
Pria dengan manik mata kecoklatan, tatapannya tajam lengkap dengan garis alis tegas. Bulu-bulu halus di rahangnya yang berwarna kecoklatan, terlihat sangat menggoda.
Terutama, saat pria dengan sorot mata tajam itu sedang menatap ke arah Zea. Bibir bawah yang digigit sebelah, ibu jari yang baru saja keluar dari mulutnya.
Pesona pria itu, sekali lagi berhasil membuat seluruh tubuh Zea bergetar. Jantung yang berdetak kencang dengan intonasi cepat. Seakan-akan memberitahu sang pemilik jika itu bisa meledak kapan pun.
Lalu, dengan santainya pria itu berbicara. "Dessert pilihanmu sangat enak dan manis. Pantas kau tidak memperdulikanku."
BOOM!
Jantung Zea mungkin sedang meledak setelah mendengar godaan Darion. Dia pun langsung bangkit berdiri dari kursinya.
"Maaf, saya perlu ke toilet!"
Wajahnya gadis itu langsung memerah begitu ia membalikkan badannya. Jantungnya sedang tidak baik-baik saja. Seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu. Saat kedua bibir mereka beradu dengan ganas, lidah yang saling berkutat menghantarkan sisa alkohol.
Ya, itu adalah kejadian dua minggu lalu.
"Astaga! Aku benar-benar sudah gila!" gumannya sambil memegang kedua pipi menggunakan tangannya.
Zea buru-buru membasuh wajahnya dengan air dingin di wastafel. Berharap hal itu bisa menyegarkan wajah yang sempat memerah, jiga menyadarkan dirinya dengan ingatan tentang malam itu.
Namun saat dia kembali dari toilet, dia melihat Darion sedang berdiri menghadap kaca sambil berbicara dengan seseorang melalui telepon.
Dari tempatnya berjalan, Zea bisa melihat punggung bidang yang dibalut kemeja putih itu. Rambut panjangnya yang diikat menjadi satu bagian.
Entah mengapa, pikirannya rancau. Dia kembali mengingat momen disaat ia meremas kuat punggung bidang itu. Bayang ingatan ketika Darion berada di atas tubuhnya, dengan peluh keringat yang membasahi.
Hentikan itu Zea. Hentikan!
Bagaimanapun, dia mertuamu.
Darion tiba-tiba berbalik. Dia yang melihat Zea berdiri di samping kursi, lantas menaikkan dua sudut bibirnya. Sebelum akhirnya ia mengakhiri panggilan dan berjalan menghampiri Zea.
"Maaf. Tiba-tiba ada panggilan dari kantor," ucap Darion bermaksud memberi tau Zea.
"Tidak masalah. Seperti ya Anda sibuk hari ini. Kalau begitu, kita bisa …."
__ADS_1
Belum selesai Zea berbicara, Darion sudah memotong pembicaraannya.
"Tidak masalah. Ayo mulai pembahasan kita."
Satu jam duduk bersama, membahas beberapa hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Namun kelihatannya, waktu yang mereka butuhkan lebih banyak dari itu. Sehingga, Darion menawarkan Zea untuk datang ke perusahaannya besok.
Ya, besok. Bukan lusa atau minggu depan. Sepertinya, Darion mengharapkan adanya interaksi yang lebih sering bersama menantunya itu.
Zea sendiri tidak bisa menolak. Bagaimana pun, dia masih membutuhkan pekerjaan ini, sehingga ia harus tetap bersikap profesional.
Mereka pun kembali bertemu keesokan harinya. Tepat beberapa jam sebelum waktu makan siang, Zea sudah mendatangi kantor Nesh yang berada sedikit jauh dari tempatnya bekerja.
"Mau kopi atau teh?" tanya Darion begitu Zea berjalan memasuki ruang kerjanya.
"Apa ada Ice Americano?"
Darion mengangkat satu sudut bibirnya, lalu menghubungi Drax untuk membawakan dua gelas Ice Americano.
"Anda juga minum dingin?" tanya Zea penasaran.
"Belum?"
"Iya. Aku belum pernah mencobanya." Darion berjalan menghampiri Zea yang masih berdiri sambil menatapnya.
"Lalu kenapa Anda memilih itu?"
"Tidak ada salahnya mencoba sesuatu yang belum pernah kita coba. Bukankah begitu, Nona Ottmar?"
Zea tertegun untuk sesaat ketika mendengar jawaban yang menurutnya cukup aneh. Dia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi dan hanya diam terpaku. Sampai akhirnya, Darion menyuruhnya untuk duduk dengan nyaman.
Zea menarik napas panjang, mencoba mengatur perasaan yang tidak mengenakan sejak tadi. Lalu, ia memulai pembicaraan dengan nada serius.
"Saya sudah membicarakan permintaan Anda dengan atasan. Kami sendiri tidak masalah dengan hal itu. Jadi, mari kita lanjutkan pembahasan kemarin."
Setelah melihat Darion mengangguk, Zea mengambil tablet dari dalam tasnya. Menaruhnya di atas meja dan membukanya.
Dia menunjukkan beberapa poin yang akan disampaikan dalam wawancara. Agar pria itu bisa memilah, mana yang bisa Zea tanyakan dan mana yang tidak. Perlu setidaknya setengah jam, sampai Darion mengembalikan tablet pada Zea.
__ADS_1
"Aku sudah selesai memilih," ucapnya.
Dari 20 pertanyaan yang sudah disiapkan Zea, Darion hanya memilih 3 poin. Dimana 3 poin itu adalah pertanyaan dasar, belum sampai ke topik utama.
Melihat banyaknya poin yang dicoret Darion, jelas membuat kepala Zea berdenyut. Bagaimana tidak, dari 20 yang dia siapkan, Darion harus memilih setidaknya 10 poin.
"Anda tidak ingin saya membahas sesuatu tentang Nesh dan perjuangan Anda?" tanya Zea yang mulai dipusingkan dengan permintaan Darion.
"Ya, aku tidak ingin."
"Kenapa?" Zea menatap heran ke arah Darion. Sedangkan pria itu hanya diam sambil bersandar dan melipat kedua tangannya.
"Maaf, maksud saya … jika bukan tentang Nesh dan perjuangan Anda, lantas apa yang ingin Anda bahas?" lanjut Zea.
"Kenapa tidak membahas tentang ekonomi dunia? Kamu bisa bertanya tentang pandangan Nesh dengan persaingan perekonomian dunia. Apa imbas atau keuntungan yang bisa diambil."
Zea terlihat mengambil napas panjang setelah mendengar penjelasan Darion. Pada awalnya, NNC mengirim tawaran wawancara karena ingin mengetahui sepak terjang Darion saatendirikan Nesh. Namun, permintaan dari Darion justru membuat kepalanya sedikit pusing.
Sepertinya, aku harus begadang lagi malam ini.
"Baiklah, kalau begitu saya akan menulis ulang dan mengajukannya lagi." Zea menaruh kembali tabletnya ke dalam tas.
"Jadi, kapan Anda punya waktu lagi? Atau haruskan aku kirim email jika Anda sibuk."
Darion buru-buru menggelengkan kepala. "Aku tidak suka berurusan dengan Email. Datang saja besok di jam yang sama. Kau bisa?"
Sambil tersenyum, Zea menjawab, "Tentu saja. Kalau begitu saya akan kembali besok."
Setelah mengatakan itu, Zea bersiap untuk berdiri dan pamit undur diri. Namun Darion dengan cepat meraih tangan gadis itu, membuat dia langsung menoleh ke arah Darion.
"Sudah jam makan siang. Ayo kita makan siang dulu!"
...☆TBC☆...
Terima aja deh neng. Itung² makan siang gratis 🤭
Jangan lupa masukin ke rak baca.
__ADS_1
Vote, Hadiah, dan juga Like jangan ketinggalan 💕