Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Bidak Catur


__ADS_3

Beberapa jam sebelum acara, tepat setelah Darion menghubungi Zea. Drax rupanya sudah mengorek semua informasi tentang Julian. Pada saat itu, Drax mendatangi Julian untuk melaporkan sesuatu.


"Benar, Julian menyiapkan pesta nanti malam. Ini adalah tamu yang dia undang." Drax menyerahkan sebuah daftar nama yang sebelumnya didapat dari mata-mata suruhannya.


Mata Darion terfokus untuk sesaat, mengamati beberapa nama yang memang sudah berada di kubu sebelah. Setelah puas membaca, ia melemparnya ke atas meja. Lalu duduk bersandar sambil mengetuk-ketuk meja dengan jari telunjuk.


"Martin, Liana, Shan, dan Arrow. Hubungi mereka semua, beritahu bahwa aku membutuhkan mereka." Perintah Darion pada Drax.


Hal itulah yang membuat Darion dengan tenang datang ke acara pesta secara tiba-tiba. Dia bahkan sangat percaya diri ketika mengajak Hellian, karena yakin, sang ayah sudah mengetahui kebenaran yang terjadi.


Namun Zea justru menganggap dirinya adalah umpan yang disiapkan Darion.



"Bohong jika aku berkata tidak tahu. Hanya saja, aku baru mengetahui itu setelah menghubungimu!" Darion menjelaskan sambil berjalan mengikuti Zea yang tiba-tiba meninggalkan dirinya.


"Aku tidak mau mendengarkanmu. Berhenti berbicara dan pulanglah!"


Dengan buru-buru ia membuka pintu, kemudian masuk kedalam dan berusaha menutup pintu secepat mungkin. Namun Darion mencegah pintu itu tertutup. Dia mengganjal dengan kakinya, lalu mendorongnya sedikit agar ia dapat masuk ke dalam.


"Tidak! Aku ingin disini!" seru Darion yang sudah masuk ke dalam, lalu segera menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.


Dia bahkan melepas kunci dan mengantonginya. Supaya Zea tidak bisa membuka pintu dan menendangnya keluar. Sungguh, cara yang cerdas dan kekanak-kanakan.

__ADS_1


Zea menatap pria di hadapannya itu dengan tajam. Persetan apapun yang mau Darion lakukan, pikirnya. Lalu dia pergi meninggalkan Darion dan masuk ke kamar mandi.


Darion hanya bisa menghela napas panjang sambil menunduk, sebelum akhirnya berjalan ke dapur membuatkan beberapa makanan. Dia yakin, gadis keras kepala itu pasti belum makan apapun sejak tadi.


Zea duduk diatas closet, memikirkan beberapa hal tentang dirinya dan Darion. Memikirkan hubungan kacau yang dimiliki pendiri Nesh dengan istri dan Julian.


Pertemuan di Monaco yang kebetulan, kenikmatan satu malam yang memang terasa luar biasa. Kerja sama dan wawancara Nesh dengan NNC.


Apa semua itu rencana Darion?


Semerbak aroma masakan tersebar di seluruh ruang. Tidak aneh jika aroma gurih nan menggoda itu berhasil mampir di indra penciuman Zea, hingga membuatnya keluar dari dalam kamar mandi.


Namun Zea yang seakan-akan tidak peduli lebih memilih untuk merebahkan tubuhnya di ranjang dan menarik selimut. Darion yang melihat itu, menatap dengan ekspresi tak suka.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Zea dengan lantang.


"Bangun dan makanlah!" Darion mencoba berkata lembut, meski kesabarannya sudah mencapai ujung.


"Tidak!" tolak Zea memalingkan wajahnya dengan cepat.


Darion semakin tidak sabar, terutama ketika perut Zea mulai protes dan terdengar jelas di telinganya. Dengan kesal, dia meraih tangan gadis itu, kemudian membopongnya.


"Turun! Don, turunkan aku!"

__ADS_1


Pria yang sudah melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya, bersikap tidak peduli. Dia terus berjalan, lalu menaruh tubuh Zea di atas kursi.


"Tidak masalah jika kamu marah padaku. Tapi setidaknya, perhatikan tubuhmu!"


Setelah mengatakan itu, Darion berjalan untuk mengambil jas yang teronggok di sofa. Kemudian, mendatangi Zea lagi dan mengecup ubun-ubun kepalanya.


"Makanlah dengan baik!"


Darion melangkah meninggalkan Zea yang tertunduk memandangi makan malam yang terlihat lezat dan masih panas. Pikirannya kacau untuk sesaat, dia sangat ingin menanyakan hal yang mengganggu pikirannya.


Zea yang tidak bisa menahannya lagi, akhirnya memberanikan diri untuk mengeluarkan hal yang mengganggunya.


"Apa aku ini bidak catur mu?"


Pertanyaan itu membuat Darion yang hendak membuka pintu, terdiam sejenak. Dia tidak langsung memberi Zea sebuah jawaban atau respon. Selama beberapa detik, suasana menjadi hening tanpa suara.


"Kamu menganggapnya begitu, Zea?"


...☆TBC☆...


Yuhu, hari senin jangan lupa Vote


Bab selanjutnya segera meluncur 😘😘

__ADS_1


__ADS_2