
Hati Zea perlahan menjadi tenang dan terkendali. Kemelut hatinya perlahan memudar. Entah karena perkataan Darion, atau justru pelukan pria itu yang menenangkan.
"Bagaimana dengan foto itu? Kenapa ada wajah pria itu?"
"Kamu tidak suka?"
"Tidak! Aku benci harus menatapnya."
Tangan kanan Darion terangkat, menyentuh ubun-ubun kepala Zea. Kemudian, mengusapnya beberapa kali dengan lembut.
"Kita butuh tameng, Baby. Percayalah padaku, sebentar lagi semua akan selesai dan kita akan hidup bahagia berdua."
"Kenapa kamu begitu percaya diri?"
Darion menaikkan dua sudut bibirnya. Sorot matanya berubah, memincing tajam menatap ke arah luar walk in closet. Seakan baru saja berhasil mendapatkan sasaran mangsanya.
"Tinggalah disini beberapa hari. Aku akan menyelesaikannya dalam beberapa minggu." Darion mencoba membuat Zea yakin padanya sekali lagi.
"Bagaimana dengan perceraiannya?"
"Besok Drax akan meminta sendiri tanda tangannya. Kamu tetap di rumah dan jangan pergi kemana pun."
Zea hanya menghela napas kasar, kemudian mengangguk. Dalam hati berharap masalahnya akan selesai satu persatu tanpa membebani pikirannya.
Yah, meski pada akhirnya dia harus mundur sebagai presenter dan resign dari NNC, lantaran skandal yang muncul.
"Baiklah. Aku akan menghubungi manajer untuk meminta cuti panjang," ucap Zea dengan nada yang mulai terdengar lebih santai. Sepertinya, dia berhasil mengatasi emosi yang sempat meluap.
"Berhentilah bekerja," pinta Darion.
__ADS_1
Zea melepaskan pelukan Darion, kemudian berbalik dan melangkah pergi. "Kamu berkata seakan-akan itu mudah, Don."
"Jadi asistenku kalau begitu. Kebetulan, aku membutuhkan asisten untuk membantu pekerjaanku." Darion berjalan mengikuti Zea, keluar dari walk in closet.
Zea berdecak, menganggap perkataan Darion hanya omong kosong belaka, agar dia bisa resign dari pekerjaannya. Namun meski begitu, Zea juga sempat berpikir, bahwa NNC tidak akan menerimanya lagi setelah ini.
"Apa kamu berpikir aku bercanda? Kamu hanya perlu duduk dan melihat berkas kerjasama yang masuk. Bahkan itu bisa dilakukan di rumah." Darion masih berusaha merayu Zea agar dia berhenti dari NNC.
Dia bahkan terus mengekor, mengikuti Zea kemanapun dia melangkah. Termasuk, saat Zea menjelajahi dapur, membuka rak rak dan lemari pendingin.
"Aku akan membayarmu lima ribu … tidak, tidak. Sepuluh, sepuluh ribu poundsterling setiap bulannya."
Tiba-tiba tangan Zea berhenti bergerak. Sorot matanya lurus ke depan, memandang buah-buahan segar yang tertata rapi di lemari pendingin. Lalu, ia berbalik, menatap Darion yang sejak tadi mengikutinya.
"Sepuluh ribu untuk gaji asisten kecil?" ucap Zea heran.
"Benar. Apa itu terlalu sedikit? Kalau begitu, bagaimana dengan lima belas ribu?"
"Siapa yang mengurus gaji di Nesh? Emm … itu termasuk Drax," tanya Zea penasaran.
"HRD. Mereka mengurus semuanya."
Zea menepuk pundak Darion, sambil menyuruhnya menghubungi kepala HRD. "Hubungi kepala HRD! Tanyakan, berapa gaji untuk asisten kecil dan berapa gaji untuk Drax. Jika sesuai, maka aku akan setuju."
Kemudian Zea berbalik, mengambil apel segar dan pergi melewati Darion yang sempat tertegun. Melihat Zea pergi dan memilih duduk di sofa. Ia lantas merogoh saku, mengambil ponsel dan menghubungi kepala HRD.
"Ya, Presdir. Ada yang bisa saya bantu?"
"Berapa gaji seorang asisten? Juga, gaji Drax?"
__ADS_1
Dalam beberapa detik, Darion tidak mendengar respon. Mungkin, kepala HRD sedang heran dan bertanya-tanya tentang maksud dari sang presdir.
"Cepat katakan! Kenapa kau lama sekali!" bentak Darion kesal lantaran di abaikan.
"Ma-maaf Presdir. Sa-saya baru saja mengeceknya," balas seorang pria dengan suara serak, khas pria paruh baya.
"Untuk asisten kecil, biasanya kami menawarkan tiga hingga empat ribu. Sedangkan untuk Tuan Drax, kami memberinya delapan ribu."
"Oke!"
Singkat dan padat. Darion kemudian mengakhiri panggilan telepon sambil menatap kepala Zea yang terlihat ketika gadis itu duduk di sofa. Dia berjalan mendekat, kemudian menyandarkan tangannya di atas sandaran sofa, dengan tubuh yang sedikit membungkuk.
"Empat ribu per bulan. Aku rasa itu layak."
Dua sudut bibir Zea terangkat. Seakan memunjukkan ekspresi puasnya. Lalu ia menoleh, membuat kedua wajah mereka berhadapan.
Masih di hari yang sama, ketika skandal itu tersebar. Mike terlihat duduk sambil melipat tangannya. Matanya memincing, bersamaan dengan dahi yang berkerut.
"Tidak ada bagusnya jika NNC terus melindungi staf yang terlibat skandal. Terlebih lagi, sekarang hal itu menjadi bahan pembicaraan."
Suara berat seorang pria terdengar mengusik telinga Mike. Selama ini, para stafnya memang tidak ada yang pernah terlibat skandal dengan artis maupun pengusaha. Namun kali ini, guncangan itu baru saja terjadi.
"NNC masih bisa mencari presenter yang lain. Bahkan aku bisa merekomendasikan itu," lanjut pria itu lagi.
"Namun, jika nama NNC hancur. Kemungkinan akan susah lagi untuk bisa bangkit."
Perkataan yang terucap dari bibir pria itu membuat Mike semakin gusar. Dia bahkan tidak menutupi ekspresi gundah di wajahnya.
__ADS_1
Pria paruh baya yang sejak tadi duduk, tiba-tiba berdiri. "Si tua ini tidak akan berkata banyak lagi, karena yakin, Tuan Mike tidak akan merugikan investor."
...☆TBC☆...