Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Kemelut Hati Zea


__ADS_3

Tatapan Zea berubah nanar, menatap Darion dengan ling-lung. Pikirannya kacau setelah mendengar perkataan ambigu yang baru saja dikatakan Darion.


Jelas-jelas ini bukan rumahnya, bukan tempat dimana dia tinggal. Lalu, bagaimana ada baju miliknya di sini?


Zea masih duduk termenung, tak kunjung meraih tangan Darion. Sampai akhirnya, pria itu menarik paksa tangannya agar dia bangkit berdiri. Namun terlalu lama duduk membuat kakinya kebas.


Dia sempat terhuyung, tetapi Darion dengan cepat menangkap tubuhnya. Lalu membopongnya tanpa berkata apapun.


"Kamu memang sangat suka digendong seperti ini!" Darion mencoba menggoda Zea yang masih diam seribu bahasa.


Zea membuang muka, seakan enggan menatap dan memperdulikan Darion.


"Katakan yang membuatmu penasaran. Tidak perlu menahannya," terang pria itu sambil menurunkan tubuh Zea ke atas sofa.


Namun, banyaknya pertanyaan di kepala Zea membuatnya bingung. Dia tidak tahu harus memulai dari pertanyaan tentang apa. Sehingga, ia hanya diam sambil menunduk.


"Jauh sebelum aku mendatangimu di Victoria Restaurant. Kamu sudah membuatku tergila-gila." Darion mencoba memulai cerita lebih dulu, berharap bisa memudarkan kecemasan Zea.


"Ya, itu setelah aku kembali dari Monaco," lanjutnya, lalu menatap wajah gadis yang duduk di sampingnya.


"Aku jatuh cinta, sampai terdorong ambisi untuk memiliki. Mengambil fotomu, lalu menggabungkannya dengan fotoku, dan menaruhnya di sana!" Darion menunjuk ke arah pigura, dimana seorang pria dan wanita berdiri dengan baju pengantin.


"Mencari baju yang sesuai dengan selera dan ukuran tubuhmu. Lalu menaruhnya bersama bajuku. Kamu tahu ambisiku?"

__ADS_1


Zea kemudian menoleh, menatap Darion tanpa berkata apapun. Pikirannya sudah dipenuhi dengan banyak cerita yang entah itu benar atau tidak, setelah mendengar pernyataan dari Hellian.


"Ambisiku, adalah hidup berdua denganmu!"


Dua bola mata Zea membulat penuh ketika mendengar perkataan Darion. Hal yang baru saja dikatakan pria itu, juga menjadi bagian dari keinginan terdalam.


"Apa yang membuatmu yakin aku akan percaya dengan ucapanmu lagi?"


Tanpa aba-aba, pria bertubuh kekar itu kembali membopong Zea. Membawanya pergi ke Walk in closet yang ada di dekat kamar. Setelah sampai, ia dengan hati-hati menurunkan Zea.



Walk in closet dengan nuansa putih, lampu hias berwarna warm white dan lampu sudut berwarna kekuningan. Dari ambang pintu, sepasang mata milik Zea langsung bisa melihat seluruh ruang.


Zea ternganga melihat koleksi di dalam sana. Bahkan, tanpa sadar kakinya melangkah masuk. Dua bola matanya mengedar, melihat semua barang-barang di sana dengan berbagai merek ternama. Juga, ukuran serta model yang memang sesuai dengan seleranya.


Ada rasa bahagia, tetapi hanya sesaat saja. Ucapan Hellian tiba-tiba membuat rasa kagum dan bahagianya lenyap dalam sesaat. Zea lantas berputar arah, hendak pergi dari sana.


"Untuk apa kamu melakukan ini? Hubungan kita jelas tidak mungkin!"


Darion yang mendengar perkataan optimis Zea, langsung menarik tangan gadis itu. "Mungkin! Aku yang akan membuatnya mungkin!"


Zea yang sudah tidak bisa menahan kemelut di hatinya, dengan cepat menepis tangan Darion. "Jangan konyol! Kenyataan bahwa hubungan kita terlarang, itu sudah tersebar!"

__ADS_1


"Kamu peduli?" Darion mencoba menurunkan emosinya, menekannya hingga ke batas paling dasar.


"Tentu saja! Apa menurutmu ditatap dengan ekspresi jijik itu enak? Apa menurutmu menjadi bahan pembicaraan di depan mata itu nyaman?"


Zea masih meninggikan suaranya. Mengeluarkan segala hal yang membuat perasaan yg kacau beberapa hari ini. Namun Darion masih mencoba berkata dengan lembut, menjawab setiap pertanyaan dari Zea dengan nada rendah.


"Dengar, jika London membicarakan hal ini, kita bisa pergi ke tempat lain. New York, Tokyo, New Zealand. Masih banyak tempat untuk kita bisa tinggal berdua."


Dua pasang mata mereka bertemu. Sepasang mata dengan tatapan penuh kesedihan, sedangkan sepasang lagi penuh dengan keyakinan.


Zea lantas tertunduk, menggigit bibir bawah sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat. Isi di dalam kepalanya sudah kacau dan berantakan. Dia sampai tidak tahu harus memikirkan apa pada saat itu.


Hingga, bulir air matanya tumpah ruah tanpa kendali. Sepertinya, hanya air mata yang bisa menjelaskan seberapa kacaunya dia.


"Tapi ayahmu …." Zea mencoba mengatakan sesuatu, tetapi tertahan untuk beberapa saat.


"Tapi ayahmu benar. Hubungan kita terlarang dan karena itu … karena gosip itu, perusahaan kalian berdua mengalami masalah," lanjut Zea yang masih tertunduk, tidak mau memperlihatkan wajahnya yang kacau.


Hela napas panjang terdengar, sebelum akhirnya pria itu berjalan mendekati Zea. Lalu, tanpa berkata apapun memeluk wanita yang amat ia sayangi dengan lembut.


"Tidak masalah. Semuanya akan teratasi dengan mudah. Percaya padaku, Baby."


...☆TBC☆...

__ADS_1


Jangan lupa sajennya 🥰🥰


__ADS_2