
"Antar dia pulang dengan selamat. Lalu bantu anakmu untuk segera mengurus perceraiannya!" ucap Hellian sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan.
Ada perasaan lega yang tergambar di mata Zea. Setidaknya, dia berhasil mendapatkan dukungan Hellian untuk menceraikannya. Namun dalam hal lain, dia masih sangat takut serta kecewa akan Darion yang tidak menghentikannya.
"Bereskan kekacauan yang kalian buat!"
Darion segera memapah Zea pergi dari sana. Membawanya memasuki mobil SUV putih, lalu mengantarnya kembali ke rumah.
Ingin rasanya Zea menolak saat itu. Namun malam sudah larut, jarak rumah Julian dan rumahnya cukup jauh. Bus antar kota pun sudah tidak beroperasi, terlebih lagi kereta.
Sepanjang jalan, Zea hanya diam tanpa mengatakan apapun. Ia menyandarkan kepalanya di jendela kaca, menatap langit malam bertabur bintang, tapi terasa amat sunyi.
Namun meski begitu, pandangan matanya justru tak terfokus. Pikirannya pun melayang entah kemana. Zea yang hanya diam tanpa mengatakan apapun membuat Darion cemas.
"Zea …."
Panggilan Darion terdengar amat lembut. Bagai benang sutra yang baru saja ditenun menjadi satu rangkaian kain. Namun nyatanya, panggilan itu tak membuat pandangan Zea teralihkan.
Tanpa bertanya, Darion pun sudah tau, apa yang dirasakan Zea. Gadis itu tentu kecewa karena dia sudah membiarkannya ikut dengan Julian. Bahkan mendapat perlakuan demikian.
Akan tetapi, Darion masih tidak menyerah. Ia meraih tangan Zea, berusaha mengengamnya. Namun gadis itu justru menarik tangannya dari genggaman Darion.
Hela napas pria itu bisa terdengar dengan jelas di telinga Zea. Dia sudah pasti tahu, Darion sedang membujuknya.
Alih-alih terus berusaha, Darion mencoba untuk tetap bersabar. Menunggu hati Zea melunak adalah pilihannya. Namun saat sampai di depan apartemen Zea, kesabaran Darion habis.
"Zea! Zea! Please listen to me!"
Darion berkali-kali memanggil Zea. Dia bahkan turun dari mobil dan mengikutinya hingga masuk ke apartemennya. Mengikuti gadis itu naik melewati tangga dan terus mencoba membujuk gadis itu.
__ADS_1
"Baby, please!"
Zea menukikan telinganya, tidak peduli dengan rengekan Darion. Sampai mereka tiba di lorong lantai ketiga. Darion menarik tangan Zea agar wanita itu bisa berhenti dan mendengarkannya.
Belum sempat Darion memberinya penjelasan, Zea lebih dulu berbicara dengan penuh emosi.
"Berhentilah, Don! Berhentilah!" Emosi yang berusaha di tekan dengan nada rendah, agar para tetangga tidak bisa mendengar pertengkaran mereka.
"Kita tidak bisa lagi, Don! Kita tidak bisa bersama lagi! Mengerti dan segeralah pulang!"
Tanpa banyak berkata, Darion mendorong Zea hingga terhentak di tembok. Lalu tanpa basa basi mengecup bibir gadis yang dengan gampangnya berbicara demikian.
...Ciuman yang semanis madu, napas hangat yang menghantarkan wangi mint. Aku tidak pernah memiliki daya untuk menolaknya. Seberapa keras aku marah dan ingin mengusirnya....
Zea berkali kali memukul dada bidang Darion. Berusaha menolak, tetapi pesona yang dimiliki Darion rupanya sangat memperdaya Zea.
"Sudah merasa tenang?" tanya Darion lembut, yabg pada akhirnya membuat Zea tertunduk.
Suara Zea sedikit bergetar ketika mengatakan hal yang sejak tadi mengganggu pikiran dan perasaannya. Hal yang sejak awal memang menjadi beban pikirannya.
Bulir bening yang berusaha ia tahan, kini menetes tanpa henti. Dia sendiri tidak tahu pasti, hal apa yang membuatnya menangis. Apakah dia benar-benar mencintai Darion hingga takut berpisah dengan pria itu?
Dengan lembut Darion meraih wajah Zea dengan kedua tangannya, lalu mengusap bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya. Kedua pasang mata saling bertemu dan bertatap selama beberapa saat.
“Sekarang aku tahu, seberapa besar rasa cintamu padaku.”
BUGH BUGH BUGH
Sebanyak tiga pukulan dilayangkan Zea di dada bidang Darion tanpa ragu. Tanpa memikirkan rasa sakit yang mungkin akan dirasakan Darion.
__ADS_1
“Kita akan tetap bersama, Baby. Tidak peduli apapun yang terjadi. Bahkan jika semua orang tidak menyukainya, atau pria tua itu tidak mendukung kita.”
“Jangan gila, Don!”
“Bukankah itu akibat dari cinta!”
“Mereka sudah tahu hubungan kita, Don! Jangan memaksaku bertindak lebih jauh lagi.” Zea memalingkan wajahnya, tidak mau lagi menatap wajah Darion.
“Siapa? Para tamu tadi?”
Zea terdiam, memikirkan hal yang akan terjadi setelah ini. Apakah wajahnya akan dimuat di akun gosip atau berita infotainment? Mana yang lebih dulu, baginya tidak penting.
“Jangan khawatir, para tamu tadi adalah orangku.”
Zea langsung menoleh, dengan wajah terkejut ia memastikannya lagi. “Benarkah? Bagaimana kamu bisa ….?”
Zea ternganga, tetapi buru-buru ia tutup dengan kedua tangannya.
“Jadi, kau sudah tahu hal itu?”
Darion hanya diam, kemudian menaikkan satu alisnya. Gerakannya seolah memberi Zea sebuah jawaban, jika Darion memang sudah mengetahui rencana Julian.
Lantas, apakah Zea berperan sebagai umpan?
...☆TBC☆...
Sebelum lanjut, kembang jangan lupa di tabur. Beruntung banget kalau bisa kasih segalon kopi 🤣
__ADS_1
Jempol jangan lupa di angkat juga ya.