
Secangkir kopi dan segelas susu, tersaji di atas meja bersama dua potong sandwich tuna. Sandwich yang baru saja dibuat oleh Darion, terlihat sangat menggoda Zea yang baru selesai mencuci wajahnya.
Tanpa menunggu lama, gadis itu segera duduk, menikmati sarapan bersama Darion. Dua mata gadis itu tak berhenti menatap pria yang sudah mengikat rambut, sedang sibuk dengan sebuah tablet di tangannya.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Zea penasaran, lantaran sudah 3 menit ia menatap Darion, namun pria itu belum juga menyentuh sarapannya.
"Surat ceraimu!" jawabnya singkat.
"Surat cerai? Bukankah kamu bilang besok akan siap?"
Darion sekonyong-konyong meletakkan tablet di atas meja, kemudian menatap Zea sambil berpangku dagu.
"Karena penolakan mu tadi. Aku menjadi sangat antusias untuk segera menyelesaikannya."
Zea yang pada saat itu sedang meneguk susu hangat, tiba-tiba tersedak. Untung saja, itu hanya sedakan kecil yang bisa segera diatasi.
"Jadi, kamu terburu-buru karena alasan itu?"
"Tentu saja!" Darion meraih cangkir kopi, kemudian menyesapnya sedikit.
"Tapi kamu sudah memberiku banyak tanda cinta. Aku sampai harus mencari turtleneck untuk menutupi ini," protes Zea menunjuk kerah panjang yang menutupi ruam cinta peninggalan Darion.
"Bayangkan jika aku harus memakai ini di musim panas. Apa kata orang-orang kantor?"
Zea masih terus protes, tidak terima dengan beberapa ruam yang ditinggalkan Darion di leher jenjangnya. Namun Darion justru mendengar ocehan Zea dengan seulas senyum. Seolah tidak keberatan dengan semua ocehan dan aksi protes Zea.
"Kalau begitu, kamu tidak perlu lagi pergi bekerja? Tinggal saja di rumah," jawab Darion dengan entengnya.
"Di rumah saja? Lalu siapa yang membayar sewa apartemen ini?"
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tinggal disini setelah kita menikah. Juga, tidak perlu bekerja lagi."
Jawaban Darion membuat Zea terdiam. Sorot matanya fokus menatap Darion dengan datar, tanpa ekspresi wajah. Melihat pria itu menikmati secangkir kopi miliknya yang perlahan mulai dingin.
Pikirannya pun terbang, melayang bebas, menjadi sebuah jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan yang sempat terlintas. Mengorek keinginan dalam hati kecilnya, tentang hubungan yang dia inginkan.
...Aku sangat ingin, sangat ingin menikahinya. Hidup bersamanya, menikmati sarapan setiap hari dengannya. Hanya saja … apa itu semua bisa terjadi?...
Alih-alih terus berpikir jawaban. Zea memilih untuk menyimpannya sementara ini dan tetap fokus mengurus perceraiannya dengan Julian.
Zea perlahan berdiri sambil membawa gelas dan piring yang sudah kosong. Kemudian menaruhnya di wastafel dan mengambil tas.
"Ada kunci duplikat di atas meja. Setelah selesai makan, jangan lupa untuk menutup pintu."
Zea berjalan hendak meninggalkan rumah, tetapi Darion mencekal tangannya dengan cepat. "Aku akan mengantarmu!"
Perkataan Zea memang ada benarnya. Semua akan kacau jika publik sampai tahu dan mengorek semua tentang dirinya. Kali ini, Darion harus bersabar lagi.
"Oke. Beri aku ciuman dulu!" pinta Don dengan manja.
Seulas senyum tergambar jelas di wajah Zea. Sikap manja Darion yang terkadang di tunjukan padanya, berhasil membuat ia merasa senang.
Beberapa kecupan ia torehkan, di kening dan kedua pipi Darion. Yah, hanya begitu saja. Hingga pada akhirnya membuat pria itu kesal. Darion pun kembali menarik tubuh Zea, kemudian mempertemukan kedua bibir mereka.
"Pakai mantelmu meski di luar sudah reda. Jangan lupa dengan payungnya." Pesan Darion sebelum Zea meninggalkannya.
Hela napas pria itu terdengar jelas usai melihat sang menantu menutup pintu. Dia bahkan masih berdiri di depan pintu, menyesali keputusannya karena membiarkan Zea pergi.
Sambil berkacak pinggang, ia mengusap sisa kenikmatan yang tertinggal di bibir. Merasakan hormon oksitosinnya mulai bekerja kembali, membuat gairahnya tiba-tiba terbangun.
__ADS_1
"Damn ****! Dia selalu bisa membuatku bergairah hanya dengan ciuman saja!"
Hujan telah berhenti setengah jam yang lalu. Namun meski begitu, kabut masih menyelimuti kota London. Beberapa bus tidak beroperasi lantaran menghindari kecelakaan. Mau tidak mau, Zea terpaksa menggunakan taxi untuk pergi ke kantor.
Jalanan tidak terlalu ramai. Mungkin karena himbauan untuk tidak keluar rumah sampai kabut menipis. Namun meski begitu, taxi yang ia naiki masih harus berjalan dengan pelan.
Tidak ada hal aneh yang terjadi saat ia turun dari taxi. Supir terlihat ramah saat memberikan uang kembalian. Namun, suasana sedikit berubah ketika ia masuk ke dalam kantor.
Semua mata tertuju padanya. Mengamatinya sesaat lalu membuang muka. Bahkan tidak sedikit yang langsung menjadikan bahan pembicaraan.
Keanehan rekan kerjanya juga bukan hal yang tidak Zea sadari. Dia bahkan sempat melihat pakaian yang ia kenakan. Pakaian yang menurutnya biasa saja.
"Zea? Oh My God! Kenapa kamu tidak menjawab panggilan dariku?" Salah satu rekan langsung menanyai dirinya tanpa basa basi.
"Kamu bahkan tidak menerima panggilan dari manajer."
Mendengar itu, Zea kemudian merogoh saku mantelnya, mengambil ponsel. Dilihatnya ada 15 panggilan tidak terjawab, salah satunya dari sang manajer.
Diingat-ingat, Zea memang sengaja menyalakan mode silent. Lantaran Darion terus menelfonnya saat ia baru saja menaiki taksi.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang mendesak?" Zea sedikit penasaran, karena manajer tidak pernah menghubunginya sampai sebanyak itu.
Rekan tim bernama Angel itu langsung mengeluarkan ponsel. Memberitahu sebuah berita yang sedang ramai diperbincangkan dalam 20 menit terakhir. Berita yang membuat Zea terbelalak lebar.
...☆TBC☆...
Jangan lupa Like, vote dan hadiahnya 😊
__ADS_1