
"Menikahlah denganku!"
Zea hanya termenung tanpa bisa berkomentar, ketika mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulut Darion dengan mudahnya. Apakah itu sebuah perintah atau permohonan.
Ada banyak sekali pertanyaan yang berkerumun di dalam pikirannya, tapi tidak ada satupun yang bisa ia keluarkan terkait lamaran mendadak dari pria di hadapannya. Namun, tiba-tiba dia bertanya tentang hal yang sama sekali tidak ia pikirkan.
"Apa yang terjadi selama aku tidak sadar?"
Setelah bertanya hal itu, dia baru saja memikirkan hal yang membuat Darion bisa mengajaknya menikah. Dia yakin, ada hal yang menjadi pemicunya.
"Tidak ada. Hanya … permasalahan kita sudah tuntas," jawab Darion yang tidak ingin membeberkan fakta.
Namun Zea bukan wanita bodoh yang tidak bisa memahami situasi. Dia tahu jika Darion sedang menyembunyikan sesuatu.
"Tidak perlu menipuku, Don!" ungkap Zea masih menatap Darion.
"Apa kamu membunuh mereka?" lanjutnya.
Sorot mata Darion sedikit berubah usai mendengar pertanyaan yang tiba-tiba saja keluar dari bibir Zea. Sebuah pertanyaan yang dia sendiri tidak bisa menjawabnya dengan pasti.
"Entahlah. Aku belum memutuskannya," jawab Darion.
"Apa maksudnya?" Zea masih dirundung penasaran. Dia yang tidak tahu apa yang terjadi, hanya bisa berharap Darion memberinya sebuah jawaban.
"Bukti sudah jelas. Pria yang menusukmu adalah mantan suamimu sendiri. Mereka sudah menuai hasil dan menunggu persidangan."
__ADS_1
"Kau mengirim mereka ke penjara?"
Darion mengangguk, tetapi sorot matanya jatuh ke bawah, menatap jemari lentik Zea yang sejak tadi digenggam.
"Apa kau lebih ingin mereka mati?" Darion kembali menegakkan kepalanya.
"Tidak. Aku lebih suka polisi yang menyelesaikannya. Jangan kotori tanganmu, Don!"
Darion berusaha tersenyum, seolah setuju dengan perkataan Zea untuk tidak membunuh mereka. Namun, hal yang terjadi justru sebaliknya.
"Jadi, kau menerima tawaranku?" tanya Darion mencoba mengalihkan pembicaraan.
Namun Zea bukannya menjawab, dia justru menarik tangannya sambil merintih, memegang luka di perutnya. "Aduh! Tiba-tiba ada yang sakit."
Darion jelas saja panik, dia bahkan langsung berdiri dan bertanya, "Bagian mana? Apa bekas lukanya terasa sakit?"
"Lukanya tidak terbuka, tapi memang belum sepenuhnya kering. Mungkin akan terasa sedikit sakit jika Anda bersin atau tertawa sedikit kencang," jelas dokter usai melihat luka di perut Zea.
"Lalu, kapan dia bisa sembuh sepenuhnya?" tanya Darion dengan memasang raut wajah kesal. Ya, kesal, karena dia tidak suka melihat Zea merintih seperti tadi.
"Satu sampai dua minggu. Jangan beraktifitas terlalu banyak selama beberapa hari ke depan."
Penjelasan dokter berakhir dengan pesan singkat pada Darion untuk terus mengawasi aktivitas Zea, terutama untuk tidak berjalan dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Senja menyapa kemucuk bumi bagian barat, sebagai pertanda langit cerah akan meredup dengan perlahan. Burung-burung terlihat terbang, kembali ke sangkar masing-masing.
Zea sedang duduk bersandar sambil membaca sebuah Novel yang baru saja dibeli oleh Darion, untuk mengisi waktu senggangnya. Novel dengan judul 'Lips Service' membuat konsentrasinya terfokus. Bahkan, kehadian perawat pun tidak membuat matanya bergeming.
"Wah, judul itu populer akhir-akhir ini. Saya tidak menyangka, Anda juga menyukainya," ucap salah seorang perawat ketika manik matanya tidak sengaja melihat buku yang dibaca Zea.
"Benarkah?" ucap Zea penasaran sambil memandang perawat yang datang.
Mereka pun sempat mengobrol sebentar, sampai akhirnya perawat yang sudah selesai mengerjakan tugasnya itu undur diri. Namun saat ia keluar, perawat lupa menutup pintu dengan sempurna, hingga Zea bisa mendengar beberapa suara dari luar.
"Ya, aku dengar sudah tidak bisa punya anak. Itu karena ditusuk suaminya sendiri."
"Aku juga mendengar itu, dia dirawat di kamar ini kan?"
Suara yang awalnya terdengar samar, tiba-tiba terdengar jelas di telinga Zea. Dia pun lantas menoleh. Menatap ke arah luar, dimana ada dua perawat yang berjalan melewati ruangan sambil menatap ke dalam.
Tanpa sadar, Zea juga sudah bisa menebak siapa orang yang sedang dibicarakan dua perawat itu. Terlebih, mereka jelas-jelas menoleh ke arah kamarnya.
Ini tidak mungkin kan?
Zea yang sempat tertegun, perlahan mengalihkan manik matanya ke bawah. Lalu meraba bekas lukanya, sambil terus berpikir positif. Namun bukti luka itu seakan mematahkan pikiran positifnya.
Apa ini alasan dia melamarku secara mendadak?
Tidak, tidak mungkin!
__ADS_1
...☆TBC☆...