
Dua hari telah terlewat sejak malam itu. Malam menegangkan ketika Darion mendapatkan kabar tentang keadaan sang ibu yang sempat memburuk.
Sejak saat itu, dia sering datang ketika waktunya sengang di siang hari. Malam hari pun dia masih menyempatkan datang untuk menyapa dan mengajak ibunya mengobrol.
"Aku punya kekasih yang sangat cantik. Tapi dia tidak seperti Ibu. Sikapnya kadang kekanak-kanakan dan masih belum bisa berpikir dengan bijak."
Darion terus bercerita tentang Zea, sambil memandangi wajah sang ibu yang semakin tua. Benar, wanita di hadapannya itu sudah berumur hampir 70 tahun. Keriput di wajahnya sudah terlihat jelas, tetapi dia masih terlihat elegan penuh karisma.
"Sejak kemarin kau hanya bercerita. Kapan kau akan membawanya?" tanya wanita bernama Reyna.
Darion hanya bisa memberikan senyuman kecut, sebelum akhirnya menjawab dengan santai. "Tunggu Ibu mau mendengar permintaan maaf dari pria itu!"
Darion menaikkan dua bola matanya ke arah pintu. Benar, tepat disana, Hellian berdiri melihat sang istri yang keadaannya sudah lebih baik. Pria itu terus menatap Reyna dari kejauhan, berharap dia bisa berbicara padanya.
Reyna hanya menoleh sesaat, melihat Hellian. Lalu buru-buru mengalihkan pandangan matanya ke tempat semula.
"Kalian berdua sudah sama-sama tua. Ibu pun tahu kalau itu hanyalah kesalahpahaman semata. Dia memang tidak bisa melihat dengan jelas, karena putranya sudah mencoreng harga diri wanita." Darion bangkit berdiri perlahan.
"Tapi dia tidak bisa melihat kenyataannya. Jangan terus membelanya!" Reyna terlihat kesal.
"Karena tidak ada bukti, Ibu. Kenyataan bahwa dia masih sangat mencintaimu sudah tergambar jelas. Dia bahkan merendahkan gengsinya untuk bisa bertemu dengan sahabatmu, dan mencari tahu dimana aku menyembunyikanmu."
Darion menarik napas panjang, menatap Reyna untuk sesaat, kemudian berganti pada Hellian. Dua orang yang sudah berumur, saling mencintai dan menyayangi, tapi terpisah karena beberapa kesalahpahaman.
__ADS_1
Kedua mata Reyna menatap jatuh ke bawah. Perlu beberapa menit sampai dia berkata pada Darion, untuk mengizinkan Hellian masuk dan berbicara.
Seulas senyum tergambar di wajah Darion. Ada perasaan lega yang tergambar samar di sana. Sementara ini, hanya itu hal yang bisa ia bantu untuk hubungan keduanya.
Darion pun pergi meninggalkan Hellian dan Reyna dalam satu ruangan. Namun dia tidak pergi jauh dan hanya berdiri di depan pintu sambil menguping pembicaraan mereka.
Diawali dengan permintaan maaf Hellian sambil bersujud di samping brankar. Mengakui banyak kesalahan yang dia lakukan, lantaran dia percaya dengan sang istri.
Kasus pelecehan dan skandal sang anak, tuduhan perselingkuhan Reyna yang belum jelas terbukti. Dia meminta maaf atas semua perbuatannya dulu pada Reyna.
"Semua itu kesalahan berat yang sudah aku lakukan padamu. Aku tidak berharap kau memaafkan ku dengan mudah. Hanya saja …."
Belum sempat Hellian meneruskan kalimatnya, Reyna sudah lebih dulu memotong pembicaraan.
"Cukup! Berdirilah!"
"Aku memaafkanmu! Cepatlah bangun!"
Hellian ternganga sesaat mendengar ucapan Reyna. Benar-benar tidak menyangka, wanita itu mau memaafkan kesalahannya dengan cepat.
"Kau tahu, kita sudah cukup tua. Bahkan anakku juga bertambah tua. Aku tidak ingin membuatnya pusing hanya dengan pertengkaran para orang tua ini."
Raut wajah bahagia Hellian pun berubah. Kenyataan jika Reyna memaafkan dia hanya karena anaknya, membuat seulas senyumnya memudar.
__ADS_1
Namun senyum pudarnya hanya sesaat. Pria tua itu buru-buru mengangkat senyumnya lagi. Tidak masalah apapun alasannya, setidaknya, Reyna sudah mau berbicara dengannya.
Darion yang mendengar hal itu dari luar tak merespon apapun. Wajahnya datar, tidak terlihat ada raut bahagia atau sedih disana.
Satu minggu berlalu sejak Reyna memaafkan Hellian. Selama itu pula, Hellian terus berada di dekat Reyna. Tidak ada sedetikpun sorot mata Hellian lepas. Bahkan untuk tidur pun, dia menunggu Reyna benar-benar lelap.
"Kenapa kau tidak pulang? Pulanglah!" ucap Reyna tiba-tiba, sambil menatap Hellian yang mengupas buah untuknya.
"Aku berencana berinvestasi disini. Jadi perlu beberapa survei."
Percayalah, itu semua hanya omong kosong Hellian. Reyna pun memahami gengsi Hellian yang memang sudah ada sejak dulu.
"Omong kosong!" tegas Reyna.
Perdebatan kecil terjadi diantara mereka. Hellian masih enggan untuk mengakui, jika dia tidak ingin berpisah lagi dengan Reyna. Sedangkan wanita itu, malah muak melihat wajah Hellian setiap saat.
Namun perdebatan itu tidak berlangsung lama. Pembicaraan mereka terhenti ketika pintu tiba-tiba dibuka dari luar. Langkah kaki Darion terdengar jelas di telinga. Pria itu datang sambil mendorong sebuah kursi roda.
Manik mata Reyna tertahan sejenak, fokus memperhatikan wajah sang putra yang memperlihatkan senyumannya sejak masuk ke dalam kamar.
Seorang wanita yang sedang duduk di atas kursi roda, menyapa dengan suara sedu sedan. Membuat fokus Reyna teralihkan pada sosoknya.
"Senang bertemu dengan Anda, Nyonya. Perkenalkan nama saya, Azzalea Ottmar."
__ADS_1
...☆TBC☆...