Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Aku ingin ke Quebec


__ADS_3

Zea benar-benar menikmati waktu senggangnya hari ini. Setelah melewati beberapa ronde yang melelahkan dan menguras tenaga, ia memutuskan untuk memanggil layanan Spa seperti saran Darion.


Selesai merelaxkan tubuhnya selama 2 jam lebih, dia pun lanjut berendam menikmati kolam air hangat. Sebelum akhirnya mengisi perut yang sudah mulai keroncongan, lalu tidur sampai sore hari.


Begitu lelapnya dia tertidur, sampai tidak menyadari seseorang telah masuk ke dalam kamarnya. Bahkan pria itu duduk di sampingnya.


"Kelinci kecil ini … dia benar-benar menikmati harinya," gumam pria itu lirih.


Darion lantang berdiri, meletakkan sebuah map yang dipegang sejak tadi ke atas nakas. Lalu berjalan dengan perlahan, sambil melepas dasi dan dua kancing kemeja bagian atas.


"Kamu sudah kembali?"


Suara samar dan sedikit serak, terdengar jelas di telinga Darion. Pria itu pun berbalik, menatap Zea yang terbangun dari tidurnya.


"Aku membangunkanmu?" tanya Dariok berjalan mendekati Zea setelah melepaskan jasnya.


Zea menggelengkan kepala, dengan seulas senyum menawan yang menghiasi wajah cantiknya. Seulas senyum yang selalu berhasil membuat Darion terpesona. Meski wajah Zea polos tanpa sentuhan make up.


Darion mengambil kembali map yang dia letakkan di atas nakas. Lalu memberikannya pada Zea dan menyuruh sang istri untuk membukanya.


"Apa ini?" tanya Zea penasaran.


"Buka dan baca saja."


Kata-kata Darion tentu saja semakin menambah rasa penasaran Zea. Dia yang sudah tidak sabar langsung membuka map dan membaca isinya.


Rupanya, map yang dibawa Darion adalah berkas pernikahan mereka yang telah disahkan oleh pemerintah. Dua sudut bibir Zea langsung terangkat ketika membaca berkas itu.


Tidak percaya, tentu saja. Namun ini adalah kekuatan uang dan kekuasaan. Yah, mungkin begitu, karena untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah, butuh setidaknya 5 hingga 1 minggu.


"Aku sudah menunjukkannya pada ayah," ucap Darion tiba-tiba.


"Apa ayah terlihat bahagia? Aku tidak yakin, ayah benar-benar memberikan restunya pada kita."

__ADS_1


Darion menatap wajah Zea yang mendadak berubah. Ada sekelebat kecemasaan yang tergambar samar di sana. Perasaan yang cukup dimengerti oleh pria itu.


Dia mengulurkan tangan, mengusap kepala Zea dengan lembut. "Zea," panggil Darion lembut.


"Ayah berbeda denganku. Dia … memang susah mengekspresikan perasaannya dengan baik. Tapi aku tahu, dia menerimamu sebagai menantunya," jelas Darion, berharap sang istri mengerti sifat sang ayah.


"Aku tahu ayah tidak mudah mengutarakan isi hatinya. Hanya saja …."


Perkataan Zea tertahan, oleh keraguan di hatinya. Gejolak pertentangan batin sempat terjadi, tetapi Darion lagi-lagi menenangkannya.


"Apa kamu tau apa yang ayah katakan setelah melihat dokumen ini?" tanya Darion pada Zea yang langsung menatapnya nanar.


"Ayah menantikan pesta pernikahan kita setelah dia keluar dari rumah sakit."


Zea terdiam, menatap Darion dengan wajah datar. Seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan pria yang duduk di sampingnya itu.


"Kau bercanda, Don! Ayah tidak mungkin –"


Mendengar hal itu, mata Zea tiba-tiba basah. Bukan karena dia merasa sedih, melainkan bahagia. Sangat bahagia, sampai-sampai bulir bening jatuh dari sudut matanya.


"Hei, Baby! Kenapa kamu menangis?"


Darion terlihat panik ketika dua mata Zea tiba-tiba basah setelah ia mencoba meyakinkannya. Tangan besarnya lantas terulur, mengusap kedua pipi sang istri yang basah.


"Aku bahagia, Don. Aku sangat bahagia."


Itulah kalimat yang terucap dari bibirnya, sebelum ia meraih tubuh Darion dan mendekapnya kuat-kuat. Tanpa peduli, apakah dekapan itu akan membuat sang suami sesak atau tidak.


"Apa yang membuatmu bahagia sampai menangis? Dokumen yang aku bawa, atau … ayah?" tebak Darion asal.


"Dua duanya. Aku bahagia dengan dua hal yang kau bawa hari ini. Aku sangat bahagia!"


Senyum Zea mengembang dengan lepas dan bebas. Seolah memberitahu dunia, betapa bahagianya dirinya. Kebahagiaan yang tidak pernah dia dapatkan selama ini.

__ADS_1


Aku juga, sangat bahagia. Sangat amat bahagia. "So, ayo rencanakan pesta pernikahan kita," ucap Darion tiba-tiba.


Zea melepaskan dekapannya, lalu bertanya pada Darion, "Kamu menginginkannya, Don?"


Satu pertanyaan yang berhasil membuat Darion terheran untuk sejenak.


"Kenapa, kamu tidak mau?"


"Daripada pesta, aku lebih menginginkan tiket honeymoon," terang Zea to the point.


Sebenarnya, Darion sendiri tidak terlalu memperdulikan tentang pesta pernikahan. Lantaran bisa menikahi Zea adalah tujuan utamanya, tidak peduli meski hal itu diketahui publik atau tidak.


"Kamu tidak ingin hubungan kita diketahui publik?"


"Bukan seperti itu, Don. Aku hanya tidak suka terlalu disorot oleh media."


Penjelasan singkat Zea rupanya mengingatkan Darion akan kejadian saat dia menjadi bahan pembicaraan. Hal itu tentu saja tidak nyaman, terlebih, Zea mendapatkan banyak kritikan saat itu.


"Aku mengerti. Tapi izinkan aku mengumumkan statusku di depan publik. Yah, itu juga untuk memberitahu penggemar pria tua ini agar menyerah."


Lagi-lagi, sikap percaya diri dari Darion berhasil membuat tawa Zea lepas tanpa kendali. Dia jelas tahu bahwa itu hanya kata-kata penghibur belaka, untuk menutupi niatnya.


"Lalu, kemana kamu ingin pergi?" tanya Darion.


"Quebec, Canada."


"Canada? Tidak masalah, kita akan pergi ke sana."


Darion dengan cepat memangkas jarak di antara keduanya dengan bibirnya. Hingga jarak sekelumit itu tak lagi terlihat.


...《 SELESAI 》...


__ADS_1


__ADS_2