
Sepuluh hari lalu ….
"Dok, Dokter!" Suara seorang perawat terdengar dari dalam ruang operasi. Suara yang datang mendadak dan terdengar panik, jelas membuat dokter menoleh.
"Dokter, jan-jantung pasien berdetak kembali!"
Perkataan perawat langsung membuat dokter kembali masuk ke dalam dengan buru-buru. Darion tentu saja mengikutinya, tetapi perawat menahannya.
"Maaf, Tuan. Di dalam adalah ruangan steril. Anda tidak bisa sembarangan masuk ke dalam."
Namun Darion tidak peduli. Dia masih berusaha untuk masuk ke dalam. Keinginannya untuk melihat Zea begitu kuat. Beruntung, Drax menghentikan tindakan gegabah tuannya.
"Jika Anda masuk, kemungkinan nona terpapar bakteri dari luar bisa membuatnya dalam bahaya lagi."
Darion tertunduk, perkataan Drax memang benar. Jika dia masuk ke dalam ruangan steril tanpa persiapan, dia mungkin bisa membahayakan Zea. Pada akhirnya, dia hanya bisa menunggu dengan harap-harap cemas.
Setengah jam terlewat begitu lama, pintu operasi akhirnya terbuka dan dokter menyampaikan pesan yang sedikit menggembirakan dan menyakitkan.
"Aku tidak masalah. Mendengar dia berhasil selamat saja, sudah cukup," jawab Darion dengan mata memerah.
"Kami akan memindahkannya ke kamar sebentar intensif sebentar lagi. Anda masih belum bisa bertemu, sampai kondisi pasien benar-benar stabil," terang dokter.
"Tapi tenang saja, Anda masih bisa melihat pasien dari kaca."
"Sampai kapan?"
"Setidaknya, kita memerlukan 12 hingga 24 jam, Tuan. Harap bersabar, pasien akan segera membaik."
__ADS_1
Zea akhirnya dibawa ke sebuah ruangan khusus, dimana ia bisa mendapatkan pemantauan selama 24 jam. Yah, setidaknya sampai ia keluar dari masa-masa membahayakan.
Dari ruangan dia ditempatkan, ada sebuah kaca pemisah yang ukurannya setengah dari tembok pembatas. Kaca yang menjadi media, dimana Darion dapat melihatnya sesekali selama beberapa jam. Namun, gadis itu masih belum juga sadarkan diri meski sudah memasuki hari ke tiga.
Sampai diwaktu pagi pada hari keempat. Zea mulai mengerjapkan matanya perlahan.
Pandangan yang buram, perlahan menjadi jelas. Ia mulai mengedarkan matanya. Melihat langit-langit, selang infus di tangannya, tirai yang tersingkap, cahaya dari sinar mentari yang masuk.
Tanpa bertanya, dia bisa menebak dengan baik. Dia bahkan mengingat kejadian sebelum tidak sadarkan diri. Hanya satu hal yang membuatnya penasaran.
"Sudah berapa lama?"
Darion yang baru saja keluar kamar mandi setelah mencuci muka, langsung terkejut. Mendapati sang kekasih sudah membuka mata, dia berlari menghampiri Zea seperti orang gila.
"Apa ada yang membuatmu tidak nyaman? Apa perutmu terasa sakit, hah?"
Darion mulai bertanya banyak hal sambil membelai kening Zea. Raut wajah bahagia pria itu terlihat jelas, meski ada sedikit rasa khawatir yang mengganggunya.
"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Zea yang aneh, lantaran lukanya tidak terasa begitu menyakitkan.
"Empat hari. Kamu membuatku cemas dan khawatir selama empat hari ini."
Darion menempelkan keningnya di kening Zea. Lalu dengan lembut mengatakan perasaannya.
"Kau berhasil membuatku hidup dalam ketakutan. Aku tidak mau tau, kau harus bertanggung jawab padaku."
__ADS_1
Bertanggung jawab apa?
Memang apa yang sudah aku lakukan?
Zea terlihat kebingungan saat memahami ucapan Darion. Dia merasa tidak melakukan apapun yang membuat Darion sampai seperti itu.
"Apa yang kau katakan, Don? Bangun dan duduklah. Aku tidak bisa melihatmu dengan baik!" pinta Zea agar Darion duduk di kursi.
Darion pun tidak membantah, dia mengangkat kepalanya, lalu duduk disofa sambil terus memegang tangan Zea.
"Katakan, apa yang sudah aku lakukan hingga membuatmu menuntut tanggung jawab dariku," tanya Zea yang penasaran.
"Karena kamu, yang hampir menyerah dan membuat duniaku runtuh. Karena kamu, yang belum juga sadarkan diri, padahal dokter sudah mengatakan jika kondisimu stabil. Karena kamu yang …."
"Baik, cukup!" sela Zea yang merasa Darion menjadi sedikit cerewet.
"Jadi, tanggung jawab seperti apa yang kau inginkan?" tanya Zea langsung ke intinya, karena tidak ingin mendengar pria di depannya mengajukan protes panjang.
Darion tidak langsung menjawab Zea. Dia justru mengukir senyum manis di wajahnya yang sedikit menua. Lalu mengecup punggung tangan Zea dengan lembut.
"Kau harus hidup dan menjagaku selamanya," ucap Darion sambil menatap kedua manik mata Zea yang masih terbaring di atas brankar.
"Menikahlah denganku, Azzalea Ottmar!"
"Hiduplah denganku, menualah bersamaku!"
...☆TBC☆...
__ADS_1