
Darion berjalan dengan kaki panjangnya. Melangkah dengan raut wajah masam bak disiram air cuka, membuat siapa pun tidak berani menatap atau bahkan meliriknya.
Siapa yang baru saja menyinggungnya?
Pasti seperti itu hal yang dipikirkan para staf, ketika aura Darion yang baru saja lewat terasa begitu suram.
"Cari dan bawa bukti yang konkrit tentangnya secepat mungkin! Bawa juga kontrak pernikahan mereka!"
Perintah Darion sudah turun, Drax hanya bisa mematuhinya. Mencari dan membawa bukti yang selama ini tidak dipedulikan Darion.
Namun kenapa dia baru peduli sekarang? Mungkinkah lantaran Julian sudah berani meminta jabatan di kantor pusat? Atau karena seorang wanita?
Amarah Darion dua hari lalu, nyatanya tidak membuat Julian gentar. Pria itu tanpa ragu memintanya langsung pada sang kakek. Hingga pada akhirnya, membuat pria tua berusia 70 tahun bernama Hellian memanggil Julian ke rumah.
Hellian sedang duduk sambil bermain catur pada saat Darion datang berkunjung. Rambut pendek berwarna putih, tangan yang sudah berkeriput, mata yang sudah tidak bisa fokus tanpa bantuan kacamata.
Namun meski begitu, pria tua itu masih terlihat sehat bugar. Wibawa kepemimpinannya bahkan masih terasa begitu pekat meski ia tidak lagi menjabat menjadi Jenderal.
"Aku dengar, ada posisi kepala manager yabg bagus. Memasukkan anak ke sana!"
Tanpa basa basi, bahkan menanyakan kabar putra satu-satunya. Hellian justru langsung menyampaikan maksudnya memanggil Darion. Bahkan dia mengatakan itu saat putranya masih belum duduk.
__ADS_1
Darion hanya mendesis sambil tersenyum ketika ayahnya meminta itu. Dia bahkan terlihat santai meski Hellian sudah meminta hal yang tidak Darion setuju secara langsung.
"Jadi dia meminta itu padamu?" tanya Darion mencoba memperjelas. Namun Hellian tidak menjawab, dia justru kembali fokus pada permainannya.
"Kemarin sudah ku perjelas. Ayah sudah tidak punya wewenang apapun di sana," lanjut meneruskan kalimatnya tanpa kenal takut.
Seketika, sebuah gelas melayang dan jatuh tepat di hadapannya. Gelas tebal berisi minuman keras itu pecah berserakan. Isi dan juga serpihannya bahkan sempat mengenai kaki Darion yang hanya mengenakan celana pendek.
"Dia itu anakmu! Sampai kapan kau tidak mengakuinya?" teriak Hellian tersulut amarah.
Namun bukanlah Darion jika langsung gentar. Penerus nama Walter bukanlah pria yang mudah takut tentang apapun. Begitu juga Darion yang tidak takut dengan amukan Hellian.
"Anak? Bukankah itu terlalu konyol?" Darion bangkit berdiri, menyingkap rambutnya yang tergerai dari depan ke belakang dengan tangan kirinya.
Perkataan Darion lagi-lagi membuat amarah Hellian mencuat, terutama saat dia membahas perihal sang istri yang meninggalkan dirinya.
Darion masih tidak peduli dengan urat-urat leher Hellian yang meregang. Bahkan, dengan santai melemparkan amplop coklat ke atas meja yang ada di hadapan Hellian.
"Aku bukan sepertimu, Ayah. Aku bukan pria yang menebar benihnya pada sembarang orang!"
Setelah mengatakan itu, Darion berbalik dan bersiap pergi. Namun sebelum benar-benar keluar dari rumah, ia menyampaikan pesan.
"Ayah bisa menyelidikinya jika mau. Tapi ingat, jangan pernah cari ibu lagi saat mengetahui kebenarannya!"
__ADS_1
Darion akhirnya melangkah keluar dengan senyum puas yang mengembang. Akhirnya, kerja kerasnya selama dua hari ini bisa membuahkan hasil. Meski belum sepenuhnya, setidaknya dia sudah menemukan titik terang.
"Surat kontraknya sudah saya dapatkan. Apa Anda ingin membeberkannya sekarang?" tanya Drax saat menyambut Darion yang baru saja keluar dari rumah utama.
"Tidak sekarang. Aku harus memastikan sesuatu nanti."
Mentari perlahan mulai condong ke barat. Ketika Darion yang baru saja sampai di rumah dan langsung mengganti bajunya. Tidak lupa, dia juga mengoles obat pada kakinya yang terluka akibat terkena serpihan gelas.
Tidak butuh waktu lama, dirinya telah siap dengan baju formal. Jas hitam berpadu dengan kemeja putih, membuat pria itu terlihat macho, terutama saat ia membiarkan dua kancing kemeja atasnya terbuka.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam ketika dia masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Drax.
"Dia sudah datang?" tanya Darion sesaat setelah ia masuk ke dalam.
"Ya, Tuan. Dia datang bersama putri kedua Tuan Jason."
"Ternyata murahannya sama seperti ibunya. Tidak heran, kalau dia mau melakukan apapun demi bisa masuk ke kantor pusat. Bahkan mengkhianati istri sendiri di hadapan publik."
Darion menoleh, menatap langit malam dari kaca mobil yang sedang melaju. Lalu secara tiba-tiba menarik seulas senyum, seperti sedang memikirkan hal yang bahagia.
...☆TBC☆...
__ADS_1