Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Pria Tua


__ADS_3

Hari berlalu terasa sedikit lambat bagi Zea. Wanita yang hanya berdiam diri di dalam apartemen dengan satu kamar, tanpa bisa keluar menikmati hiruk pikuk jalanan. Tanpa adanya aktivitas yang bisa membuatnya sibuk.


Bosan, tentu saja. Terlebih lagi, Darion tidak pernah datang berkunjung dan menemaninya. Pernah sekali waktu, itu sehari setelah Zea membubuhkan tanda tangannya di atas surat cerai.


Darion datang di larut malam. Menerobos kamar yang tidak di kunci, kemudian mengecup kening Zea yang sedang tertidur pulas. Yah, itu hanya kecupan sesaat, sebelum akhirnya dia pergi. Namun sebelum beranjak, Zea memanggilnya.


“Don?”


Darion menoleh, menatap Zea yang berusaha membuka mata. Dia jelas tahu, wanita yang berbaring di atas ranjang sedang mencoba menahan rasa kantuknya.


“Aku hanya mampir, tidurlah!” ucap pria itu lembut. Lalu duduk di tepi ranjang dan membelai ubun-ubun Zea.


Meski mata Zea masih buram, serta keadaan kamar yang gelap, dengan lampu tidur yang memang sengaja dibiarkan menyala. Dia bisa melihat garis serta lingkaran hitam di mata Darion.


Perlahan ia mengulurkan tangan, menyentuh bawah mata Darion dengan ibu jarinya. Usapan lembutnya tiba-tiba membuat Darion merasa nyaman dan mengantuk. Namun dia mencoba untuk menahan rasa kantuk yang datang tanpa diundang.


“Berapa hari?” tanya Zea.


“Apa?”


Darion sebenarnya tahu arah pembicaraan sang kekasih. Namun, entah mengapa ia pura-pura tidak tahu dan berlagak bodoh di hadapan Zea.


“Berapa hari kamu tidak tidur?”


“Hanya hari ini.”

__ADS_1


Darion yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuk, tiba-tiba menyandarkan keningnya di pundak Zea yang sedang duduk sambil menyandarkan punggungnya di bantal.


“Jangan bergerak dan bertanya apapun lagi. Biarkan aku menutup mata 5 menit saja.”


Rasa kantuk yang hadir tanpa permisi, pada akhirnya berhasil membuat Darion terlelap setelah begadang selama 3 hari penuh. Mata yang beberapa hari ini fokus dengan skandal dan juga perebutan kursi di perusahaan Hellian juga Nesh, sudah menutup dengan sempurna.


Zea sendiri seakan mengerti. Dia tetap diam di posisinya, tidak bergerak atau bahkan berbicara. Namun tiba-tiba ia meraih ponsel yang teronggok di sampingnya. Kemudian memotret posisi tidur Darion secara diam-diam.


Dua sudutnya terangkat ketika ia melihat hasil jepretan kamera diam-diam. Pria yang terlihat angkuh penuh kharisma, pendiri dari Nesh, bersandar di pundaknya lalu tertidur dengan lelap. Entah mengapa, Zea pikir itu lucu dan menggemaskan.


Namun, Darion yang tadi terlihat terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba meraih ponsel Zea. Ia menggerakkan kepalanya ke kanan, kemudian mengambil foto sekali lagi bersama dengan Zea yang terkejut.


“Wajah harus terlihat ketika kamu mengambil gambar!” ucap Daron sambil membuang ponsel Zea ke atas kasur.


“Aku ingin memakanmu, Baby. Melahapmu bulat-bulat meski tanpa menu pembuka,” ucap Darion dengan lirih.


“Kalau begitu, lakukan!”


Keinginan yang sering mendapat penolakan dari Zea, tiba-tiba mendapatkan persetujuan. Namun darion bukannya langsung membungkus wanita itu di dalam selimut, tetapi ia malah tersenyum dan menundukkan kepala.


“Apa itu karena kamu sudah menandatangani surat cerai, atau karena kau juga menginginkan itu?” Darion berniat menggoda Zea sedikit.


“Mungkin karena surat cerai, mungkin juga alasan yang kedua.”


Darion menegakkan kepala, kemudian menatap mata Zea yang terlihat santai. Padahal dia baru saja mengatakan sesuatu yang membuat gairahnya semakin bangkit.

__ADS_1


“Kalau begitu, kamu harus menahannya beberapa hari lagi.” Darion bangkit dari duduknya, membetulkan jas, lalu tersenyum usai mengatakan hal itu.


Zea sendiri hanya diam, tidak memberi respon. Dengan wajah datar menatap Darion, ia bersedekap tangan.


“Aku harus pergi. Segeralah kembali tidur!”


Darion menorehkan kecupan lagi di kening Zea, sebelum akhirnya pergi begitu saja. Entah mengapa, sikap Darion sedikit membuat Zea kesal dan kecewa. Setelah melihat Darion pergi, Zea langsung meluapkan kekesalannya.


Bantal putih tak bersalah itu dilempar ke arah pintu sambil mengumpat, “Pria tua, sialan!” Lalu ia menarik selimut, berbaring dan mencoba menutup matanya kembali.


Yah, seperti itulah kenangan yang coba Zea ingat beberapa hari lalu. Setelah itu, Pria Tua yang mendapatkan umpatan darinya, tidak pernah datang berkunjung. Bahkan panggilan atau pesan darinya juga tidak ada.


Namun, Zea sudah bisa memastikan apa yang pria itu kerjakan, ketika namanya lenyap di berbagai sosial media. Skandalnya sudah benar-benar tenggelam dan diganti dengan topik hangat yang lain.


Entah itu karena Darion atau keberuntungan. Namun dia tetap bersyukur karena hal itu sudah lenyap. Bahkan umpatan tentang dirinya tidak ditemukan lagi.


“Thank you, Don. Thank you so much!”


...☆TBC☆...


Tau kan neng, kalau nanggung itu gak enak. Kebayang seberapa keras bang Don nahan itu pas kamu tolak 😏😏😏


Sajennya jangan lupa guys.


Jempolnya juga loh ya.

__ADS_1


__ADS_2