
“AARRGGHH!!!”
Teriakan Julian menggema, sangat nyaring hingga memekik telinga. Namun itu tidak berlaku bagi Darion. Pria itu memasang raut wajah puas, ketika darah segar berwarna merah kehitaman mengucur keluar dari paha kanan Julian.
Sedangkan Ana yang menyaksikan darah serta mendengar teriakan pilu sang putra, hanya bisa ternganga. Air matanya tumpah, dia berusaha berteriak, tetapi suaranya tertahan di kerongkongan.
“Aku sangat ingin membuatmu pergi menemaninya. Hanya saja, aku tidak ingin mengakhiri permainan ini dengan cepat!”
Darion berjalan mendekati Julian, kemudian berjongkok di sampingnya dan melanjutkan ucapannya. “Aku akan membuatmu meminta sendiri kematianmu!”
Dia mengangkat salah satu sudut bibirnya sambil menoleh. Rasa puas kembali hadir, ketika manik mata kecoklatan itu menangkap ekspresi Julian. Wajah takut, bercampur dengan rasa sakit akibat darah mengucur yang tidak bisa ia tahan dengan tangannya.
Sangat puas, tetapi tidak sampai membuatnya melepaskan Julian atau bahkan mengakhiri hidup pria muda itu dengan cepat. Seperti harimau buas yang masih ingin bermain dengan buruannya, sambil memakan sedikit demi sedikit dagingnya.
Darion bangkit berdiri setelah melihat ekspresi wajah Julian. Lalu menyuruh anak buahnya untuk membawa mereka ke ruangan yang sudah dia siapkan.
“Jangan lupa untuk memberikan jamuan terbaik pada tamu kita.”
Beberapa orang yang sejak tadi mengamati, langsung bergerak setelah Darion memberi perintah. Satu orang terlihat menyeret paksa tangan Ana yang masih berusaha memberontak dan protes pada Darion.
Sedangkan dua orang lainnya, langsung menarik tangan Julian dan memaksanya berjalan. Tidak peduli apakah pria itu merasa sakit atau tidak, mereka sungguh-sungguh tidak peduli. Julian pun hanya bisa menggigit bibir bawah sambil berjalan pincang.
__ADS_1
Darion berjalan keluar dari ruangan. Satu tangannya terlihat merogoh saku, mengambil sebatang rokok. Namun dia terlihat kesulitan saat mencari pemantik, yang entah tertinggal atau memang dia tidak membawanya.
Pada akhirnya, Darin hanya bisa menghela napas kasar dan mengumpat.
“Ah, sial!”
Namun tangan seseorang terulur dari balik ambang pintu. Tangan yang terulur itu, memegang sebuah pemantik dengan ukiran kartu AS. Darion yang melihatnya langsung tersenyum, teringat akan hadiah yang dia berikan pada Aaron.
Pria itu lantas menoleh usai keluar dari gudang. Tatapannya langsung terpacu pada sosok Aaron yang bersandar sambil menekuk satu kakinya. Dia benar-benar tidak menyangka, jika kakak angkatnya itu masih berada di sana.
“Aku berpikir kau sudah kembali,” ucap Darion mengambil pemantik, lalu menyalakan sebatang rokok.
Darion mendengus, merasa jika itu hanya sebuah alasan klasik. Pekerjaan yang membuat pria itu dituntut untuk bisa terkena debu, bagaimana bisa dia percaya?
“Apa rencanamu selanjutnya?” tanya Aaron.
“Aku tidak merasa tertipu sejak awal, tapi pria tua itu yang banyak mengalami kerugian. Selain itu, mereka juga sudah membuat kekasihku berakhir dengan menyedihkan.”
Darion mengangkat kepalanya, memandang langit malam di kota Campbelltown yang bertabur bintang. Terlihat sangat amat indah, menurutnya. Pikirannya larut untuk sesaat, membayangkan wajah Zea yang sedang tersenyum menatapnya dengan lembut.
__ADS_1
“Bantuan apa lagi yang kau butuhkan?”
“Gudang ini milikku. Mereka yang berjaga disini juga orang lokal. Tidak perlu cemas, mereka tidak akan kabur. Tapi ….”
Darion sekonyong-konyong menoleh, menatap wajah sang kakak yang sudah terlihat keriput.
“Ini tentang masalah mereka disana. Juga tentang persidangan,” lanjut Darion.
“Apa yang kau cemaskan? Kau hanya perlu mengeluarkan sedikit uang untuk menyewa pengganti. Masalah persidangan, aku bisa mengatasinya dengan mudah.”
Dua sudut bibir Drion terangkat. Seulas senyum puas bercampur dengan rasa lega, terukir dengan jelas di wajah pria itu. Satu masalah, berhasil diatasi. Kini, dia hanya perlu fokus untuk menyiksa dan membuat mereka meminta kematiannya sendiri.
Dering ponsel tiba-tiba membuat fokus Darion teralihkan sesaat. Dia buru-buru merogoh saku, melihat panggilan berasal dari Drax, ia langsung menjawabnya tanpa menunggu lama.
“Tuan, Anda harus segera kembali secepatnya.”
Suara Drax terdengar gusar, membuat rasa penasaran Darion terusik. “Apa ada masalah?” tanyanya.
“Sangat serius. Lekaslah kembali, Tuan.”
Drax, yang sejak dulu tidak pernah terlihat gusar, untuk pertama kalinya menunjukkannya. Hal itu jelas membuat hati Darion was-was. Masalah apa yang membuat Drax sampai gusar?
__ADS_1
...☆TBC☆ ...