidak. Darion lah yang menyuruh Drax untuk mengirim makanan setiap 20 menit sekali. Agar saat Zea bangun, dia mendapati makanannya masih hangat. Namun, hal itu tidak di tanyakan oleh Zea bahkan Darion sendiri tidak membahasnya.



Sudah hampir tiga hari berlalu sejak rapat mereka berlangsung. Akan tetapi, Zea masih belum juga mendapatkan 20 pertanyaan. Lantaran Darion yang selalu memilih 3 dari 20 poin yang diajukan Zea.


“Sebenarnya, apa maksud Anda?” tanya Zea yang sudah mulai kesal setelah 3 hari ini mengunjungi kantor Nesh.

__ADS_1


“Anda sedang mempermainkan saya?”


Darion dengan santai bersedekap tangan, lalu menjawab dengan singkat. “Tidak!”


“Lalu apa maksud semua ini? Anda selalu memilih 3 dari 20 pertanyaan yang saya ajukan selama tiga hari ini.”


“Hanya ingin tahu. Seberapa berkualitasnya ketua tim di NNC.”


Kesal, jengkel, tentu saja. Zea bahkan mengepalkan kedua tangannya sambil menarik napas panjang beberapa kali.


“Anda sungguh-sungguh bekerja keras,” ucap Zea kesal, lalu pergi begitu saja meninggalkan Darion tanpa pamit.


Namun sebelum Zea membuka pintu, Darion menarik tangannya, mendorong tubuhnya sampai ia tersudut di tembok.


“Haruskan aku mengatakan alasan yang sebenarnya?”


Tatapan Darion begitu dalam, dengan garis alis yang mempertegasnya. Membuat siapapun yang menatapnya tak berkutik. Begitu juga Zea yang tidak bisa mengatakan apapun pada saat itu.


“Aku menyukaimu!”


Dua kata yang terdengar tegas. Seperti pengakuan yang tak ingin mendapat penolakan dari siapapun. Membuat jantung Zea berdegup sedikit kencang.


“Tatapan matamu, senyumanmu, garis wajahmu. Sentuhan yang tidak bisa aku lupa. Aku menyukainya. Wajah, bibir, juga … tanganmu.”


Darion meraih tangan kanan Zea lalu mengecupnya dengan sangat amat lembut. Begitu lembut sampai membuat perasaan gadis itu meleleh. Napas yang keluar, terasa begitu hangat ketika menyentuh kulit tangannya.


Apa ini sebuah pengakuan?


...☆TBC☆...


__ADS_1


__ADS_2