
Darion terlihat berdiri menatap langit biru cerah dengan sedikit gumpalan awan. Matanya lurus ke depan, menatap gedung-gedung yang sama tingginya dengan Nesh. Ekspresi wajahnya datar, namun keningnya sedikit mengerut.
Rapat antara dirinya dan beberapa investor baru saja berakhir dengan panas. Entah mengapa, semua orang masih membahas skandal tentang dirinya dan sang menantu. Merasa jika itu akan menurunkan pendapatan.
"Perusahaan mana yang tidak membutuhkan Nesh?"
Perkataan sombong dan angkuhnya membuat para investor geram. Banyak dari mereka yang protes dan mencacinya. Namun kehadiran Drax yang membawa setumpuk berkas, langsung membuat mereka semua tutup mulut.
Setumpuk dokumen yang Drax bawa tadi berisi tentang kerjasama dengan beberapa perusahaan internasional. Bahkan 5 di antaranya masuk dalam daftar Forbes dengan anak perusahaan terbanyak, juga berpenghasilan ratusan juta dolar.
Kenyataan bahwa Nesh masih cukup diminati, meski adanya skandal pribadi, mau tidak mau harus merek terima. Juga, tentang kinerja Darion sebagai presdir yang berhasil mengenalkan Nesh.
Langkah kaki yang terbentuk dari pertemuan sepatu dengan lantai, tiba-tiba terdengar setelah pintu terbuka. Rupanya, Drax datang untuk menyampaikan beberapa informasi.
"Saya sudah menemukannya. Tuan William dan Tuan Robert diam-diam bertemu dengannya di bawah jembatan dekat Noxtron."
Darion masih membelakangi Drax, pandangannya masih lurus ke depan seperti awal. Namun indra pendengarannya menerima dengan baik hal yang disampaikan Drax.
"Hanya saja …." Drax tiba-tiba menjadi ragu untuk menyampaikan berita yang dia dapatkan.
"Lanjutkan!" pinta Darion tegas.
"Nyonya Nelson. Saya melihatnya makan malam dengan ayah Anda dua hari lalu."
Nama yang disebutkan Drax membuat Darion terkejut. "Nelson?" ucapnya sambil menoleh ke belakang.
"Benar. Makan malam mereka tidak berlangsung lama, hanya setengah jam. Bahkan tuan tidak menghabiskan hidangan utama."
"Baiklah, lupakan orang tua itu. Apa kamu mendengar percakapan mereka?"
Darion masih penasaran tentang pembahasan antara sang ayah dengan sahabat baik sang ibu. Nyonya Nelson, istri dari Nelson Oliver. Selain memiliki saham di Nesh, wanita itu juga mantan model yang masih cukup terkenal.
"Mereka sedikit membahas Nyonya Besar. Hanya saja, Nyonya Nelson seperti tidak menanggapi tuan."
Mendengar sang ayah diabaikan, hati Darion yang semula kesal berubah dengan cepat. Dia bahkan tertawa lebar, membayangkan wajah kesal sang ayah.
__ADS_1
"Pantas saja, pria tua itu tidak menghabiskan makanannya, rupanya begitu." Darion masih berusaha menahan tawanya.
"Lalu, bagaimana dengan hal itu? Saya belum berhasil menemukannya." Drax mencoba mengingatkan Darion tentang perintahnya sebulan lalu.
Pria dengan kemeja hitam itu mengambil napas panjang, lalu berbalik menatap Drax. Senyumnya hilang dan wajahnya kembali datar tanpa ekspresi.
"Jadi itu alasanmu memberiku kabar tentang Pria Tua itu lebih dulu?"
"Maaf, Presdir."
Darion masih menatap Drax beberapa detik setelah Tangan Kanannya itu meminta maaf karena menahan kabar penting. Namun meski begitu Darion harus mengakui kepekaan Drax terhadap suasana hatinya.
Yah, berkat hal itu, dia bisa berpikir jernih untuk menyusun langkah selanjutnya.
"Yah, itu memang susah. Dia menyembunyikan anaknya dengan baik," ucap Darion yang kemudian berjalan mendekati Drax.
"Kalau tidak bisa bertemu anaknya, cari ibunya!" Darion menepuk pundak Drax, lalu menaikkan sedikit bibirnya, sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan ruangan.
Drax pun mengangguk, meski tidak dilihat oleh tuannya. "Anda masih terlihat garang saat tersenyum sinis."
Hingga akhirnya, dua sudut bibirnya terangkat ketika dia mendapat sebuah panggilan.
"Aku bosan, aku ingin keluar!"
Suara seorang wanita terdengar jelas di telinga Darion. Suara yang tak asing, suara yang selalu ia rindukan selama hampir satu minggu ini.
"Kamu ingin apa?"
"Tidak ada, hanya ingin menghirup udara dan berjalan-jalan di taman sebentar."
Darion terlihat memijat kening, memikirkan rasa bosan yang dirasakan Zea. Dia sendiri juga tidak bisa menolak, bagaimanapun, tetap di rumah selama seminggu penuh memang hal yang menjengkelkan.
"Tunggu 10 menit. Setelah itu keluarlah dengan topi dan masker," ucap Darion ketika dia menemukan cara untuk melindungi Zea.
"Kamu datang?"
"Tidak. Salah satu anak buah Drax akan menjagamu."
__ADS_1
"Tidak mau!" seru Zea menolak. "Aku tidak mau di ikuti."
Hela napas Darion semakin berat lagi. "Baiklah. Biarkan dia melihat dan menjagamu dari jauh."
"Tapi aku sudah berada di–" suara Zea tiba-tiba terhenti sedikit lebih lama.
"Zea? Ada apa denganmu?"
Beberapa detik dia tidak mendapat respon, membuat hatinya sedikit panik. Dia melihat layar ponsel, memastikan panggilan mereka masih tersambung.
"Zea! Jawab aku, Zea!"
Darion semakin panik. Dia yang pada awalnya ingin pergi ke rooftop, tiba-tiba membatalkan niat. Dengan cepat menekan tombol 10 di lift, sambil terus memanggil nama Darion.
"Zea! Please, jawab aku!"
Begitu tiba di lantai sepuluh, Darion keluar dari Lift dan berteriak lantang memanggil Drax.
"Lacak nomor ponsel ini segera. Segera kirim orang di lokasi terdekat padanya!"
"Ba-baik!" jawab Drax sedikit terkejut melihat tuannya panik seperti itu.
Setelah menyuruh Drax, Darion buru-buru pergi ke basement sambil terus mencoba memanggil nama Zea. Berharap wanita itu memberikan jawaban. Hingga saat ia membuka pintu mobil, suara gemerisik terdengar lebih dulu, kemudian disusul suara serak Zea yang terdengar lemah.
"D‐o‐n …."
...☆TBC☆...
Jeng Jeng Jeng ....
Sajen sajen, jangan lupa sajennya.
Hari ini cukup ya, besok lanjut lagi.
Mau lanjutin kecupannya bang Elder, apakah dilanjut?
__ADS_1