
Tanpa disadari, gadis yang semula hanya berpura-pura untuk tidur, nyatanya justru terlelap. Sangat lelap, bahkan ketika Darion memindahkannya di ranjang ekstra pun, ia tidak terbangun.
Mentari perlahan naik ke atas. Sinarnya mencoba masuk, hendak mengganggu waktu tidur Zea. Namun Darion begitu sigap, ia buru-buru menutup tirai yang sedikit tersingkap.
"Kau sangat menyayanginya."
Suara berat, tapi sedikit lirih, terdengar mengusik indra pendengarannya. Membuat pria yang baru saja menutup tirai itu menoleh ke sumber suara.
Dari tempatnya berdiri, Darion bisa melihat mata sang ayah perlahan mengerjap.
"Seperti itulah." Darion berjalan mendekat, duduk di sebelah ranjang sang Ayah. "Bagaimana, apa sudah lebih baik?"
"Terasa sesak," jawab Hellian sedikit acuh. "Gadis itu, bagaimana dia bisa tidur dengan nyenyak saat aku terbangun? Dia mengingkari janjinya dengan mudah. Cih!"
Darion menoleh, menatap wajah lelah Zea yang sedang terlelap begitu nyenyaknya. "Dia baru saja tidur setelah menunggumu. Memangnya kenapa jika di tidur sebentar? Kau terlihat seperti diktator dengan menantumu sendiri."
Hellian hanya memutar bola matanya, lalu kembali menutup mata. Seolah engan untuk berdebat dengan putranya. Bagaimanapun, pria dengan rambut yang dikuncir itu, pasti akan membela Zea.
"Bagaimana dengan berkasnya?" tanya Hellian sedikit ambigu, tetapi Darion bisa tahu dengan baik, kemana arah pembicaraan sang ayah.
"Drax sudah membawanya ke kantor catatan sipil. Aku juga sudah menghubungi orang di sana. Hari ini, semua akan beres."
"Oh, kau cepat tanggap juga ya?" goda Hellian tanpa menatap wajah sang putra.
"Kenapa? Bukankah Ayah juga begitu pada ibu, dulu?"
__ADS_1
Mendengar Darion menyebut Reyna, mata Hellian langsung membelalak. Rasa sakit akibat anestesi yang perlahan pudar, seolah menghilang tanpa jejak.
"A-apa yang sudah diceritakan ibumu?" Nada bicara Hellian terdengar sedikit panik. Namun hal itu tidak membuat Darion menaruh rasa curiga.
"Oh, Ayah tertarik mendengarnya?" Darion menaikkan salah satu sudut bibirnya sambil bersedekap tangan, seperti sedang menggoda sang ayah.
"Katakan! Apa yang dia ceritakan?" pinta Hellian terdengar serius.
"Hanya sebuah kisah, tentang seorang pria dari anggota angkatan sipil yang jatuh cinta pada seorang gadis. Cinta yang membuat pria itu menentang keluarganya, meninggalkan cita-citanya menjadi seorang angkatan. Lalu, berpindah mengelola bisnis demi bisa menikah dengan gadis pujaannya."
Jawaban Darion membuat bibir Hellian mengatup, kedua mata yang membelalak menatap langit-langit kamar. Juga ingatan dari masa lalu yang perlahan hadir.
"Pria yang tidak pernah mengakui perasaannya dengan terang-terangan. Tapi gadis itu tahu dengan baik, bagaimana perasaan pria itu padanya. Cinta yang disembunyikan karena gengsi, sungguh tidak enak bukan? Pria itu bahkan tidak pernah berhasil mengutarakan semua perasaannya, bahkan sampai istrinya pergi."
Darion melihat kedua mata Hellian yang berlahan memerah. Air terlihat membendung di pelupuk mata pria tua itu. Namun Darion justru acuh tak acuh meski melihatnya.
Suara samar Zea terdengar, membuat Darion menoleh ke samping. Sedangkan Hellian buru-buru mengusap air yang membendung di pelupuk mata.
Darion buru-buru bangkit berdiri ketika melihat Zea berusaha bangun sambil mengusap matanya. Seperti anak kecil yang baru saja terbangun, mencari keberadaan ayahnya.
"Kamu masih terlihat lelah. Ayo pergi ke hotel dan lanjutkan tidurmu!" Ajak Darion mengulurkan tangannya.
"Tapi, ayah bagaimana? Kita harus menunggu dia sadar terlebih dahulu," jawabnya sambil meraih tangan Darion dan bangkit berdiri.
"Ayah? Dia tadi sudah sadar, tapi tertidur lagi." Darion berusaha mendorong tubuh Zea dari belakang agar mau keluar.
__ADS_1
"Sudah sadar? Biarkan aku melihatnya dulu!" Zea berusaha menoleh, tetapi Darion ingin lekas pergi dari sana.
"Dokter sudah melihatnya. Ayah baik-baik saja, keadaannya sudah membaik."
"Tapi, Don! Siapa yang menjaga ayah?"
"Drax sudah dijalan. Di luar juga ada penjaga, ada perawat dan dokter juga. Jangan cepat dan ayo istirahat sebentar!"
Zea tak berkutik. Dorongan dari Darion terlalu kuat untuk ia tahan, hingga pada akhirnya, pria itu berhasil membawa Zea keluar dari ruang rawat inap Hellian. Bahkan, membawanya masuk sampai ke dalam lift.
"Ayah masih membutuhkan kita, Don!" ucap Zea begitu lift pintu lift tertutup.
"Kita juga butuh istirahat, Baby!"
Jawaban Darion tentu ada benarnya. Terlebih, Darion sendiri belum menutup matanya sejak semalam. Sedangkan dirinya sendiri, hanya sempat menutup mata selama beberapa jam saja.
"Baiklah, kita istirahat sebentar!"
Darion mengangkat dua sudut bibirnya. Namun percayalah, itu bukan senyuman puas lantaran Zea setuju dengan ajakannya. Melainkan sebuah senyuman licik karena berhasil membawa Si Kelinci pergi ke kandang serigala.
...☆TBC☆...
Hayoo bang Don.
__ADS_1
Pasti udah laper banget ya 🤭🤭
Sajen jangan sampai lupa ditebar 💋💋