
Croydon, sebuah kota besar yang terletak di selatan London, Inggris. Sebagai pemukiman utama di London Borough of Croydon, kota ini merupakan distrik komersial terbesar di luar London Pusat, dengan distrik perbelanjaan yang luas dan ekonomi malam yang maju.
Gedung-gedung menjulang tinggi masih dapat ditemui disini. Tidak hanya itu, bahkan rumah-rumah megah pun tersebar di berbagai sudut kota. Salah satunya rumah besar berwarna putih, dengan halaman luas milik keluarga Walter.
Jarak yang hanya 10 mil ditempuh dari London, hanya dalam waktu 45 menit melalui jalan tol. Waktunya cukup pendek bagi Zea yang belum siap dengan tindakan sang suami.
Dalam perjalanan, mata dengan bulu-bulu lentik itu terus fokus menatap layar ponsel. Dia sangat berharap, bisa mendengarkan suara Darion agar hatinya sedikit lebih tenang. Namun itu hanya harapan, bahkan saat mobil itu sampai di sebuah rumah mewah, Darion juga tak kunjung menghubunginya.
Pria yang sejak tadi mengemudi, turun lebih dulu, lalu membantu Zea membuka pintu. Gadis itu cukup terkejut, hingga tidak bisa berkata apapun, ketika Julian menyambutnya dengan mengulurkan tangan.
Tatapan tajam yang diarahkan pada Zea membuat gadis itu tak berkutik. Hati yang sangat ingin menolak, dengan terpaksa meraih tangan sang suami. Tangan yang tidak pernah ia sentuh, bahkan seujung kukunya pun.
Mereka berjalan masuk, tetapi bukan memasuki rumah, melainkan menuju halaman samping. Tepat dimana lampu-lampu berwarna warm white menyala terang, meja-meja tertata dengan sangat rapi, serta kerumunan orang yang tidak Zea kenali sama sekali.
“Maaf sudah membuat para tamu menunggu. Aku harus pergi ke London untuk menjemput istriku lebih dahulu!”
Perkataan Julian langsung membuat dua mata Zea terbelalak. Gadis itu bahkan reflek menatap Julian yang berdiri di samping sambil menggandeng tangannya.
A-apa yang baru saja pria ini katakan?
Zea diam bergeming dari tempatnya berdiri, melihat semua orang yang ada di sana sedang menatapnya. Itu bukan tatapan tajam seolah menyudutkan Zea, justru tatapan terkejut, sama seperti Zea.
__ADS_1
Tepat pada saat pandangan semua orang tertuju padanya. Julian tiba-tiba melepaskan tangannya. Pria itu berdiri di hadapannya, merogoh saku jas dan mengambil sebuah kotak merah.
Sebuah cincin kuning keemasan, dengan batu permata berwarna biru, diambilnya dari dalam kotak. Julian meraih tangan Zea, kemudian memasangkan cincin itu di jari manis sang istri.
“Selamat ulang tahun, Istriku.”
Siapapun yang melihat moment dan mendengarkan kalimat itu, pasti akan merasa Julian sangat romantis. Benar, semua yang ada di sana pun tercengang dengan sikap romantis Julian. Namun, berbeda halnya dengan Zea.
“A-apa yang Anda lakukan?” bisik Zea dengan suara yang amat lirih.
“Diam dan tersenyumlah!”
Sudah berada dalam situasi canggung dan terlanjur, Zea hanya bisa terus berpura-pura di dalam pesta yang dia sendiri bahkan tidak tahu itu untuk apa. Sampai seorang pelayan membawa kue dengan lilin yang menyala, serta para tamu yang menyanyikan lagu ulang tahun.
Zea jelas mengingat dengan baik, kapan dirinya lahir, dan itu sudah pasti bukan hari ini. Namun tidak mungkin bagi Zea untuk mengacaukan segalanya, atau pria itu tidak akan setuju menceraikannya nanti.
Seorang wanita dengan dress biru datang menghampiri Zea sambil menenteng sebuah paper bag. Tanpa basa-basi, dia langsung memeluk Zea sambil menyerahkan paper bag yang dia bawa.
“Selamat ulang tahun menantuku.” Setiap kata yang dia ucapkan terdengar lembut penuh perhatian. Namun Zea memiliki pandangan lain dengan wanita itu.
Ya, Ana Marion. Wanita yang beberapa hari lalu menjadi topik perbincangannya dengan Darion. Wanita yang membuat Darion terpaksa menikah.
__ADS_1
“Kamu pasti sangat terkejut, sampai tidak bisa berkata-kata,” ucap Ana sedikit meninggikan suaranya.
“I-iya. Ini, sedikit mengejutkan.”
Ana tiba-tiba mendekatkan bibirnya di telinga Zea, lalu secara pelan berbisik. “Tenang saja menantuku, akan ada yang lebih mengejutkan lagi.”
Singkat, tapi sedikit ambigu, hingga bisa membuat Zea menelan salivanya dengan kasar. Tidak heran, jika gadis yang masih berdiri dengan raut wajah terkejut itu sedang memikirkan hal yang lebih mengejutkan lagi.
Ana yang sudah selesai berbicara dengan Zea, lantas berbalik, menatap beberapa orang yang fokus menatap mereka bertiga.
“Kami mohon maaf. Suami dan ayah mertuaku sangat sibuk. Mungkin mereka akan sedikit terlambat hari ini!”
DEGH!
A-apa yang coba mereka lakukan? Mengumumkan pernikahanku dengan Julian?
Tidak, Tuan Hellian tidak boleh melihatku!
...☆TBC☆...
Bab selanjutnya meluncur agak siang ya Guys.
__ADS_1
Semoga badan masih aman 🤭