Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Pergi kemana?


__ADS_3

Zea baru saja keluar setelah 10 menit berada di dalam kamar mandi. Sambil memegang test pack, ia berlari ke arah Darion dan langsung naik ke tubuhnya.


"Satu garis! Ini satu garis!" teriak Zea merasa gembira dan lega.


Darion yang mendengarnya justru terlihat kecewa. Dia pikir, benih-benih yang ia tabur sudah cukup layak untuk berkembang. Namun nyatanya, tidak seperti harapannya.


"It's oke, Don. Kamu bisa mencobanya lagi." Zea berusaha menghibur Darion yang terlihat kecewa.


"Benarkah? Aku bisa mencobanya lagi?"


Zea mengangguk dengan cepat. "Emm, setelah aku bercerai dan kita menikah!"


"Oh, ****! Aku tahu arahnya akan ke sana!"


Entah terlalu bahagia atau hanya bentuk penghiburan untuk Darion. Zea dengan lembut mengecup kedua pipi pria itu, sebelum akhirnya meraih kedua pipi dan mengecup bibirnya.


Kecupan lembut yang kemudian meluluhkan hati Darion. Membuat pria itu meraih tengkuk leher Zea dan memperdalam ciuman yang berawal dari kecupan manis.


Harus berapa kali aku mengakui, ciuman pria ini sungguh membuatku gila.



Mereka berdua pun tinggal di Penthouse selama dua hari penuh tanpa pergi bekerja. Darion bahkan secara khusus meminta staf dari departemen store untuk membawa beberapa baju ke rumah agar Zea bisa memilih dengan bebas.


Selain itu, dia juga menyuruh Drax untuk membawa dokumen-dokumen penting ke Penthouse dan melakukan rapat secara online.

__ADS_1


Semua demi apa? Tentu saja demi wanita yang berhasil membuat hatinya bergetar hebat. Membuat perasaannya menggebu-gebu tak menentu. Juga, membuatnya memutuskan untuk memiliki beberapa orang anak.


Semua berjalan dengan sempurna selama dua hari ini. Bangun pagi langsung disambut pelukan hangat. Sarapan bersama seperti sepasang suami istri. Menonton, bahkan menemani bekerja.


Terlalu sempurna, sampai saat Zea kembali ke apartemennya, dia dikejutkan oleh kehadiran seseorang.


Entah, sudah berapa lama Julian berdiri di depan pintu kamar apartemennya. Zea yang pada saat itu berjalan sendiri menyusuri lorong, langsung terkejut ketika melihat sosok sang suami yang selama ini tidak pernah peduli dimana Zea tinggal.


“Tu-Tuan Julian?” sapa Zea yang langsung diam di tempat.


“Kenapa diam? Cepat buka pintunya!”


Nada memerintah itu, Zea sungguh tidak menyukainya. Bahkan sejak dulu ketika mereka bertemu pertama kali, Zea sudah tidak menyukai salah satu sifat Julian.


Zea buru-buru mengambil kunci dari dalam tas, kemudian membuka pintu apartemennya sebelum Julian kembali mengomel.


Julian langsung mengedarkan matanya ke penjuru ruang. Menatap kamar apartemen dengan tipe studio itu terlihat begitu sempit menurutnya.


“Silahkan duduk!” ucap Zea lembut.


Namun alih-alih menjawabnya dengan lembut, Julian justru mengalihkan pembicaraan. “Dari mana saja kamu?” tanyanya ketus, bahkan tanpa melihat wajah Zea.


“Aku dengar, wawancara tim 2 sukses. Manager bahkan memberi libur 2 hari penuh.”


“Benar.”

__ADS_1


“Lalu, kemana kamu pergi dua hari ini?”


Zea mencoba berpikir dengan baik mengenai pertanyaan dari Julian. Darion jelas mengatakan, Embassy memiliki sistem keamanan serta perlindungan privasi yang cukup baik. Jelas, Julian tidak akan mengetahui itu.


“Hanya sedikit berlibur. Saya juga perlu memiliki waktu santai untuk bisa bertemu teman dan juga saudara.” Zea berusaha bersikap santai.


“Oh, benarkah?”


Satu alis Julian sedikit terangkat, menandakan jika dia meragukan jawaban Zea. Namun gadis itu pintar menyembunyikan ekspresi wajahnya. Hingga Julian akhirnya merubah topik.


“Kau punya gaun kan?”


“Gaun?” Zea menatap heran.


“Pakai gaun yang paling bagus! Bagus kalau kamu bisa membeli yang baru dan bermerek." Julian menatap sinis ke arah Zea yang duduk di sofa, sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Bersiap-siaplah, akan ada seseorang yang akan menjemputmu nanti pukul 7 malam!" lanjut Julian sambil berbalik arah, dan berjalan ke arah pintu.


Sebelum benar-benar keluar, pria itu bahkan berpesan untuk tidak terlambat meski cuma 1 detik.


Perkataan yang terkesan buru-buru, seakan membuat Zea tidak punya kesempatan untuk bertanya. Pria itu bahkan melenggang pergi tanpa memberi penjelasan sepatah katapun dan membiarkan Zea bertanya-tanya sendiri.


Sebenarnya, kemana Julian akan membawa Zea?


...☆TBC☆...

__ADS_1


__ADS_2