Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Menerobos masuk


__ADS_3

Beberapa hari berlalu sejak Zea bertemu dengan Julian di kantor. Sejak saat itu pula, Julian tidak menampakkan diri lagi. Seperti menghilang di telan bumi, bahkan berita tentangnya pun perlahan surut.


Ada yang menebak, mungkin itulah kekuasaan keluarga Walter. Namun Zea tidak peduli akan hal itu. Dia tidak mau ambil pusing dengan masalah sang suami. Alih-alih memikirkan itu, Zea lebih memilih untuk mengurus sesi wawancaranya dengan pendiri Nesh besok.


Ya, besok, tepat seminggu setelah Darion menyetujui semua naskah yang disiapkan Zea. Selama itu pula, dua orang yang berbeda 20 tahun itu tidak pernah bertemu. Bahkan Darion tidak pernah menghubungi Zea. Hanya sesekali mengirimkan pesan.



Zea terlihat duduk di kursi sambil menatap langit London yang tiba-tiba diselimuti awan tebal. Dia hanya memandang dengan tatapan kosong, bahkan saat rintik air hujan mulai turun membasahi kota.


“Ketua ….”


“Ketua Tim?”


Suara samar yang perlahan menjadi jelas membuatnya menoleh ke sumber suara. Rupanya, Vivian sudah berdiri di samping sambil membawa berkas di tangannya.


“Oh, I’m Sorry.”


“Tidak masalah. Anda pasti punya banyak pikiran,” jawab Vivian sambil menyodorkan berkas yang dibawanya. “Semua persiapan sudah selesai. Sisanya sudah saya kirimkan ke email.”


Zea buru-buru menerima berkas yang disodorkan Vivian. “Terima kasih, kalian sudah bekerja keras. Lekaslah pulang sebelum hujannya semakin deras.”


“Baik. Anda juga harus pulang, Ketua Tim.”


Zea mengangguk sambil tersenyum, tetapi ia belum bangkit dari kursinya dan hanya menatap anggota timnya satu persatu meninggalkan ruangan. Kini hanya Zea yang tersisa, ditemani lampu utama yang menyala terang.


Tiba-tiba ia meraih ponsel, membuka pesan dan membaca ulang pesan yang dikirim Darion kemarin pagi. Sorot matanya kembali kosong saat menatap layar ponsel.


Kenapa, aku jadi merindukan dia?

__ADS_1


Hela napas panjangnya terdengar jelas. Mungkin karena ruangan kerjanya sudah kosong hingga bisa terdengar. Lalu, ia menatap ke arah jendela kaca lagi. Menatap rintik hujan yang menetes semakin cepat. Hanya sebentar, sebelum akhirnya dia meraih tasnya dan pergi meninggalkan kantor.


Hujan yang semakin deras menyulitkan Zea untuk pergi ke halte. Mau tidak mau, hanya taxi yang menjadi pilihan. Dari kantor sebenarnya cukup mudah untuk mendapatkan taxi tanpa harus basah kuyup. Namun saat sampai di rumah, Zea masih harus melewati gang kecil untuk bisa sampai di apartemennya.



Luka lecet yang belum sepenuhnya mengering, pada akhirnya harus kembali basah dan membuatnya terasa perih. Zea buru-buru melepas pakaiannya begitu sampai di rumah, agar bisa segera mengobati lukanya.


Tubuh semampainya masih berbalut barhrobes, ketika seseorang tiba-tiba menerobos masuk ke dalam. Zea yang pada saat itu berada di kamar mandi langsung pergi keluar sambil memegang sebuah gunting.


Langkahnya mengendap, berjalan dengan perlahan sembari melihat situasi. Namun saat dia mengambil 2 langkah usai keluar dari kamar mandi, seseorang mendekapnya dari belakang.


HAP


Secepat mungkin Zea berusaha mengayunkan gunting tajamnya, tetapi tangannya ditangkis dengan mudah.


"Bagus, kamu sangat waspada."


"Da-Darion?"


"Diamlah sebentar!" Pinta Darion mengambil gunting di tangan Zea, lalu melemparnya ke arah nakas.


"Diam seperti ini, Baby. Biarkan aku memelukmu sebentar!" mohon Darion dengan suara sendu.


Napas yang keluar dari hidungnya, terasa begitu hangat menyentuh kulit leher Zea. Aroma mint dominan yang berpadu dengan white musk samar, membaur bersama kehangatan yang diciptakan Darion.


Siapa yang tidak betah? Bahkan Zea sendiri menikmati dekapan dan aroma khas dari pria berumur 45 tahun itu.


"Kau tau, kau membuatku gila. Aku menghubungimu sejak tadi, tapi tidak ada satupun yang berhasil terhubung."

__ADS_1


"Anda sedang mengatakan alasan karena sudah menerobos masuk rumahku?"


Darion tidak memberi jawaban. Dia justru tersenyum, kemudian meraih tangan Zea, hendak memberinya kecupan. Namun, Dariom yang tidak tahu tangan Zea lecet, tidak sengaja menyentuhnya hingga membuat gadis itu merintih.


"Aaahh …."


Darion buru-buru mengeceknya. Melihat luka lecet di tangan sepanjang 10 cm lebih, dia pun sedikit marah.


"Apa yang terjadi?" tanya Darion penasaran.


"Tidak sengaja jatuh."


Tidak sengaja? Ini seperti jawaban untuk mengetes kepekaan dari Darion.


"Kau bukan wanita ceroboh!" ketusnya kesal. "Kau bertemu dengan anak brengsek itu?"


Entah mengapa, Darion tiba-tiba saja terpikirkan beberapa alasan. Salah satunya adalah Julian. Ya, mungkin itu karena tindakan yang dia lakukan juga.


"Itu … tidak sengaja."


Jawaban Zea sudah cukup untuk memperjelas dugaannya. Dia tidak menyangka, jika Julian akan menyakiti Zea sampai seperti ini.


Raut wajah pria itu seketika berubah. Rasa hangat yang sempat ia bagi dengan Zea tiba-tiba berubah menjadi dingin. Sorot matanya pun terlihat tajam bak anak panah yang siap melesat.


"Sialan! Aku akan memberinya sedikit pelajaran!"


...☆TBC☆...


__ADS_1


Masa mudanya bang Can emg semeblew 🤩


Bab selanjutnya meluncur, jadi sajen rutinnya jangan sampai ketinggalan 😚😚


__ADS_2