Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Bersama Mertua lagi


__ADS_3


Dari jendela kamar yang tidak ditutup tirai, rintik hujan serta kilatan petir yang menyambar di langit dapat terlihat dengan jelas. Mungkin, jika mereka membuka jendela, bau basah dari air yang membasahi tanah akan tercium.


Namun, yang tercium di kamar apartemen Zea adalah bau gurih nan sedap yang berasal dari hidangan makan malam. Bau daging yang di pan dengan sempurna, asparagus dan juga kentang. Tidak lupa juga dengan sup kepiting.


Dua orang yang sebelumnya tidak pernah saling kenal atau bertemu sebagai menantu dan mertua, pada akhirnya duduk bersama dan menikmati makan malam.


Takdir, siapa yang tahu?


“Tidak menyangka, Anda bisa memasak makanan enak.” Zea mengakui setiap hidangan yang disiapkan sendiri oleh sang mertua terasa lezat.


“Aku bisa melakukannya setiap hari jika kau mau.”


Lagi-lagi Zea tersenyum mendengar rayuan dari sang mertua. Setiap kata yang keluar dari bibir pria itu, selalu bisa membuatnya tersipu malu.


“Maka namaku akan masuk berita gosip tidak lama lagi.”


“Aku tidak akan mengizinkan hal itu terjadi.” Darion menatap Zea dengan serius, seakan memberi tahu wanita yang duduk di hadapannya, jika perkataannya tidak main-main.


“Sepertinya, Anda benar-benar menyukaiku.”


“Tidak begitu.”


Jawaban dari Darion langsung membuat mata Zea teralihkan ke arahnya. Bagaimana tidak, jelas-jelas pria itu sudah mengakui jika dia menyukai Zea, tetapi mengapa jawabannya sekarang justru berbeda?


Darion bangkit berdiri, kemudian mengambil piringnya yang sudah kosong, hendak menaruhnya di wastafel. Namun baru beberapa langkah, dia berbalik dan melanjutkan kalimat yang sempat terpotong.


“Setelah aku pikir-pikir, sepertinya bukan hanya suka, tapi juga cinta.”


Gila, aku benar-benar bisa gila hanya karena mendengar kata yang keluar dari mulut manisnya!

__ADS_1


Zea buru-buru berdiri, hendak menyembunyikan lagi wajahnya yang memerah. Namun saat dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi, dia sempat mengatakan sesuatu pada Darion.


“Taruh saja di wastafel, aku akan mencucinya nanti!”


Setengah jam dia berada di dalam sana. Berjalan mondar mandir sambil menunggu Darion pergi dari rumahnya. Dia benar-benar bingung, bagaimana merespon Darion setelah ini. Hingga, memilih menghindar untuk sementara waktu.


Ku harap dia sudah pergi.


Perlahan ia membuka pintu, mengeluarkan kepalanya dan menoleh ke arah sofa untuk memastikan Darion tidak menunggunya. Akan tetapi, suara Darion terdengar dari arah lain.


“Apa yang kau lihat?” tanya Darion yang berdiri di sisi kanan pintu.


Zea diam mematung, memikirkan alasan logis yang terdengar masuk akal atas tindakan bodohnya.


“Ah … ka-kakiku … tiba-tiba kesemutan.” Alasan gila apa ini, ah sialan!


“Kesemutan?” Darion hanya tersenyum mendengar alasan menantunya. Lalu, dia berpura-pura membantu dengan membopong tubuh Zea.


“Bukankah kau kesemutan?”


GLEK


Zea merasa sangat konyol, dan juga malu dalam satu waktu. Sudah tahu jika Darion adalah manusia super peka. Pria itu, mana bisa ditipu dengan mudah?


Akan tetapi, Darion seolah tidak memikirkan hal itu dengan serius. Menurutnya, tingkah sang menantu sangat lucu, terutama saat dia menyembunyikan wajah meronanya.


Ya, mungkin lantaran umur mereka yang berbeda cukup jauh. Darion yang sudah dewasa dan matang dalam segala hal. Sedangkan Zea masih begitu muda hingga mudah merona dengan rayuan kecil.


“Kenapa Anda belum pulang?” tanya Zea ketika Darion menurunkannya di atas ranjang.


“Aku harus membantumu mandi besok dan memastikan luka di tanganmu tidak terkena air.”

__ADS_1


“Tolong berhenti bercanda, Tuan Darion.”


“Apa kamu pernah melihatku bercanda?” Darion menatap Zea dengan serius.


Benar. Darion memang pria seperti itu. Selalu serius dalam hal apapun, termasuk saat dia sudah menyatakan perasaannya. Pria tua itu, tidak pernah bercanda atau main-main.


"Cepatlah tidur! Kau pulang terlalu malam hari ini, sedangkan besok harus berangkat pagi." Darion menarik selimut, membantu Zea memakainya.


Zea yang sudah terlalu larut dalam cinta dan segala bentuk perhatian sang mertua, hanya bisa patuh. Membiarkan rasa nyaman yang diberikan sang mertua dan menikmatinya selagi bisa.


Haus kasih sayang?


Mungkin iya, mungkin juga tidak.


Hanya butuh setengah jam, sampai wanita dengan piyama biru tua itu terlelap dalam dekapan Darion. Tidurnya terlalu nyenyak, sampai tidak ada yang membangunkannya selain sinar mentari di pagi hari.


Saat membuka mata, Zea tidak lagi mendapati Darion ada di sampingnya. Hanya sepucuk memo yang tergeletak di atas nakas, bersama dengan plastik pembungkus.


...-Maaf, Baby. Tapi aku harus mengingkari janji tiba-tiba. Semalam aku sudah mengelap semua tubuhmu. Jika kamu tetap memaksa mandi, pakai sarung plastik agar tidak membasahi lukanya- ...


"Cih! Semalam bilang mau membantuku mandi. Tapi nyatanya?" gerutu Zea selesai membaca memo dari Darion.


Namun selesai menggerutu, seulas senyum bahagia terukir jelas di wajah cantiknya. Senyum bahagia ketika mendapat perhatian dari seorang pria yang mencintainya.


...☆TBC☆...



Yuhu ... Sajen sajen


Jangan lupa sajennya 💕💕

__ADS_1


__ADS_2