
Langit London sedikit demi sedikit mulai berubah. Semburan dari sinar mentari yang mulai berubah merah dengan sedikit warna orange keemasan, mulai mengisi sebagian langit.
Beberapa pekerja kantoran sudah mulai mengemasi barang-barang mereka, bersiap kembali ke rumah masing-masing. Sebagian dari mereka juga terlihat sibuk dengan pekerjaan yang masih menumpuk.
Sama halnya dengan mereka yang sibuk. Darion pun juga masih terlihat sibuk memojokkan Zea ke dinding. Takut, jika wanita itu lepas sebelum memberinya jawaban.
Kita hanya bertemu selama beberapa kali. Bagaimana bisa dia mengatakan cinta dengan begitu mudahnya?
Zea terhenyak untuk sejenak. Menatap kedua mata Darion dengan lekat. Jelas, dia melihat adanya kesungguhan disana. Hanya saja, ia seakan enggan untuk mengakui itu.
“Konyol!” ucap Zea tiba-tiba.
Dengan tekad yang begitu kuat untuk menghindar. Zea buru-buru menampik tangan Darion dan berusaha lepas dari pria yang menjadi mertuanya itu.
Melihat mangsanya lepas, sudah pasti dia bertindak. Dengan gesit ia meraih tangan Zea, sekali lagi memojokkannya ke dinding dan mengungkung satu tangannya ke atas.
Belum puas dengan itu. Pria bertubuh besar itu secara cepat meraih bibir Zea dengan bibirnya. Sebuah kecupan berhasil mendarat sempurna. Kecupan yang semakin lama menjadi sebuah ciuman penuh gelora asmara.
Ada suatu magnet dengan daya tarik yang amat luar biasa, yang pada akhirnya membuat Zea tidak bisa melepaskan atau bahkan menolak daya tariknya.
Harum, manis, dan menyenangkan.
Rasa yang pernah Zea coba dua minggu lalu. Rasa yang membuatnya selalu terngiang-ngiang, membuatnya ketagihan seperti nikotin.
Aku bisa gila, aku bisa gila.
Dua mata mereka saling bertemu setelah Darion melepaskan ciumannya. Selama beberapa detik saling memandang tanpa adanya kalimat yang diucapkan keduanya. Sepertinya, tidak ada satu kalimat pun yang bisa mewakili perasaan keduanya.
__ADS_1
“Anda jelas tahu bahwa aku ini menantu Anda. Bagaimana bisa melakukan ini?” Zea yang kembali tersadar akan sebuah ketidakmungkinan, langsung membuang muka ke samping. Seolah tak ingin terpedaya oleh wajah tampan Darion.
Namun bukan Darion namanya jika tidak memaksa. Rasa keegoisan yang tinggi, membuatnya meraih dagu Zea dan memaksa gadis itu menatapnya.
“Bukankah kau juga menyukaiku, Zea?”
“Jangan konyol!”
“Konyol? Kalau begitu, aku akan memastikannya lagi.
Darion bukan pria yang mudah menerima sebuah penolakan. Ah, tidak, tidak. Sepertinya, dia bukan pria yang dengan mudah dibohongi. Sekali lagi, dia melampaui batas yang tidak bisa diperkirakan Zea.
Dia kembali mendaratkan bibirnya, memaksa lidah tak bertulang itu masuk ke dalam mulut Zea. Setelah berhasil menerobos, dia mulai memainkan lidahnya di dalam. Dengan tangan yang meraih tengkuk leher dan menariknya, membuat ciuman keduanya semakin dalam.
Napas hangat yang memburu, rasa kecupan dan permainan lidah yang cukup nakal. Zea tidak lagi bisa menolak, tidak bisa menahan semua hasrat tentang Darion yang bergejolak.
Zea menjatuhkan tas jinjing di lantai. Dengan kesadaran penuh menaruh tangannya di kedua sisi pundak Darion. Satu tangannya terulur, meraih rambut Darion yang terikat rapi dan kemudian mencengkramnya.
“Aku tahu, kau juga menginginkanku!” begitulah yang Darion katakan saat ia sudah mendapat jawaban tak langsung dari Zea.
“Anda membuat saya gila!”
“Tidak! Kita sama-sama normal.”
Zea tertunduk mendengar jawaban Darion. Dia menggigit bibir bawahnya sambil berpikir dengan serius. Akankah tindakannya ini diluar batas? Apa dia menyukainya?
“Hei, dengar!”
Tangan besar milik Darion terulur, meraih dagu Zea dan mengingatnya dengan lembut. Tatapan mata pria itu begitu lembut, sama seperti saat dia menatap Zea dua minggu lalu.
__ADS_1
“Kau wanita dan aku pria. Tidak ada yang salah jika kita saling menyukai. Bukankah begitu?”
Benar. Itu tidak salah jika keduanya tidak ada yang terikat pernikahan. Namun, status keduanya adalah mertua dan menantu. Bagaimana itu tidak salah?
“Kenapa Anda sangat konyol?”
“Kenapa? Karena aku menyukaimu. Itu sudah jelas.”
“Tapi hubungan ini tidak mungkin.”
“Kau memikirkan pernikahan kontrak yang tanpa cinta itu?”
Zea yang diam saja membuat emosi Darion sedikit tersulut. Darion pikir, bagaimana seorang wanita begitu peduli dengan pernikahan kontrak? Jelas-jelas mereka sepakat bahwa tidak masalah jika memiliki kekasih.
“Aku hanya memberinya nama belakang. Bukan berarti aku mengakuinya sebagai anak? Beri aku waktu, aku akan membuktikannya padamu!”
Napas Zea terdengar berat. Dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Darion tentang hubungan dirinya dan Julian.
“Apa kau ada masalah dengan umurku?” tanya Darion saat melihat Zea masih terdiam.
“Tidak! Bukan hal yang seperti itu! Aku tidak masalah dengan—"
Belum sempat Darion mendengar apa yang ingin Zea ucapkan, pria itu sudah lebih dulu memotong pembicaraan.
“Dua bulan. Aku akan memberimu kabar baik, jika ini bukan hubungan terlarang. Bukan hubungan antara mertua dan menantu.
...☆TBC☆...
__ADS_1
Udah neng, nikmatin aja perasaannya. Bentar lagi juga pegatan 🤭
Nih, mumpung di dukung sama readers 🤭