Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Harga sebuah nyawa


__ADS_3

"Tuan, Nona Zea masih ada di dalam apartemennya."


Kabar dari Drax langsung membuat Darion menambah kecepatannya. Melesatkan mobil sedan putihnya menembus keramaian jalanan. Berusaha sekuat tenaga, agar sampai dengan cepat.


Jalan kecil ia lewati, tidak peduli meski nanti harus berurusan dengan surat tilang dan lainnya. Dalam pikirannya hanya ada Zea, Zea dan Zea. Terlebih lagi, hatinya makin tak karuan ketika mendengar suara lemah gadis itu.



Disisi lain. Seorang pria terlihat berjalan melewati darah yang menggenang di lantai. Dia berjalan dengan santai, mengambil tisu di atas meja kemudian mengusap sisa darah yang tertinggal di belati perak.


Tidak ada rasa getar sedikit pun. Pria itu bahkan membuang tisu dan belatinya ke atas sofa, lalu pergi begitu saja.


Zea yang tergeletak tak berdaya di lantai, mengeluarkan ponsel yang sejak tadi digenggamnya dengan erat. Sekuat tenaga ia mencoba berbicara, berharap Darion belum mengakhiri panggilannya.


"D-o-n," panggilnya lirih.


"Zea! Oh ****! Akhirnya kau berbicara."


"Pe-penyu-sup." Zea berusaha berbicara, menjelaskan apa yang baru saja terjadi padanya. Namun rasa sakit yang datang dari perut bawahnya sangat menghujam.


"It's oke, Baby. Katakan dengan jelas, apa kau terluka?"


"Eemm, sa-sakit. Menya-kitkan."


"Bertahanlah! Kau harus bertahan! Sebentar lagi aku sampai, oke!"

__ADS_1


Zea tak mampu lagi berbicara. Rasa sakitnya benar-benar membuat kerongkongannya kering. Mulutnya bahkan tak bisa terbuka. Bahkan matanya mulai terasa sangat berat.


Darah yang keluar rupanya cukup banyak, mengenang di lantai dan membasahi hampir setengah tubuhnya. Darion mencoba terus berbicara, meski Zea tidak bisa menjawabnya. Pria itu mencoba membuat Zea tetap tersadar.


"Jangan tutup matamu, jangan tidur! Jangan bicara lagi, cukup ketuk jarimu di lantai, agar aku bisa mendengarnya."


Zea meletakkan ponselnya, tepat di genangan darahnya sendiri yang mengucur hebat. Kemudian mengetuk lantai dengan jemarinya. Ketukan yang kuat, tapi semakin lama semakin melemah.


"Please, bertahanlah, Baby!"


Rasa kantuk bercampur dengan rasa sakit yang perlahan pudar, seperti mati rasa. Pandangan matanya perlahan memburam, pendengarannya juga mulai berdengung.


Semilir angin yang masuk dari jendela balkon, meleburkan bau amis dan anyir dari darah yang keluar. Namun Zea tidak bisa mencium itu. Indra penciumannya seakan lumpuh.


Dua orang pria bertubuh besar berusaha mendobrak pintu dari luar. Beberapa kali terdengarbsuara hentakan dari pintu, tetapi pendengaran Zea sudah tidak berfungsi lagi.


"Zea! Zea!"


Suara yang ia dengar bersamaan dengan deru napas berat, membuatnya menatap ke arah pintu yang entah sejak kapan sudah terbuka. Dia berkedip dengan perlahan selama beberapa kali, sampai akhirnya ia melihat wajah Darion yang berlari menghampirinya.


Zea menarik napas panjang, lalu mengangkat dua sudut bibirnya, sebelum akhirnya dia menutup mata yang sudah sangat lelah.


Tanpa mengatakan apapun, Darion buru-buru mengangkat tubuh Zea. Berlari secepat mungkin menuju mobil yang dia tinggalkan begitu saja di bawah.


"Bersihkan darah kekasihku yang menetes di lantai. Kumpulkan jadi satu, jangan membuangnya!" seru Darion pada beberapa orang yang mengikutinya.

__ADS_1


"Baik, Tuan!"


Mobil sedan yang dia naiki tadi kembali meluncur, secepat mungkin menuju rumah sakit terdekat. Darion duduk di belakang, menekan luka di perut Zea agar tidak mengeluarkan darah lebih banyak. Sedangkan posisi mengemudi digantikan oleh Drax yang datang sedikit lebih lambat.


"Dokter! Dokter!" teriak Darion sambil membopong tubuh Zea masuk ke IGD.


Dua perawat yang datang menghampirinya langsung menyuruh Darion meletakkan tubuh Zea di atas brankar. Manik matanya tak lepas dari wajah Zea yang sudah memucat. Juga, piyama putih yang berubah menjadi merah.


"Sial! Sial! Sial!" umpatnya kesal.


"Lukanya cukup dalam, tekanan darahnya turun, saturasi oksigen melemah. Siapkan transfusi darah!"


Mendengar itu, hati Darion makin kacau. Emosinya meluap, ingin rasanya dia mengamuk, meluapkan segala amarahnya kepada siapapun. Namun, pria itu hanya bisa menahannya.


"Lakukan apapun untuk menyelamatkannya. Aku bisa membayar mahal, akan ku berikan dua kali lipat ... Tidak, sepuluh kali lipat!"


Darion mulai frustasi, berharap nyawa Zea bisa terselamatkan. Tidak masalah jika dia mengeluarkan sepuluh kali lipat, atau bahkan seluruh hartanya. Hanya saja ….


"Tuan, Anda hanya perlu membayar sewajarnya saja. Nilai sebuah nyawa bukan diukur berdasarkan uang!"


Degh!


Darion tertegun. Dia hanya bisa menatap Zea yang terbaring tak berdaya itu, perlahan mulai dipindahkan para dokter dan perawat.


Kenyataan yang harus dia terima, adalah sebuah nyawa yang tidak bisa dia beli meski ia punya banyak uang. Kenyataan bahwa omset miliaran dolar yang dia punya tidak bisa berhadapan dengan hidup dan mati sang kekasih.

__ADS_1


...☆TBC☆...



__ADS_2