
"Semua dimulai pada beberapa bulan terakhir 28 tahun yang lalu …."
Berawal dari Darion yang menolak untuk mewarisi bisnis Hellian. Pria dingin yang juga anak tunggal itu bersikeras ingin mengembangkan idenya. Saat itu, usia Darion baru 17 tahun, dia bahkan belum lulus sekolah ketika memberitahu sang ayah tentang keputusannya.
Jelas, Hellian menentang tanpa banyak berkata. Menurut Hellian, itu adalah hal gila yang bisa merugikan. Namun Reyna percaya pada putra tunggalnya.
Reyna membantu Darion mengurus beberapa hal terkait modal. Dia bahkan menyerahkan setengah uang tabungannya untuk sang putra. Niat baik dan dukungan Reyna, langsung membuat jiwa muda pria itu bergejolak.
Butuh satu tahun, sampai rencana Darion benar-benar sempurna. Namun dana yang dia butuhkan masih kurang.
Semangat yang tak surut, membuat Darion optimis ketika mencari modal ke beberapa perusahaan. Tepat saat itulah, Ana mengenal Darion.
Wanita yang masih duduk di bangku sekolah itu langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Dia berusaha mendekati Darion, tetapi pria itu terlalu angkuh dan cuek.
"Lalu, siapa yang memberimu modal terakhir?" tanya Zea yang tidak ingin membahas pertemuan Darion dengan Ana.
"Hellian. Ayah menemukan rancangan bisnis dikamar saat aku pergi kuliah. Ketika pulang, dia memberiku cek senilai 5 juta."
Butuh waktu setengah tahun. bagi Nesh untuk memulai, dan setengah tahun selanjutnya masa dimana Nesh mulai mengepakkan sayap.
Nesh yang menjadi bisnis pertama dalam bidang penukaran uang dan jual beli valuta asing, serta pengiriman uang ke luar negeri dengan biaya minimum, membuat banyak perusahaan besar mengandengnya.
Hal itulah yang membuat Nesh bisa berkembang dalam waktu satu tahun. Namun, ketika memasuki tahun selanjutnya ….
"Aku tidak ingat dengan pasti. Saat itu aku sedang menghadiri pesta kerjasama dan amal." Darion menatap perapian yang masih menyala, memberi mereka rasa hangat.
"Lalu tiba-tiba merasa pusing. Saat itu, Paman Jarvis mengajakku istirahat di kamar. Tapi saat bangun …."
Darion dan Ana ditemukan dalam satu kamar tanpa busana. Hellian yang melihat itu langsung murka, terlebih, Ana dan Darion saat itu masih begitu muda.
Berita tersebar tanpa bisa dikendalikan. Keluarga Walter pun tidak hanya diam saja. Ratusan ribu poundsterling digelontorkan demi menutupi skandal yang terjadi. Menjaga agar Nesh dan Walt Grub tidak menanggung akibatnya.
Namun, hal yang tidak disangka terjadi dalam 4 bulan setelah skandal. Ana mendatangi rumah Hellian dan mengaku sedang mengandung.
"Ibu masih membelaku. Mengatakan jika itu bukan anakku, aku pun menolak mengakuinya. Tapi ayah bersikeras. Dia bahkan melakukan tes DNA tanpa menunggu anak sialan itu lahir."
"Dan hasilnya? Dia benar-benar anakmu?"
"Tes DNA diambil dari darah ayah, karena aku tidak bersedia. Dan hasilnya, mereka masih terikat darah."
Dengan bukti itu, Hellian memaksa Darion untuk segera menikah. Memaksa pria berumur 19 tahun itu menghentikan setengah mimpinya dan menikahi Ana. Darion tidak punya pilihan. Semua demi Nesh yang baru saja memberikan hasil.
"Itu seperti pernikahanmu dengan anak sialan itu. Tidak ada cinta di dalamnya, hanya ada rasa terpaksa!"
__ADS_1
Cerita Darion tanpa sadar membuat hati Zea terenyuh. Dia tidak menyangka, jika pria tua yang sedang memeluknya itu memiliki kisah perjuangan yang luar biasa.
Mungkin, alasan itulah yang membuat Darion menolak beberapa pertanyaan wawancaranya terkait pendirian Nesh.
"Setelah beberapa tahun. Akhirnya aku punya alasan tepat untuk memberinya surat cerai dan mengusirnya. Sialnya, wanita murahan itu tidak segera tanda tangan!" gerutu Darion kesal saat mengingat cara Ana menolak untuk tanda tangan.
"Mendengar ceritamu tadi, aku sempat ragu. Hanya satu malam saja, apa benih milikmu sehebat itu!"
Darion tertawa lepas ketika mendengar perkataan Zea. Namun lain halnya Zea yang termenung untuk sesaat. Mengingat kapan haid terakhirnya datang. Ternyata, itu sudah lewat satu bulan.
Zea buru-buru bangkit dengan wajah terkejut. Mengusap perutnya yang rata sambil bergumam.
"Tidak! Ini tidak mungkin!"
Darion yang melihat tingkah aneh Zea pun ikut berdiri dan langsung bertanya padanya.
"Kenapa? Apa yang membuatmu terkejut?"
"Benih!" jawab Zea sedikit ambigu, membuat Darion mengerutkan kedua keningnya lantaran berpikir keras.
"A-apa? Katakan dengan jelas!"
"Belih yang kau tabur saat kita di Monako! Ini sudah lewat satu bulan. Oh, ****!"
Zea yang kebingungan pun memegangi kening sambil berjalan mondar mandir di depan Darion. Memikirkan akibat yang akan timbul jika dia benar-benar mengandung benih mertuanya.
Zea yang melihat Darion tersenyum, lantas berhenti dan berkacak pinggang.
"Apa yang membuatmu bahagia?"
"Benih dariku tumbuh di rahim yang tepat. Memangnya apa lagi?"
Zea menghela napas kasar, tak mengira jika Darion akan bahagia dan bahkan tidak panik.
"Setidaknya pikirkan status kita, Don!"
"Memangnya apa lagi? Pernikahan kita hanya selembar kertas. Kamu sebentar lagi bercerai, aku pun begitu!" tegas Darion memberi solusi.
"Bagaimanapun juga, negara mengetahui status kita. Lalu, bagaimana jika nanti … ahh, aku semakin pusing!"
Zea kembali duduk di sofa sambil terus memijat kening yang terasa pening. Memikirkan banyak hal yang mungkin akan terjadi nanti, membuat kepala Zea semakin berdenyut.
"Aku akan menyelesaikannya, Baby. Jangan khawatirkan hal itu!"
__ADS_1
Darion berjongkok di depan Zea. Lalu dengan lembut membelai dan menyingkap beberapa helai rambut yang mengganggu matanya.
"Sudahlah! Lebih baik sekarang memastikan hal itu dulu," jawab Zea mencoba menenangkan pikirannya.
"Memastikan? Kamu perlu ke dokter?"
"Tidak, bukan seperti itu. Kamu hanya perlu membelikan aku sebuah alat."
"Alat?"
Ah … rasanya aku malas menjelaskan. "Iya, alat tes kehamilan. Itu bisa ditemukan di apotik."
"Oh, tentu!" Darion buru-buru bangkit berdiri. "Aku akan memberinya sekarang!" Lalu secepat mungkin berlari mencari dompetnya.
"Tunggu aku di rumah, Baby!
Pria itu pergi begitu saja, meninggalkan Zea yang masih duduk di luar dengan tatapan kosong. Melihat ekspresi bahagia Darion, terselip perasaan senang juga. Namun saat dia dihadapkan oleh status mereka, Zea pun tak bisa berkutik.
Tidak sampai setengah jam, pria yang keluar hanya dengan kaos putih itu kembali sambil membawa paper bag. Darion langsung memanggil Zea, menyuruh gadis itu untuk segera memastikannya.
Isi dari paper bag itu langsung di tumpahkan ke atas sofa. Zea pikir, itu hanya berisi 2 atau 3 tespack. Namun betapa terkejutnya dia ketika melihat beberapa jenis tespack dengan merek yang berbeda.
"Kenapa kamu membeli sebanyak ini, Don? Kamu pikir, berapa banyak wanita yang akan melakukan tes?" tanya Zea yang tidak tau harus berpikir apa lagi.
"Mereka bilang, lebih akurat jika membeli 2 atau tiga. Jadi aku membeli masing 3 buah."
Zea hanya bisa menghela napas kasar mendengar alibi Darion. Mau dikata apa lagi? Barang sudah dibeli dan ada ditangannya. Lagi pula, pria itu cukup kaya untuk kehilangan beberapa ribu saja.
Setelah menghela napas, Zea mengambil dua dengan merek yang berbeda. Lalu berjalan menuju kamar mandi. Darion yang penasaran pun mengikuti dari belakang, bahkan sempat mengikuti Zea masuk.
"Tidak! Tidak!" teriak Zea menghentikan Darion
"Tapi, Baby!"
"Kamu, tunggu di luar!"
...☆TBC☆...
Zea hamil 😳😳
Yes or No?
__ADS_1
Masih mau lanjut gak nih?
Sajennya jangan lupa di tabur 💋💋