Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Aaron


__ADS_3

Kesepakatan telah terbentuk. Ayah dan anak itu akhirnya sepakat untuk saling bertukar keuntungan. Lagi pula, selain mencari keberadaan sang istri, Hellian juga merasa sangat bersalah dengan Darion terkait pernikahannya.


Mereka berdua masih berada di posisi semula. Hellian terlihat merogoh saku, mengambil ponselnya, lalu menghubungi seseorang.


“Aaron,” sapa Hellian ketika sebuah panggilan berhasil tersambung.


“Tuan Hellian? Apa ini Anda?” Suara seorang pria terdengar cukup jelas, bahkan Darion pun bisa mendengarnya.


“Ya. Bagaimana kabarmu, Aaron? Mendengar suaramu, aku yakin kau baik-baik saja.”


“Tentu. Ini semua juga berkat Anda.”


“Aku tidak mau berbasa basi lagi.” Hellian mencoba langsung mengutarakan maksudnya. “Aku butuh bantuanmu, Aaron …. Tidak, tidak! Lebih tepatnya, Darion.”


“Dia … katakan saja, Tuan. Saya akan siap kapan pun.”


Hellian menyerahkan ponselnya pada Darion, agar putra tunggalnya itu bisa langsung berbicara tentang keinginannya.


“Tuan Aaron,” sapa Darion sopan.


“Hei, sejak kapan kau memanggilku begitu. Sudah, katakan langsung apa keinginanmu. Aku tidak punya waktu berlama-lama denganmu!” ketus Aaron.


Entah mengapa, mendengar jawaban ketus Arron tidak membuat Darion kesal sedikitpun. Pria itu bahkan mengangkat sudut bibirnya, sembari menatap hamparan rumput yang ada di seberang danau.


“Aku hanya ingin beberapa persidangan dilakukan secara tertutup. Selain itu, juga membawa beberapa nama ke suatu tempat. Apa bisa, Kakak?”


Suasana menjadi hening dalam beberapa detik. Begitu hening, hingga suara serangga bisa terdengar. Sampai akhirnya, Aaron memberi jawaban.

__ADS_1


“Kirim saja nama dan lokasinya. Aku akan membawanya secepat mungkin.”


Dua sudut bibir Darion meninggi. Setidaknya, satu rencananya telah berhasil dia lakukan secepat mungkin. Kini, dia hanya perlu menunggu kabar dari Aaron. Pria yang tidak lain adalah kakak angkatnya.



Yah, itu kisah yang sedikit lebih lama, sekitar 40 tahun yang lalu. Saat itu keluarga Walter sedang berlibur di daerah Yorkshire Utara pada pertengahan musim dingin. Semua berjalan normal, sambai sebuah badai salju mendatangi kota.


Keluarga Walter tidak memiliki bahan makanan yang cukup pada saat itu. Namun, seorang anak penjual susu berusia 12 tahun menawarkan bantuan di tengah badai. Benar, anak itu adalah Aaron.


Dia menerobos badai dengan mantel tipis. Pergi ke toko untuk membeli beberapa bungkus gandum, roti, telur, dan beberapa frozen food. Melihat perjuangan anak itu, Hellian lantas mengangkatnya sebagai anak.


Pendidikan serta kebutuhannya, ditanggung sepenuhnya oleh Hellian. Dia bahkan membawa Aaron pergi ke London dan bersekolah di tempat yang sama dengan anaknya.


Selain perjuangan, Hellian juga menyukai kepintaran Aaron. Dia bahkan bisa meraih peringkat pertama hanya dalam 2 tahun setelah pindah ke kota. Yah, itu kemajuan yang luar biasa menurut Hellian.


Hellian dan keluarganya tidak pernah meminta apapun selama ini sebagai balas jasa. Lalu saat mereka meminta, sudah pasti Aaron akan berusaha dengan baik. Seperti saat ini.



Lima jam berlalu sejak Hellian menghubungi Aaron. Senja mulai nampak, pertanda mentari telah memasuki persinggahannya.


Suara dering telepon membuat Darion yang sedang menatap langit, menoleh seketika. Pandangannya tertuju pada ponsel yang tergeletak di atas meja.


"Aku sudah membawa mereka. Kapan kau sampai?" suara Aaron terdengar jelas ketika Darion baru saja menjawab panggilan.


"Jaga sebentar, Kak. Aku akan sampai 1 hingga 2 jam."

__ADS_1


"Sekarang kau memanggilku kakak? Dimana sikap sopan mu tadi?"


Darion tersenyum singkat. "Aku sudah membawa dua wine dari gudang penyimpanan milik ayah."


Aaron terdengar berdecak, sebelum akhirnya dia berkomentar. "Jangan bawakan aku barang curian!"


"Tidak. Ayah memberikan ini padamu. Dia juga menitipkan sebuah pesan, aku akan menyampaikannya nanti."


"Baiklah. Segera datang, wanita yang terus menerus mengaku sebagai istrimu ini sangat menjengkelkan!" Keluh Aaron sambil menutup salah satu telinganya.


"Bunuh saja jika berisik. Aku sungguh-sungguh tidak keberatan!"


"Sungguh? Kalau begitu, biarkan dia mencoba senjata baruku!"


Senyum menyeringai terukir jelas di wajah Darion. Entah mengapa, dia merasa sedikit puas ketika Aaron bisa memahami keinginannya tanpa butuh penjelasan.


"Tentu saja," jawab Darion dengan santai.


Tidak butuh waktu lama. Hentaman suara pistol terdengar dari panggilan yang masih terhubung. Setidaknya sekali, lalu suara teriakan wanita terdengar amat nyaring. Berselang sepersekian detik, suara tembakan kedua serta ketiga pun terdengar.


DOR!! DOR!!


"Sangat amat merdu," gumam Darion kemudian mengakhiri panggilan.


...☆TBC☆...


__ADS_1


__ADS_2