Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Flash Back 3


__ADS_3

Langit di kota London dan sekitarnya perlahan berubah. Mentari yang sudah menyembunyikan dirinya di belahan bumi lain, tidak lagi memberikan cahaya terangnya.


Hiruk pikuk kota sudah terlihat sejak sore tadi. Beberapa orang baru saja kembali dari rutinitas mereka. Jalanan pun masih cukup padat meski jam sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Zea sedang duduk di atas brankar sambil bersandar. Entah sejak kapan, pandangannya teralihkan ke jendela kaca yang tirainya masih tersingkap. Pandangannya lurus, tertuju pada pucuk bangunan-bangunan tinggi di sekitar rumah sakit.


Manik mata kecoklatannya tetap fokus. Bahkan ketika ada suara yang berada dari pintu, langkah kaki yang mendekat ke arahnya, dia tidak peduli dan tidak menoleh. Sampai, suara dari seorang pria terdengar.


"Baby, apa yang kamu lihat disana?" tanya Darion yang penasaran.


Namun Zea tidak memberikan jawaban dan hanya diam membisu. Darion jelas merasakan ada hal aneh yang pada Zea. Dia perlahan mendekat, lalu duduk di tepi ranjang.


"Did something happen to you?" (Apakah sesuatu terjadi padamu?)


Zea masih diam, tidak peduli. Bahkan dia tidak menoleh menatap Darion yang duduk tepat di hadapannya. Matanya masih fokus, menatap ke arah jendela kaca.


Darion mengulurkan tangan, hendak memegang ubun-ubun kepala Zea. Namun belum sampai tangannya menyentuh seujung rambutnya, Zea lebih dulu menepis tangan Darion dengan kasar.


"Sebenarnya, apa maumu?" Zea menoleh, menatap Darion dengan nyalang.


Tingkah Zea tentu saja mengejutkan Darion. Jelas-jelas ketika ia pergi siang tadi, semuanya baik-baik saja. Zea bahkan sempat meninggalkan tanda bibirnya di kening Darion.

__ADS_1


"Hei, Baby. What happened to you?" tanya Darion sekali lagi, masih dengan nada lembut.


Dua matanya mencoba mencari jawaban di raut wajah Zea yang sedang marah. Menatap mata nyalang sang kekasih, dengan tatapan lembut. Tidak ada amarah di raut wajah Darion, dia hanya penasaran dengan sikap Zea.


"Apa maumu sebenarnya? Kau sudah berhasil memenjarakan mereka yang menipumu!" tegas Zea.


"Lalu, apa tujuanmu dengan menikahiku?" lanjutnya masih dengan nada lantang.


Manik mata kecoklatan Darion membulat penuh. Zea memang belum memberinya jawaban tentang lamarannya tadi pagi. Namun sikapnya masih cukup baik sampai dia pergi mengurus pekerjaannya.


Lantas, apa yang membuatnya sampai seperti ini?


Darion masih diam membisu. Mencoba mencari akar masalah yang membuat Zea bersikap demikian. Namun Zea yang sudah tidak sabar, menegakkan punggungnya dan memukul dada bidang Darion.


DEGH!


Pertanyaan yang dia cari-cari sejak tadi, akhirnya terjawab. Tanpa bertanya lagi, pria dengan kaos putih itu bisa menebak, apa yang sudah terjadi pada Zea.


Darion masih diam, ketika Zea meluapkan emosinya sambil memukul dada bidangnya. Gadis itu masih terus memukul, sambil bertanya 'kenapa?', berharap dia bisa menemukan jawaban segera.


"Kenapa, Don! Kenapa kau mau menikahi gadis mandul sepertiku! Kenapa kau tidak mencampakkan aku saja!"

__ADS_1


Perkataan Zea berhasil menyulut api amarah Darion. Namun pria itu tidak menepis tangan yang masih memukulnya, meski amarahnya tersulut. Dia justru menarik tubuh Zea dan memeluknya dengan erat.


"Berhentilah bicara buruk. Kau akan punya anak, kau bisa punya anak!" tegas Darion dengan suara sendu.


"Itu hanya terluka. Kau akan punya anak, Baby. Kita akan punya anak, percayalah padaku!" lanjut Darion berusaha menenangkan Zea.


"Tidak perlu menipu dirimu! Dokter sudah memberitahu hasilnya!"


"Dokter bukan pemilik takdir! Ingatlah itu, dia bukan pemilik takdir!"


Zea tidak lagi bisa mengontrol bulir bening yang sejak tadi membumbung di pelupuk mata. Bulir-bulir bening itu akhirnya tumpah ruah tanpa kendali.


"It's oke, Baby. It's oke!" Darion mempererat dekapannya, seolah memberi tahu sang kekasih, bahwa dia tidak mempermasalahkan hal itu.


"Aku mencintaimu, Zea. Tidak peduli bagaimana keadaanmu kemarin dan sekarang. Aku, mencintaimu! Ketahuilah itu."


Namun kata-kata Darion, tidak memberikan secercah cahaya pun bagi Zea. Gadis itu masih menangis, menumpahkan segala perasaan yang sejak tadi ia tahan.


...☆TBC☆...


Jangan lupa mampir ....

__ADS_1



__ADS_2