
Zea duduk termenung melihat pintu yang baru saja ditutup oleh Julian. Tatapannya kosong, menatap jauh hingga kehilangan titik fokus. Namun, pikirannya tidak kosong. Ada banyak sekali pertanyaan yang terngiang, tetapi dia tidak bisa menemukan jawabannya meski hanya sebuah tebakan.
Dering ponsel yang terdengar nyaring, membuyarkan segala lamunan. Ia buru-buru mengambil ponsel di saku mantelnya. Setelah dilihat, itu sebuah panggilan tanpa nama.
“Ha-“ belum sempat Zea melengkapi perkataannya, suara berat dari seorang pria memotongnya.
“Kenapa lama sekali menjawabnya?”
Suara berat yang terdengar familiar. Memburu dan terdengar tidak sabar. Tanpa bertanya, Zea sudah bisa menebaknya.
“Don?”
“Kenapa pria bajingan itu menemuimu?”
Dari mana dia tahu?
Ah … dia pendiri Nesh, orang kaya yang bisa melakukan apapun.
“Dia suamiku, Don!”
“Jangan mengujiku, Baby! Aku bisa saja nekat menciummu di hadapannya!”
Zea mendengus kesal mendengar ancaman Darion. Pria itu, memang bisa melakukan hal apapun. Mungkin, termasuk mencium menantunya di hadapan putranya sendiri.
“Dia tidak melakukan hal aneh padaku,, Don. Tidak perlu khawatir.” Zea mencoba menenangkan Darion yang terdengar mengkhawatirkan dirinya. Meski Zea sendiri khawatir dengan dirinya sendiri.
“Bagus jika begitu!” jawab Darion sedikit lega. “Ada hal apa sampai bajingan kecil itu menemuimu?”
Pertanyaan Darion sekilas membuat Zea bertanya-tanya. Dia sendiri memang merasa ada hal aneh akan sikap Julian yang tiba-tiba menyuruhnya bersiap. Sialnya, Zea tidak punya kesempatan untuk bertanya pada Julian tentang hal itu.
__ADS_1
“Dia menyuruhku bersiap nanti malam,” jawab Zea sambil memikirkan kemana sang suami akan membawanya.
“Apa ada pertemuan yang dia miliki?”
Darion terdiam sejenak, memikirkan agenda yang mungkin akan dihadiri oleh Julian. Namun sejauh yang dia ingat, harusnya malam ini hanya ada makan malam keluarga yang dilakukan setiap bulannya.
“Haruskah aku menghindar, Don?” tanya Zea menunggu respon dari Darion.
“Tidak perlu. Kamu bisa mengikutinya. Aku akan mengawasi dari jauh jika dia berusaha mencelakai atau menyudutkanmu!”
Perkataan Darion membuat Zea sedikit menghela napas lega. Meski begitu, dia tidak serta merta mengendurkan kewaspadaan ketika berhadapan dengan Julian nanti.
Panggilan pun berakhir usai Darion menyakinkan Zea untuk tidak perlu mengkhawatirkan hal tentang dirinya dan Julian. Lantaran dia akan menjamin semuanya agar rencananya bisa berjalan mulus.
Mentari perlahan mulai condong ke arah barat. Cahaya temaram mulai meninggalkan ufuk timur dan kembali menyinari belahan bumi yang lain. Zea baru selesai mandi ketika pintu apartemennya diketuk.
Untuk beberapa saat, Zea menjadi sedikit ragu. Jelas-jelas Darion sudah mengatakan akan menjaganya. Namun entah mengapa, mendengar pintu diketuk, hatinya bimbang.
Dia bahkan berdiri sedikit lama di depan pintu. Berusaha meyakinkan hatinya agar tidak terlalu bimbang dan percaya pada Darion. Sampai ….
“Permisi, saya membawa paket untuk Anda!”
Teriakan dari luar terdengar sangat jelas, membuat Zea menghela napas lega. Setidaknya, itu bukan Julian, dia bahkan berharap yang menjemputnya nanti bukan sang suami.
Kotak besar berwarna hitam sudah ia terima. Tidak ada nama yang tertulis disana, hanya ada kata ‘Dunia’ yang terselip di nota penerimaan barang. Tidak perlu ditebak, sudah pasti itu dari Darion.
Sebuah dress berwarna putih polos tanpa motif atau manik-manik, tetapi justru terlihat elegan dan cantik, tertata rapi di dalam kotak. Tidak lupa juga terdapat kotak dari beludru berwarna hitam yang berisi sebuah kalung.
__ADS_1
Entah, berapa harga semua itu. Namun Zea yang mengerti barang-barang berkualitas, bisa memperkirakan jika harganya mencapai ratusan ribu poundsterling.
Dasar pria boros!
Tidak lama setelah Zea memakai gaun yang ada di dalam kotak, sebuah panggilan tanpa nama kembali mampir. Tanpa banyak berpikir, gadis itu langsung menjawabnya dengan sumringah.
“Ya, halo.” Nada tak sabar dan bahagianya terdengar dengan jelas. Tentu saja, dia sudah ingin mendengar suara Darion dan mengucapkan terima kasih.
“Turun dalam 5 menit.”
Senyum bagai bunga mawar yang baru saja merekah, tiba-tiba layu dalam hitungan detik. Suara yang baru saja dia dengar, bukan berasal dari Darion, melainkan Julian, suaminya sendiri.
Kecewa, sudah pasti. Dia sangat berharap pria itu menghubunginya, dia bahkan menyiapkan kata-kata untuk menggoda Darion. Namun, semua pupus dalam sekejap.
“Baik!” jawab Zea yang sudah tidak lagi bersemangat.
Setelah mengakhiri panggilan singkat itu, Zea terlihat meraih lipstik lalu memolesnya, sebelum akhirnya keluar dari apartemen. Hela napas terdengar berhembus beberapa kali, saat berjalan di koridor atau bahkan di lift.
Begitu dia sampai di depan pintu masuk. Sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depannya. Zea masih diam di tempat, sampai seorang pria turun dan menyapanya.
“Silakan masuk, Nona,” ucapnya sopan sambil membuka pintu.
Diedarkannya manik mata kecoklatan itu ke dalam mobil. Memastikan apakah Julian yang menjemputnya. Setelah melihat kursi yang kosong, barulah ia masuk ke dalam.
“Kemana Anda membawa saya?” tanya Zea ketika pria itu duduk lalu menurunkan tuas rem.
“Anda akan tahu nanti.”
...☆TBC☆...
__ADS_1
Hari ini 1 bab dulu ye gaes. Lagi kurang enak badan, butuh banyak sajen 🥲