
Darion terhenyak sesaat. Tangan yadi tadi memegang lengan Zea, tiba-tiba mengendur sesaat. Sebelum akhirnya kedua tangan itu mendorong tubuh Zea agar ia bisa terlepas dari dekapan wanita itu.
Wajah Darion terlihat datar, pandangannya lurus ke depan. Dengan tatapan kosong, ia berbalik, lalu berjalan meninggalkan Zea begitu saja.
Zea tentu saja bertanya-tanya dalam hati. Apakah Darion tidak menyukai kabar yang ia dapatkan?
Bukankah selama ini dia selalu meminta pernikahan? Namun, Zea lebih suka menunggu Hellian memberikan restu terlebih dulu.
Ada apa?
Kenapa ekspresinya seperti tidak senang?
"Don … ada apa?"
Zea bertanya sambil berjalan mengikuti langkah kaki Darion. Namun Darion tidak memberi respon apapun. Pria itu seakan tidak peduli dan terus berjalan ke arah tangga darurat.
"Don, katakan sesuatu! Kamu tidak senang dengan hal itu?" tanya Zea sekali lagi.
Darion masih diam membisu dan terus berjalan menaiki tangga. Hingga akhirnya ia keluar dari pintu dan berdiri di rooftop rumah sakit. Sesampainya disana, barulah ia menghentikan langkah kakinya.
Angin sepoi-sepoi langsung berhembus, terasa begitu menusuk sumsum tulang Zea yang kebetulan hanya memakai baju tipis. Namun meski begitu, dia masih tetap berada di sana untuk menuntut jawaban dari Darion.
Dari tempatnya berdiri, Zea bisa melihat pria itu merogoh saku, mengambil sebuah ponsel dan terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Kau ada dimana?" tanya Darion.
Melihat Darion berbicara, Zea hanya menatap punggung pria dengan mantel coklat itu. Dia tidak berani bertanya lagi atau bahkan mendekat, hanya berdiri mematung di tempatnya.
"Bawakan berkas yang ada di laci baris kedua sebelah kiri. Bawa kesini sesegera mungkin."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Darion mengakhiri panggilan. Dia lantas berbalik, menatap wajah Zea yang kebingungan. Hanya sesaat, sebelum akhirnya dia berlari menghampiri Zea.
Tanpa basa basi, tanpa aba-aba atau ancang-ancang. Kedua tangannya meraih pipi Zea, lalu mendekatkan bibirnya dengan cepat.
Ciuman hangat nan lembut yang secara tiba-tiba menyapa, membuat kedua mata Zea terbelalak. Dia sangat ingin melepaskan kecupan manja Darion dan bertanya. Namun pria itu tidak ingin melepaskan pagutan bibir mereka.
Angin sepoi-sepoi yang tadi sempat menusuk tulang, seakan lenyap tanpa jejak. Berganti dengan hawa panas yang dihantarkan langsung oleh Darion secara spontan.
Panas yang perlahan menjalar, dirasakan keduanya saat dua lidah tak bertulang mereka saling beradu. Hembusan napas keduanya yang saling bertabrakan di udara, tetapi dapat dirasa oleh mereka.
Hormon oksitosin Darion sepertinya telah menjalar dan tersebar dengan cepat. Membuat tangannya liar dan lepas kendali.
Dengan perlahan ia melangkah ke depan, memberikan dorongan pada tubuh Zea. Hingga gadis itu melangkah mundur ke belakang dan tubuhnya dihentikan oleh tembok.
Salah satu tangan Darion mulai menjelajah, lalu disusul bibir yang baru saja melepas pagutannya. Bibir sedikit tebal itu turun ke area leher, menyessap dan meninggalkan beberapa ruam. Bersamaan dengan tangan kanan yang menggerayang di punggung Zea.
Darion melepaskan sesapannya, lalu menatap wajah Zea yang terlihat sedikit kesal.
"Ini adalah hukuman untukmu, karena sudah membuatku khawatir!"
"Hukuman?"
Zea yang merasa dipermainkan, langsung menarik kerah mantel Darion agar pria itu bisa lebih dekat lagi. Lalu, tanpa aba-aba, menggigit bibir bawah pria yang dirasa sangat menyebalkan itu.
"Ini, juga hukuman untukmu!"
Bukannya marah, Darion justru menaikkan dua sudut bibirnya sambil mengusap sisa saliva di bibir dengan ibu jarinya.
"Oke. Kita impas!" balas Darion sambil menatap tajam.
__ADS_1
Zea yang masih merasa kesal, terlihat mendorong tubuh Darion agar dia memiliki ruang. Lalu, ia berjalan pergi, masuk kembali ke dalam gedung, lantaran udara di atas terasa sangat menusuk.
"Siapa yang kamu hubungi tadi?" tanya Zea pada Darion yang mengikutinya turun.
"Drax. Kamu tidak mendengar suaranya?"
"Mana aku bisa dengar? Kamu tidak tahu berapa langkah jarak kita?" keluh Zea sedikit terdengar ketus.
"Apa yang kamu minta darinya? Ini sudah malam, kenapa suka sekali menyusahkan orang?"
Zea masih terus protes. Mungkin, rasa kesal masih membelenggu hatinya setelah Darion mencoba mempermainkan dirinya dengan sikapnya tadi.
Namun sebenarnya, siapa yang salah sejak awal? Zea yang keluar dengan menangis dan membuat Darion khawatir? Atau justru Darion yang menyembunyikan ekspresi bahagianya?
Siapapun itu, satu hal yang pasti adalah 'wanita selalu berada di posisi yang benar'.
"Sesuatu. Bukankah Ayah ingin melihat surat pernikahan kita setelah sadar?" jawab Darion yang kemudian meraih tangan Zea dan menggenggamnya erat.
Zea langsung menoleh, menatap wajah Darion yang terlihat tenang tanpa beban. Namun, Zea sendiri justru merasa heran.
Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Jika yang dimaksud Darion adalah surat nikah, bagaimana dia bisa mendapatkannya di jam segini?
...☆TBC☆...
Minta sajen lagi yok bang Don.
Sampe surat nikah kalian terbit 🤣🤣
__ADS_1