
Mobil SUV putih bertuliskan Range Rover, melaju bebas di jalanan London yang tidak terlalu ramai. Cuaca yang pada saat itu juga terlihat cerah meski suhunya berada di angka 18 derajat, menjadi pengiring perjalanan Darion dan Zea.
Dari kantor Nesh menuju Nine Elms tidak memakan waktu yang lama. Mereka tiba di tempat parkir setelah berkendara selama 30 menit.
Embassy, papan nama yang terpampang di depan gedung 45 lantai itu terlihat mewah. Zea bahkan tidak perlu bertanya lagi, kemana Darion membawanya hanya dengan membaca papan nama apartemen itu.
Salah satu apartemen mewah dengan 80 unit saja di 40 lantai. Serta dua penthouse yang ada di lantai 40 dan 41 dengan kolam renang pribadi.
"Kenapa membawaku kemari?" Zea sempat memandang Darion yang sedang fokus mengemudi.
"Tidak ada alasan khusus. Hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu."
Hanya, katanya? Bagaimana dia bisa mengatakan hal itu, setelah ada seorang wanita yang mengaku istri mendatanginya?
Zea hanya menghela napas kasar, seakan menyesali keputusannya. Ada banyak hal yang ingin dia ketahui, tapi semua itu tertahan di kerongkongan.
"Ayo, turun.”
Tangan Darion terulur, meraih tangan Zea dan membantunya turun dari mobil.
"Kita akan ketahuan jika begini," kata Zea yang baru saja meraih tangan Darion agar memudahkan dia turun dari SUV tinggi itu.
"Kamu khawatir tentangku?" Darion sedikit menggoda Zea.
"Tidak. Aku memikirkan diriku."
Sambil berjalan dan tetap menggandeng tangan Zea, Darion menjawab. "Tidak ada yang tahu statusmu, tapi semua orang tahu statusku."
Ya, lagi-lagi Zea harus menerima keadaan yang sebenarnya lebih memberatkan Darion dari pada dirinya sendiri. Zea seakan lupa, jika pria yang menggandengnya itu lebih terkenal dibandingkan dirinya.
"Yah, Anda benar, Tuan Darion."
"Berhenti bersikap sopan. Aku sudah mengingatkanmu beberapa kali kan?"
Zea sekonyong-konyong menoleh. Memandangi pria dengan rambut panjang yang diikat itu.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana aku harus memanggilmu?"
Darion menundukkan kepalanya sebentar, melihat dua pasang kaki mereka yang berhenti di depan lift sambil berpikir dengan keras.
"Sayang? Emm … aku tidak suka panggilan seperti itu."
"Apa kamu tahu arti nama Don?"
"Don?"
"Dalam mitologi Irlandia, Don adalah dunia."
Dua sudut bibir Darion sekilas terangkat untuk beberapa saat. Ini kali pertama dia merasa senang ketika seseorang memanggilnya dengan sebutan demikian. Terlebih, itu adalah panggilan yang dipilih oleh Zea.
"Jadi, kamu ingin menjadikan ku dunia mu?" tanya Darion dengan rasa percaya diri tinggi.
"Tidak masalah jika begitu. I like it! Mulai sekarang, panggil aku demikian."
Satu sudut bibir Zea terangkat, bersamaan dengan dengus napasnya. Sunggingan senyum sesaat, sebelum pintu lift terbuka dan dia masuk lebih dulu.
Dari lobby, hingga ke lantai 40. Semua perabotan terlihat berbeda, tidak hanya itu, bahkan lantai dan karpetnya pun sudah berbeda jenis.
Lampu koridor yang harganya puluhan ribu poundsterling. Sofa di sudut yang terbuat dari bahan premium. Bunga segar sebagai penghias, yang setiap harinya diganti.
Baru keluar dari lift saja, Zea sudah dibuat tercengang hingga tidak bisa berkomentar. Embassy, memang bukan sembarang apartemen. Konon katanya, harga yang paling rendah saja sudah menyentuh angka 2 juta poundsterling.
Dari depan lift, mereka hanya perlu berjalan beberapa langkah ke depan hingga berdiri tepat di depan sebuah pintu besar.
Begitu masuk, Zea langsung disuguhkan dengan ruang tamu yang cukup besar. Lampu-lampu kristal menggantung di atas terlihat begitu menakjubkan. Wanita itu mulai mengedarkan penglihatannya sambil melangkah ke dalam.
Disudut ruang ada sebuah tangga, di bawahnya ada dapur dengan desain modern yang terlihat rapi dan bersih. Jendela dan pintu dari kaca yang memperlihatkan balkon dengan sofa dan juga kolam renang.
Sungguh, dalam hati dia sangat ingin tinggal ditempat seperti ini. Jauh dari suara berisik kendaraan bermotor, juga sangat tenang.
__ADS_1
“Aku sampai lupa kalau ini sebuah apartemen, bukan rumah!”
“Kamu menyukainya, Baby?” tanya Darion yang sejak tadi mengawasi wajah tercengang Zea.
“Tentu saja!” tegas Zea. “Tempat yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk. Selain itu juga … nyaman.”
“Tinggal saja disini jika suka!”
“Kamu memberikan ini untukku?”
Darion tersenyum mendengar perkataan Zea. Dia tidak lantas menjawabnya, justru berjalan dan mengambil secangkir sampanye.
“Tidak kusangka, kamu materialistis!” ejek Darion sambil menyodorkan gelas sampanye dan langsung diterima Zea.
“Lalu? Kamu ingin kita tinggal bersama?”
“Aku tidak keberatan berbagi setengah ranjangku!”
Zea terkekeh pelan mendengar candaan dari Darion. Namun pria itu tidak menunjukkan tawanya, lantaran kata yang keluar dari mulutnya adalah keseriusan.
“Jangan bercanda, Don. Atau aku akan berkata iya!”
Tanpa aba-aba atau ancang-ancang, Darion dengan cepat meraih pinggang Zea dan menariknya hingga keduanya begitu dekat. Tatapan pria itu begitu nanar, melihat wajah Zea yang terlihat cukup cantik ketika dia tertawa.
“Maka katakan ‘iya’ sekarang! Karena aku tidak pernah bercanda.”
Dua manik mata yang saling bertemu, terpaut selama beberapa detik. Sebelum akhirnya kedua bibir mereka saling menyatu. Menghantarkan rasa manis dari sisa sampanye yang sempat diminum Zea ketika di pesta.
“Kamu sudah membuatku tergila-gila, Zea. Sekarang aku menuntut bentuk tanggung jawabmu!”
...☆TBC☆...
Heemm si Pak Mer, mau tanggung jawab yang kayak gimana nih 😏😏
__ADS_1
Seperti biasa, sajennya jangan sampai tertinggal 💋