
Pria berambut hitam dengan beberapa uban putih berjalan mendekat dengan tongkat besinya. Kehadiran sosok itu jelas tidak membuat Zea menjadi lebih tenang. Dia bahkan menarik mundur kakinya beberapa langkah.
"Tu-Tuan Hellian?"
Amarah yang semula membumbung tinggi, mendadak redup. Berganti dengan rasa takut yang cukup membuat tangan dan tubuhnya gemetar.
"Apa yang membuatmu marah?" tanya Hellian sambil terus berjalan ke arah sofa, di ikuti oleh Drax di belakangnya.
"Fo-foto." Zea berusaha menjawab, mencari jawaban yang membuatnya gusar.
"Anda jelas tahu seperti apa hubungan saya dengan Julian. Tapi kenapa ada foto dengan wajah kami terpampang di sana?"
Hellian menoleh, menatap wajah Zea yang terlihat bingung, bercampur dengan emosi yang meluap-luap.
"Kenapa? Kau perlu sebuah alibi ketika hubungan asmara terlarang mu terungkap." Hellian menyipitkan mata, menatap Zea lebih dalam lagi.
"Dari sekian banyak pria di London, bahkan di dunia, kenapa kau justru menargetkan mertuamu sendiri?"
DEGH!
Zea yang semula yakin dan menganggap Hellian memiliki rasa curiga yang sama terhadap Julian, kini melebur. Perkataan Hellian membuat Zea berpikir, jika pria tua itu masih mengakui Julian sebagai cucunya.
Lantas, perlakuannya kemari memiliki tujuan apa?
"Sekarang tidak hanya Darion yang harus menghadapi kemelut para direksi. Perusahaanku pun terkena imbas. Kau pikir, akan semudah itu? Bercerai, lalu menikahi mantan ayah mertuamu?" Hellian bangkit berdiri dari kursinya, dengan sorot mata yang tetap tertuju pada Zea.
"Menurutmu, bagaimana publik akan berkomentar?"
__ADS_1
Benar, seperti itulah yang ditakutkan Zea pada awalnya. Dia berusaha menghindari Darion sebisa mungkin. Tetap bersikap profesional meski mereka terlibat bisnis berdua.
Namun, pesona Darion membuatnya menggila. Perhatian yang tidak pernah ia rasanya, cinta dan kasih sayang yang tulus yang tidak pernah ia dapat, membuatnya merasa bahagia.
Mencoba melawan ketidakberuntungan. Melawan hubungan terlarang antara Menantu dan Mertua dengan alasan jika suaminya bukanlah anak kandung. Akan tetapi, bagaimana tentang pendapat publik?
"Tinggal disini dan jangan membuat kekacauan. Drax akan mengirim kebutuhan yang kau perlukan setiap hari!"
Hellian melangkah pergi bersama Drax, meninggalkan Zea yang tertunduk, lalu menjatuhkan tubuh yang sudah lemas ke lantai.
Bulir bening menetes dari sudut mata, perlahan, tetapi lama kelamaan menjadi semakin deras. Rasa sesak tiba-tiba menyapa, mengusik relung hati yang telah rapuh untuk kedua kalinya.
Ini adalah kenyataan. Sebuah realita yang tidak bisa ia hindari. Mencintai ayah mertua sendiri adalah perasaan yang salah. Salah, lantaran ia terus membiarkan rasa itu berkutat dan berakar.
Waktu terus berjalan, entah sudah berapa jam terlewat sejak Hellian pergi dan menghancurkan setengah semangat hidupnya.
Zea masih duduk, tetapi posisinya berpindah. Ia teronggok di dekat jendela, menekuk kakinya dan menyandarkan kepala ke dinding. Pandangannya lurus ke depan, menatap tirai putih bersih yang menggantung.
Kesendirian menjadi keinginannya untuk sekarang. Merenung dan memikirkan langkah selanjutnya dengan sebaik mungkin. Termasuk, hidup dan menetap di luar negri.
Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar. Namun tidak membuat Zea bergeming dari posisinya. Setidaknya beberapa kali ketukannya terdengar, sampai seseorang menerobos masuk.
"Zea,"
Suara samar yang tak asing terdengar menyapa indra pendengarannya. Akan tetapi, Zea masih tidak peduli. Sampai sebuah tangan yang amat dingin meraih kedua pipi gadis itu.
__ADS_1
"Syukurlah kau baik-baik saja!"
Rambut hitam sedikit kemerahan, terurai bebas dan terlihat basah. Kemeja putih tipis yang dia kenakan pun, juga basah. Zea menatap pria di hadapannya, melihat seluruh tubuh pria itu basah kuyup.
"Kenapa kau basah?"
Itu adalah kalimat pertama yang Zea ucapkan setelah beberapa jam melamun di bawa jendela.
"Tidak ada. Jangan dipikirkan!"
Zea hanya menatap nanar, mencoba untuk tidak lagi peduli pada semua hal yang menyangkut tentang sang mertua. Namun saat melihat pria itu berjongkok di hadapannya dengan sekujur tubuh yang basah, ia kembali mengendorkan niatnya.
"Pergilah basuh dirimu dengab air hangat. Lalu ganti bajumu!" ucap Zea terdengar sedikit ketus.
"Aku tidak tahu seluk beluk rumah ini. Jadi cari saja kain yang bisa menutupi tubuhmu. Atau … hubungi saja pria itu."
Darion yang mendengarnya hanya bisa menarik dua sudut bibir dengan getir. Dia bisa memahami, perasaan Zea saat ini dan memaklumi semuanya.
Darion mengangguk, kemudian bangkit berdiri dan meninggalkan Zea di posisi semula untuk berganti baju. Tidak sampai 10 menit, ia kembali dan mengulurkan tangannya pada Zea.
Dari posisinya duduk, Zea bisa melihat dua kaki yang sudah kering berdiri di depannya. Ia pun lantas mendongak, menatap Darion yang memakai kaos putih dan celana pendek.
"Dari mana kau mendapatkan itu?" tanya Zea penasaran.
"Semua yang ada di dalam Walk in closet itu, adalah milikku dan sebagian lagi, milikmu!"
...☆TBC☆...
__ADS_1
Yuhuuuuuuu, jangan lupa jempol di tekan sebelum ganti bab.
Jangan lupa juga, Vote dan hadiahnya. 😘😘