
Setelah Aaron pergi, pintu dari kayu kokoh itu kembali tertutup. Keadaan di dalam menjadi semakin gelap, lantaran hanya ada satu cahaya lampu di tengah yang memberikan ruangan besar itu sedikit cahaya. Namun cahaya dari lampu tidak berguna bagi ketiga orang yang mulutnya tersumpal.
Darion menarik kursi kayu yang sempat digunakan kakak angkatnya itu untuk duduk. Sorot mata yang semula sendu, berubah menjadi tajam penuh gelora amarah. Benar, itu adalah amarah yang sudah ia kumpulkan sejak kemarin.
“Lepaskan penutup mata dan mulut pria tua itu lebih dulu!” pinta Darion pada salah seorang anak buah yang ditugaskan menjaga gudang oleh Drax.
Setelah penutup mata dan mulut Jarvis dilepas, pria tua itu langsung meludah. Beruntung, Darion tidak dalam posisi yang bisa dijangkau dengan mudah.
“Sebaiknya paman simpan salivamu dengan baik. Takutnya, anak buahku lupa memberi minum,” ejek Darion yang sebenarnya kesal melihat tingkah dari adik sang ayah.
“Kau pikir bisa menahanku? Tunggu saja, anak buahku akan membebaskanku dengan mudah.”
Perkataan Jarvis sontak membuat tawa Darion lepas. Dia merasa ucapan pamannya terdengar sangat lucu dan penuh percaya diri, lantaran jelas-jelas anak buah Drax sudah lebih dulu melumpuhkan tangan kanan Jarvis.
“Baiklah, aku akan menunggu mereka dengan senang hati,” goda Darion sambil menyeringai, menunjukkan senyum liciknya pada Jarvis.
“Bawa dia!” pinta Darion pada anak buahnya lagi.
Dua pria bertubuh besar itu menari lengan Jarvis dengan kasar agar dia bisa berdiri. Lalu membawanya pergi sambil mendorong tubuh Jarvis tanpa peduli apapun. Setelah Jarvis dibawa, Darion meminta anak buahnya untuk melepaskan penutup mata dan mulut ibu anak yang duduk bersimpuh.
Ana yang sejak tadi sudah ingin berbicara, akhirnya meluapkan keinginannya saat penutup mulutnya dilepas. Wanita itu langsung mengandalkan lututnya untuk berjalan mendekati Darion.
“Su-suamiku. Semua ini salah paham, percayalah padaku. Pada darah dagingmu!”
Begitulah bujuk rayu yang dikatakan Ana sambil mendekat. Namun Darion yang telah mengetahui faktanya hanya diam sambil menatapnya sinis. Raut wajah tak sukanya terlihat jelas, tetapi Ana seolah tidak peduli akan hal itu.
__ADS_1
Darion terlihat merogoh saku mantelnya, mengambil sarung tangan, kemudian memakainya. Setelah terpasang sempurna, ia mengulurkan tangan meraih wajah Ana.
“Kau tau, aku sangat ingin meremas wajah burukmu ini dan membuatnya hancur!”
Ana mencoba berbicara, tetapi cengkraman tangan Darion begitu kuat. Sangat kuat hingga bibirnya tidak dapat terbuka. Namun itu tidak lama, Darion buru-buru melepaskan cengkramannya dengan kasar, hingga Ana tersungkur.
"Malam itu sangat sayang sekali. Bagaimana kamu bisa salah kamar dan bermain dengan Joe? Jelas-jelas Joe berkebutuhan khusus." Darion bangkit berdiri, memandang Ana dengan tatapan jijik.
Lalu ia berjongkok, dan menaikkan salah satu sudut bibirnya, bermaksud merendahkan Ana.
"Aku jadi penasaran, bagaimana kau membuat senjata pria idiot itu berdiri?"
Manik mata Ana membulat penuh. Kaget, lantaran Darion telah mengetahui kebenaran yang terjadi malam itu. Suatu kenyataan akan kesalahannya masuk kamar, dan justru berakhir tidur bersama Joe.
"Aku memang masuk ke kamar pria idiot itu. Hanya saja, malam itu …." perkataan Ana tertahan selama beberapa detik, memikirkan alasan yang bisa diterima Darion.
"Malam itu … kamu menarikku dan kita melakukannya."
Pembelaan yang Ana ucapkan, bukan malah menjadi air, melainkan menjadi minyak yang justru membuat api Darion berkobar.
Namun dia hanya mengeratkan giginya sambil menunduk. Meski tidak pernah hidup satu atap dengan Ana, sedikit banyak Darion tahu sifat wanita yang menjadi istrinya itu.
Darion berdecak, lalu kembali menegakkan kepalanya, menatap Ana dengan nyalang. "Kenyataan yang begitu sulit, Wanita ******! Apa aku perlu membawa laporan dari tes DNA?"
Bulir keringat seketika muncul dari kening Ana. Wajahnya berubah masam, tak enak dipandang. Hal yang ia coba sembunyikan, ternyata terkuak setelah sekian lama.
__ADS_1
"Jadi itu alasanmu tidak pernah melihatku!?" teriak Julian yang sejak tadi hanya diam karena terkejut.
Kenyataan bahwa Julian sendiri tidak mengetahui kebenaran yang ditutupi ibu kandung serta kakeknya. Membuat pria itu terhenyak selama beberapa saat.
Darion pun menoleh, menatap wajah Julian. Dari jauh, dia bisa melihat ekspresi acak dari pria muda itu. Kecewa, marah, sedih, kaget, itu sudah pasti.
"Kenapa? Kau kecewa karena terbentuk dari benih pria idiot?" ejek Darion tanpa peduli jika Julian juga adalah korban dari keegoisan dua orang.
Julian hanya bisa memendam rasa kecewanya sambil menunduk dan mengumpat tanpa henti. Perdebatan kecil pun sempat terjadi antara ibu dan anak.
Ana yang masih menolak fakta, terus berkata jika ucapan Darion adalah kebohongan semata. Dia masih berdalih, jika Darion masih belum menerima Julian.
"Apa itu alasannya, kau bisa santai saat ketahuan bercinta dengan istriku?"
Sebuah pertanyaan, yang kembali membuat pandangan mata Darion berfokus pada Julian. Pria yang sejak tadi bersimpuh dengan raut wajah bingung.
"Tapi tidak masalah apapun alasannya. Lagi pula, wanita murahan itu sudah mati!"
DOR!
Tanpa banyak kata. Darion mengambil pistol yang ditinggalkan Aaron, lalu menembak Julian.
...☆TBC☆...
__ADS_1