
Hari masih cukup larut ketika Darion menerima kabar buruk dari Drax. Dia buru-buru terbang kembali dari Campbeltown menuju London, lalu pergi menuju ke sebuah rumah sakit setelah pesawat pribadinya mendarat.
Royal Hospital, sebuah rumah sakit yang dikenal dengan fasilitas lengkap dan menunjang ini terletak di Westminster Bridge, London. Bangunan megah dengan 2 gedung utama yang memiliki jumlah lantai berbeda, membuat rumah sakit ini terlihat cukup besar. Selain itu, rumah sakit ini hanya memiliki 3 tipe kamar, VIP, VVIP, serta Presiden Suite.
Hal ini lah yang membuat beberapa pengusaha atau para bangsawan memilih Royal Hospital ketika mereka membutuhkan perawatan. Sama seperti keluarga Walter yang selalu mengandalkan rumah sakit ini untuk merawat keluarga mereka.
Darion terlihat berlari tergopoh-gopoh. Bahkan, dia sempat terpeleset saat belok menuju koridor yang ada di lantai lima. Namun pria bertubuh besar itu segera bangkit berdiri dan melanjutkan langkah kakinya.
Hingga, sampailah ia di depan sebuah pintu berwarna coklat muda, dengan angka 5010 yang terletak di atasnya. Pria itu sempat menarik napas panjang, sebelum akhirnya masuk ke dalam dengan perasaan gugup.
Seorang wanita terlihat terbaring di atas bed mewah. Beberapa dokter dan perawat terlihat berdiri di samping sambil memeriksa alat-alat yang terpasang di beberapa angota badan sang pasien.
Langkah kaki Darion sempat gontai, tetapi dia mencoba untuk terus berjalan mendekat. Menatap wajah wanita yang matanya tertutup, dengan alat bantu napas di mulutnya.
Seorang dokter tiba-tiba menoleh, lalu menyapa Darion dengan sopan. “Tuan Darion. Maaf sudah mengejutkan Anda di tengah malam seperti ini.”
“Apa yang sudah terjadi?” tanya Darion tanpa mengalihkan tatapan matanya pada wanita yang terbaring lemah tak berdaya.
“Kondisinya sempat memburuk karena mengalami shock, tapi Anda tidak perlu khawatir. Semua masih ada dalam kendali kami,” jelas seorang dokter.
“Aku mengerti. Terima kasih untuk kerja kerasnya.”
Sebanyak empat orang dokter dan dua perawat, langsung meninggalkan ruangan usai menjelaskan keadaan yang terjadi pada pasien. Kini, yang tetap tinggal hanya ada Darion dan Drax, mereka yang masih berdiri tempat posisi semula.
“Dimana dia?” tanya Darion menoleh menatap Drax.
__ADS_1
“Dokter menyuruhnya pergi, Tuan. Saya terus berada disini, jadi tidak memperhatikan.”
Darion menghela napas kasar, sambil memijat keningnya. Rasa lelah tiba-tiba hadir menyapa, membuat kakinya bergerak menuju sofa. Setelah merebahkan diri, Darion mendongak sambil bersandar di sandaran sofa.
Matanya berkedip beberapa kali, menatap langit-langit kamar dengan lampu yang menyala sangat terang. Drax yang melihat Darion, jelas memahami wajah lelah tuannya.
“Beristirahatlah, Tuan. Biarkan saya yang berjaga,” ucap Drax.
Mata yang sudah sangat lelah itu akhirnya menutup. “Berapa jam lagi sampai pagi datang?”
“Tiga jam lagi, Tuan.”
Tidak ada respon lagi dari darion yang sudah menutup mata, setelah Drax menjawab pertanyaannya. Drax yang sudah bisa menebak, lantas mematikan lampu utama dan menyisakan dua lampu sudut yang memiliki cahaya redup.
Lalu tanpa terasa ....
Suara samar yang tiba-tiba terdengar membuat dua mata Darion terbelalak lebar. Dia terbangun tanpa mengerjap dan langsung menoleh ke kanan dan ke kiri. Seolah sedang mencari suara yang telah memanggilnya. Suara merdu dari seorang wanita yang sangat ia rindukan.
Ketika dirinya menyadari bahwa itu hanyalah ilusi dari kerinduannya, ia langsung menegakkan tubuhnya dan mengusap wajah. Darion menarik napas panjang, lalu mengedarkan pandangannya.
Cahaya matahari yang masuk dari jendela dan jatub di lantai, membuat ruangan terlihat sangat terang. Darion perlahan bangkit dari duduknya, lalu berpindah ke samping brankar.
“Lihat, aku terbangun tiba-tiba saat mendengar suara dari kekasihku,” ucap Darion tiba-tiba.
Mata yang semula menutup, dengan perlahan mulai terbuka. Perlahan, tapi pasti, yang pada akhirnya membuat seulas senyum Darion terukir jelas di wajahnya. Darion meraih tangan wanita itu, memegangnya dengan lembut, seakan-akan tangan itu sebuah porselen yang berharga.
“Bagaimana keadaanmu? Apa sudah lebih baik?” tanya Darion.
__ADS_1
Wanita yang terbaring itu menggerakkan matanya sambil mengukir seulas senyum. Jelas Darion bisa melihat senyum itu meski sedang memakai Nebulizer.
“Apa yang membuatmu terkejut? Kedatangan pria itu?” tanya Darion lagi.
“Tidak perlu dipikirkan. Aku sudah mendapatkan bukti tentang Ana dan anak sialan itu. Mereka akan membayar semua perbuatannya pada keluarga kita dengan perlahan.”
Darion masih terus berbicara. Dia seolah tidak peduli, jika wanita yang terbaring lemah itu tidak dapat memberikan komentar. Namun setidaknya, dia masih bisa mendengar ucapan Darion.
“Aku tidak memintamu untuk memaafkan dia, cukup dengarkan saja. Dia memang layak mendapatkan karma, tapi selama dia juga menderita.”
Ucapan Darion tiba-tiba membuat bulir air mata keluar dari sudut matanya. Entah dia bagian mana, dari ucapan Darion, yang membuat ia mengeluarkan cairan bening.
“Jangan menangis!” Darion mengulurkan tangan, mengusap air mata dengan ibu jarinya.
“Jika tidak ingin bertemu atau mendengar suaranya, maka cukup biarkan dia melihatmu dari jauh. Pria tua itu sangat merindukanmu, Ibu.”
“Dia sangat mencintaimu dan sangat merindukanmu.”
Sama seperti aku, yang sangat merindukannya. Amat sangat rindu hingga aku ingin menyusulnya.
Darion menundukkan kepalanya, meletakkan kening di atas punggung tangan wanita yang dia panggil sebagai ‘Ibu’. Rasa rindu yang menghujam akan sang kekasih, membuatnya mengerti perasaan sang ayah selama ini.
Rindu, perasaan tanpa obat yang sangat amat menyiksa.
...☆TBC☆...
__ADS_1