
Bau disinfektan terasa menyengat begitu Zea melangkahkan kakinya masuk ke dalam usai Albert membuka pintu. Ruangannya begitu terang, dengan beberapa alat medis canggih di sekitar brankar.
Zea mengedarkan manik matanya untuk sesaat, sampai manik mata kecoklatan itu berhenti pada Hellian. Melihat pria itu terbaring di atas brankar, membuat kakinya melangkah maju.
"Bagaimana keadaan Ayah? Apa masih sakit?"
Suara lembut Zea membuat mata Hellian terbuka perlahan. Dia menoleh ke samping, melihat sesosok gadis sedang berdiri dengan raut wajah cemas yang tidak bisa ditutupi oleh apapun.
"Aku dengar, kau yang menemukanku?"
Zea hanya tersenyum tipis. Bukan senyum bahagia atau merasa tersanjung, lantaran ia tahu Hellian tidak akan mengucapkan 'terima kasih'.
"Kenapa kau datang? Harusnya, biarkan saja aku mati!" lanjut Hellian.
Perkataannya terdengar kasar, tetapi tidak membuat Zea tersinggung sedikit pun. Senyum tipis gadis itu juga masih terlihat jelas di wajahnya.
"Aku punya kewajiban untuk menyelamatkan Anda, demi kebahagiaan orang yang aku sayangi," ucap Zea pada Hellian.
Jawaban Zea jelas membuat dua mata Hellian membelalak penuh. Ada gurat ekspresi terkejut dan kebingungan yang bercampur menjadi satu, tergambar jelas di wajahnya.
"Untuk apa? Dia juga tidak akan menangisiku! Sama seperti dia kehilangan ibunya."
"Apa Anda tahu, Ayah. Dari kedua orang tuanya, dia sangat menyayangi ibunya, juga sangat menghormati ayahnya."
"Apa Anda tahu? Setiap hari dia mencemaskan keadaan ayahnya. Apakah ayahnya makan dengan baik, tidur dengan nyenyak? Atau, apakah sang ayah masih merindukan ibunya?"
__ADS_1
Zea menatap lurus ke depan, melihat tembok bercat putih dengan pandangan nanar. Beberapa guratan memory kembali tercecer. Dia mengingat bagaimana keadaan Darion selepas ibunya meninggal.
"Dia, yang terlihat egois dan acuh tak acuh, tetapi setiap malam selalu duduk menyendiri di tengah kegelapan. Memikirkan sang ayah yang mungkin merindukan ibunya. Memikirkan bagaimana jika dia juga kehilangan sang ayah."
Zea mengalihkan manik matanya, menatap Hellian yang diam hanya membisu. Sepertinya, kenyataan yang diucapkan Zea mampu menembus hatinya yang beku.
"Ayah, rindu dengan seseorang itu menyiksa. Tapi kehilangan orang yang disayangi juga sama. Jadi, tetaplah hidup, bertahanlah, untuk anak Anda, untuk anak angkat Anda, untuk Paman Sam, untuk Dokter Albert, untuk mereka yang menyayangi Anda."
Suasana menjadi hening tatkala Zea selesai bicara. Tidak ada respon dari Hellian, perkataan panjang dari Zea juga tidak dipotong olehnya.
Sikap arogansi dan keras kepalanya seakan lenyap dalam sekejap. Meski pria itu tidak memandang Zea, tetapi Zea tahu, Hellian mendengarkan semua ocehannya dengan baik.
"Kalau begitu, saya undur diri. Semoga operasi Anda berjalan dengan lancar … Tuan Hellian."
Zea berbalik, lalu melangkah pergi meninggalkan Hellian. Namun sebelum dia mendekati ambang pintu, suara serak dari Hellian terdengar dan membuat langkah kakinya terhenti.
DEGH!
Denyut jantung Zea terhenti beberapa saat, sebelum akhirnya berdetak sedikit keras. Dia pun menoleh, menatap Hellian untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah.
"Mondar mandir berdua tanpa status. Cih, aku tidak suka ada gosip di keluarga Walter. Segera urus itu dan jadilah menantu yang baik!"
Jantung, hati, bahkan seluruh tubuh Zea, seperti mendapatkan suatu serangan mendadak. Rasa haru, bahagia, bercampur menjadi satu.
Perasaan yang pada akhirnya membuat seulas senyum terukir di wajah cantiknya. Bersamaan dengan bulir air mata kebahagiaan yang menetes.
__ADS_1
"Iya, kami akan membawa surat itu. Jadi pastikan Ayah berjuang untuk terus hidup!" ucap Zea, sebelum akhirnya ia pergi meninggalkan Hellian yang akan segera memasuki ruang operasi.
Kedua mata Zea masih basah ketika ia keluar. Hal itu jelas membuat Darion yang sudah cemas, menjadi semakin cemas saat melihat Zea keluar sambil menyeka matanya.
Darion berlari mendekati Zea, lalu memegang kedua lengan gadis itu. Dengan panik, dia bertanya, "Apa yang terjadi? Dia menyakitimu?"
Zea hanya menggeleng. Entah mengapa, ketika ia menatap wajah Darion, rasa harusnya semakin menjadi. Air mata yang sempat ia seka, kembali menetes dengan deras.
"Hey, Baby! What happen?"
Zea menepis tangan Darion yang memegang tangannya, lalu menggantikannya dengan sebuah pelukan. Pelukan erat dengan deraian air mata kebahagiaan.
Sebuah izin yang sudah ditunggu sejak lama, akhirnya dia dapatkan juga. Hatinya tentu saja sangat bahagia.
"Beritahu aku, apa yang dikatakan ayah padamu!" pinta Darion masih dirundung rasa penasaran.
"Finally, Don! Finally!" ucap Zea sedikit lantang sambil terus memeluk Darion.
"Apa? Ada apa?"
"Ayah … dia ingin melihat surat nikah kita!"
...☆TBC☆...
__ADS_1
Ada yang kebayang ekspresi wajah Don gak?
Sajennya jangan lupa disebar 💋💋