Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Bantuan Tiba-Tiba


__ADS_3

Acara yang diselenggarakan oleh Nesh baru saja berakhir. Beberapa staf dari NNC mulai berpamitan pada staf Nesh, sebelum akhirnya mereka keluar dari ruangan secara bersama-sama.


Zea terlihat berjalan di belakang sendirian. Pikirannya melayang, memikirkan wanita yang memperkenalkan diri sebagai istri Darion. Sorot matanya pun kosong, menatap ke depan tanpa peduli sekitar.


Bahkan ketika dia ditinggal rombongan timnya masuk ke dalam lift, Zea masih acuh tak acuh. Sampai, seseorang menariknya masuk ke dalam lift lain dan segera menutup pintu lift.


“Bagaimana Anda bisa disini?” Zea menatap nanar wajah Darion yang langsung mengungkung tubuhnya.


“Ini perusahanku, kenapa aku tidak bisa ada di sini?”


Benar, memang tidak aneh jika Darion berkeliaran dengan bebas di kantor miliknya sendiri. Justru pertanyaan Zea lah yang terdengar aneh di telinga Darion. Pria itu bahkan dengan mudahnya menebak isi pikiran Zea.


“Tidak perlu memikirkan wanita itu!” ucap Darion menegaskan sorot matanya yang penuh keseriusan.


“Aku tidak pernah mencintainya. Sejak awal hingga sekarang. Percayalah padaku.”


Zea tak bisa menjawab. Dia fokus menatap manik mata kecoklatan dengan bulu-bulu sedikit lebat nan panjang. Dari sana, ia tiba-tiba teringat ketika beberapa staf membicarakan sikap kasar Darion pada wanita yang mengaku sebagai istri.


“Bukankah kau setuju untuk memberikanku waktu?” Darion masih berusaha membujuk Zea yang hanya diam saja sejak tadi. Berahap wanita yang membuatnya jajtuh hati itu percaya padanya.


Namun karena Zea tidak memberikan respon. Darion secara tiba-tiba menyatukan kening dengan sedikit membungkuk.


“Aku akan datang membawa bukti yang nyata. Percayalah!”


Wanita mana yang tidak luluh jika diperlakukan dengan lembut. Bahkan ketika salah, pria itu justru meminta maaf dengan tulus. Meminta untuk mempercayainya dengan wajah memohon penuh belas kasih.

__ADS_1


“Iya, aku percaya.”


Pada akhirnya, itulah kata yang keluar dari bibir Zea. Percaya, adalah pilihan yang dia ambil untuk saat ini. Mengingat statusnya sendiri yang masih belum bercerai dengan Julian.


Seulas senyum sumringah langsung terlihat di wajah Darion. Pria bertubuh kekar itu bahkan mengangkat tubuh Zea dan membawanya keluar dari lift. Zea yang takut diketahui orang-orang pun sempat memberontak ingin diturunkan.


“Ini basement khusus presdir. Tidak ada siapapun yang melihat kita disini!”


Jawaban Darion seketika membuat Zea pasrah dan diam meski Darion terus mengangkat tubuhnya sambil berjalan ke sebuah mobil SUV yang terparkir di samping lift.


“Aku masih harus kembali ke kantor!” ucap Zea ketika Darion menurunkan tubuhnya di atas kap mesin.


“Jangan menghindar. Karena rating tinggi, manajer memberi tim 2 waktu istirahat selama 2 hari.”


“Bagaimana Anda ….” Zea tercengang hingga tidak bisa meneruskan kalimatnya.


“Lantas, Anda mau mengantarku pulang?”


Darion buru-buru menggelengkan kepalanya. Lalu membantu Zea turun, dan segera membantunya membuka pintu.


“Naiklah. Aku akan membawamu pulang!”



Di tempat lain. Seorang pria paruh baya berumur setengah abad, terlihat berjalan sambil membawa sebuah amplop coklat. Dia berjalan dengan santai, lalu memasuki sebuah ruangan. Begitu sampai di dalam, dia langsung melempar amplop itu ke atas meja.

__ADS_1


“Kakek?”


Julian menatap pria bernama Jarvis dengan heran. Pria tua itu adalah adik dari Hellian yang selama ini berada entah dimana. Meski begitu, Jarvis sesekali menghubungi Julian hanya untuk menanyakan kabar.


“Kapan Anda datang, Kek?”


“Tidak perlu mengurusi hal itu. Lihat saja isi dari benda yang aku bawa!”


Mendengar itu, Julian dirundung rasa penasaran yang amat besar. Apa kiranya yang dibawa kakek Jarvis? Apakah itu hal yang menguntungkan?


Julian baru membuka dan mengambil isi di dalamnya. Begitu akan dikeluarkan, beberapa isi di dalamnya berjatuhan di atas meja. Terlihat disana beberapa lembar foto berserakan, memperlihatkan wajah sang istri yang berpelukan dengan ayahnya.


Foto-foto itu membuat Julian naik pitam. Dengan amarah yang menggebu-gebu, dia membuka brankas dan mengambil sebuah pistol dari sana.


“Aku akan membunuhmu wanita ******!” umpatan kesal.


Namun Jarvis menghentikan tindakan gegabah Julian dengan cepat.


“Tidak perlu membunuhnya sekarang. Kamu justru harus memanfaatkan keadaan ini untuk menggulingkan Darion, mengambil alih Nesh dan mewarisi bisnis kakekmu!”


Menurut Julian, perkataan Jarvis memang ada benarnya. Sudah sekian lama dia duduk dan diacuhkan Darion. Kini, sudah waktunya dia mengambil alih semuanya dengan kartu AS yang dia ambil.


“Tapi, kenapa Kakek Jarvis membantuku?”


...☆TBC☆...

__ADS_1


Nahkan khilaf beneran nih 😌


Udah sajennya ditabur lagi. Makin banyak, makin semangat UP-nya 😁


__ADS_2