
Zea
Selama aku bernapas, tidak pernah sekalipun hatiku jatuh pada seorang pria. Tidak pernah sekedip pun mataku tertarik pada seorang pria. Namun, malam itu di Monaco. Aku melihatnya di bawah cahaya temaram. Dia duduk di depan bartender dengan santai.
Setiap gerakannya, membuat mataku tertarik untuk tetap mengamatinya. Setiap kali dia tersenyum, dengan garis-garis halus yang terlihat jelas di matanya. Aku tertarik. Hatiku pun jatuh padanya.
Jelas aku ingat posisiku sebagai seorang istri. Namun pada akhirnya, melupakan janji serta komitmen untuk setia, tidak peduli jika itu hanya pernikahan kontrak. Aku melupakan itu dalam sekejap mata, dan justru menikmati setiap detik bersamanya malam itu.
"Kamu menganggapnya begitu, Zea?"
Hati Zea mendadak ragu. Ragu akan segala hal. Ragu akan bentuk perhatiannya selama ini. Ada rasa takut yang terselimuti kain tipis, tetapi bisa terasa begitu menyesakkan jika dia mengetahui kebenaran yang tidak sesuai.
"Kau tahu, Don. Aku tidak–"
Perkataan Zea tertahan, oleh tindakan Darion yang tiba-tiba berbalik lalu memegang kedua pipinya. Dengan suara berat serta kedua mata yang melihatnya dalam-dalam.
"Dengar baik-baik! Aku tidak pernah bercanda tentang ucapanku saat itu," ujar pria bertubuh tinggi yang sedang membungkukkan sedikit badannya.
"Aku menyukai semua hal yang ada padamu. Aku menyukainya. Dan aku ingin menjadikanmu istriku satu-satunya, bukan sebuah bidak!"
Setiap kata yang diucap dari bibir pria itu, terdengar begitu serius dan meyakinkan. Zea sendiri tidak memungkirinya, dia pun menyadari jika Darion tidak main-main.
Namun, bagian mana yang membuatnya ragu?
"Lalu, apa maksudmu membawa Tuan Hellian kesana. Kau pun juga datang, bahkan tidak memberitahu hal ini pada–"
__ADS_1
CUP
Kecupan lembut berhasil mendarat dengan sempurna di kening Zea. Hingga membuat gadis itu diam dan menutup mulut, meski kalimatnya belum selesai.
"Maaf. Maaf untuk tidak memberitahu. Maaf telah mengejutkanmu."
Zea membuang muka, bersamaan dengan hela napas kasar yang bisa di dengan Darion dengan jelas.
"Aku hanya ingin membuatmu segera bercerai dan menikahimu," lanjut Darion.
Perasaan yang sejak tadi bercampur tak karuan. Rasa bimbang, cemas, dan kekecewaan yang sempat membelenggu hatinya. Tiba-tiba mengendur setelah Darion mengatakan hal itu.
Nyatanya, itu bukan keinginan sepihak dari Zea. Bukan hanya bayang masa depan yang ingin dirasakan setiap harinya bersama Darion. Namun, apa semua akan semudah itu?
"Apa pria itu akan menurut dengan mudahnya?" Zea memalingkan wajahnya lagi, menatap Darion dengan sungguh-sungguh.
"Tenang saja, ayah bisa membuatnya menceraikanmu dengan mudah." Darion tersenyum, menatap wajah Zea yang dipenuhi keseriusan.
Kekuasaan yang nyatanya memang sangat mujarab untuk mengatasi hal-hal demikian. Hanya saja, pandangan masyarakat masih menjadi momok tersendiri bagi dia.
Disini lain. Rumah yang sempat dipergunakan untuk pesta, telah sepi. Semua tamu sudah bubar, hanya tersisa Jarvis, Ana dan Julian yang ada di rumah.
Suasana terlihat mencengkam. Ruang tamu yang tadi rapi, terlihat kacau balau. Vas pecah berkeping-keping, meja terbalik begitu juga sebuah sofa.
Ana dan Jarvis terlihat duduk dengan wajah suram. Sedangkan Julian masih memegang sebuah tongkat golf, tak henti-hentinya memukul benda-benda yang ada di ruangan.
__ADS_1
"Sial! Sial!" Umpatan demi umpatan keluar dari mulutnya, entah sejak kapan.
"Aku akan membunuh wanita ****** itu! Akan ku bunuh si sialan itu!"
Javis hanya diam, melihat Julian terus mengerahkan seluruh tenaganya. Sampai pria itu akhirnya kelelahan, lalu merebahkan dirinya di atas sofa.
"Kalian sungguh gegabah!" ujar Jarvis sambil merogoh saku, kemudian mengeluarkan sebatang rokok.
"Sudah ku bilang untuk bersabar. Tidak lama lagi Darion akan jatuh, kenapa malah memperumit semuanya?" Jarvis mengeluarkan pemantik, lalu menyalakan dan menghisap rokok yang sudah ada di mulutnya.
Ana hanya tertunduk, sedangkan Julian menatap tidak suka ke arah Jarvis. Tujuannya saat itu hanya ingin membuat Darion tersudut dengan status pernikahannya bersama Zea. Namun kenyataan harus dia terima, bahwa Darion selangkah lebih jauh di depannya.
"Cih!" Decak Julian kesal.
Jarvis tidak ingin berlama-lama lagi. Dia segera bangkit berdiri, hendak pergi dari sana. Namun sebelum meninggalkan kediam Julian, ia menyampaikan sesuatu.
"Hubungan mereka menjadi berkah untukmu, ingat itu dan berhentilah bersikap gegabah!"
Kalimat dan pesan yang singkat. Namun berhasil membuat amarah Julian kembali naik, saat tidak sengaja teringat perintah sang kakek untuk segera menceraikan Zea.
Dia pun melampiaskan dan menyalahkan semua kepada Ana. Lantaran dia lah yang menyusun rencana untuk menyudutkan Zea.
"Ini semua karena rencana bodoh Ibu!" teriaknya lantang.
Ana langsung terkesiap, dia bangkit berdiri dan menatap Julian. "Kau kira aku bisa memprediksi hal ini? Kau juga bodoh, bisa-bisanya mencekik wanita itu!"
Julian yang sangat keras kepala, jelas tidak mau disalahkan. Menurutnya, semua itu berasal dari Zea yang diam-diam bersengkongkol dengan Darion dan mengkhianatinya.
__ADS_1
...☆TBC☆...
Sudah senin, vote jangan sampai lupa. Apalagi secangkir kopi 🤭