
Jemari-jemari Darion mencengkram kuat pergelangan tangan Ana. Dia menariknya secara paksa dari ruang rapat. Langkah panjang yang dia ambil, membuat Ana tertatih-tatih mengikuti.
Namun Darion tidak peduli β¦ lebih tepatnya tidak mau peduli.
Sorot mata pria itu tajam. Dua alisnya mengukir keganasan wajahnya. Rasa marah, kesal, jengkel, bercampur dan tertuang dengan jelas.
"Berhenti! Kakiku sakit!" protes Ana, berusaha mengikuti langkah kaki Darion yang menyeretnya.
Ana beberapa kali berusaha melepaskan diri. Menarik tangan yang di cengkram Darion, bahkan berusaha membuka jemari pria itu. Namun usahanya gagal.
Seluruh mata para pegawai jelas tertuju pada presdir mereka yang menarik paksa seorang wanita dengan ekspresi wajah menyeramkan. Tidak sedikit juga dari mereka yang langsung membicarakannya.
Akan tetapi, pria itu lagi-lagi bersikap tidak peduli. Meski dirinya menjadi perbincangan karyawan sendiri. Dia tidak peduli, dia hanya ingin segera membawa Ana ke ruangan dan menghabisinya.
Benar saja, ketika Dario membuka pintu, dia langsung mencekik dan mendorong Ana hingga tubuhnya terpojok di dinding. Emosi yang sudah ditahan sejak dia melihat wajah Ana, seketika meluap tanpa kendali.
"Siapa yang menyuruhmu kembali?"
Ana yang kesusahan bernapas dan berbicara lantaran di cekik, hanya mampu meronta. Wanita iti berusaha keras melepaskan tangan Darion dari lehernya.
"Le-le-pas!"
__ADS_1
Urat di tangan Darion terlihat semakin menonjol. Cengkraman tangannya bukan semakin mengendur, tetapi malah semakin menguat. Meski dia sudah melihat wajah Ana yang memerah lantaran kesusahan bernapas.
Mengingat Ana masih mempunyai manfaat untuk dirinya, Darion buru-buru melepaskan cengkramannya meski sambil melemparkan gadis itu ke lantai.
Ana lekas-lekas menarik napas panjang berkali-kali. Meski sempat terbatuk-batuk juga karenanya. Sedangkan Darion justru tidak merasa bersalah. Pria itu bahkan berjalan dengan santai ke mejanya untuk mengambil tisu dan mengusap tangannya.
"Menjijikan. Dasar sampah!" umpat Darion yang merasa tangannya jijik. Dia bahkan tak segan-segan memakai antiseptik di depan Ana.
"Tidak masalah jika kau membenciku. Tapi setidaknya, beri aku muka di depan karyawanmu!" Ana mencoba bangkit berdiri sambil menatap Darion dan memegangi lehernya.
"Memberimu muka? Memangnya kau layak?" Darion mengerutkan kening lantaran ucapan Ana terlalu konyol untuknya.
"Bagaimanapun, aku ini ibu dari anβ"
Ana jelas tahu, jika pria yang berdiri di depannya itu tidak pernah menerima dan menganggap dirinya juga Julian. Bahkan, pernikahannya dulu tidak pernah diakui Darion meski sudah mendapat persetujuan Hellian.
"Aku memberimu waktu sampai matahari terbenam hari ini. Tinggalkan London!" ucap Darion dengan suara tegas hingga membuat Ana terbelalak mendengarnya.
Lima tahun, setidaknya Ana pernah mengenal dan mengetahui sifat bengis Darion. Pria di hadapannya itu, jika tidak menyukai sesuatu, bisa langsung di lenyapkan tanpa jejak. Ana dan Julian termasuk beruntung lantaran perlindungan dari Hellian.
"A-aku ingin menemui ayah dan menyapanya." Ana mencoba berbicara meski sedikit gugup setelah mendengar ancaman Darion. Namun bagaimanapun, dia masih ingin tinggal di London.
__ADS_1
Entah mengapa, Darion tiba-tiba menyeringai saat Ana mengatakan demikian.
"Menyapanya? Coba saja kalau begitu."
Darion langsung pergi setelah mengatakan hal itu. Dia tidak ingin berlama-lama melihat wajah Ana.
Sedangkan ditempat lain. Julian terlihat berjalan mondar-mandir. Mungkin dirinya tahu, jika sang ibu akan langsung menemui ayahnya di kantor pusat.
Beberapa kali dia melihat ponsel, menunggu dengan harap-harap cemas panggilan telepon dari sang ibu. Ada kabar yang sedang dia tunggu.
Sampai akhirnya, ponsel yang dia pegang berdering.
"Ibu? Apa ibu langsung pergi menemui ayah?"
"Huh, jangan bicarakan itu!" Dengus Ana terdengar kesal. "Aku akan pergi menemui kakek, segeralah menyusul!"
Panggilan dari Ana langsung terputus, bahkan sebelum Julian mengiyakan perintah Ana. Hal ini tiba-tiba membuat Julian berpikir tentang pertemuan yang tidak lancar kedua orang tuanya.
Ada yang tidak beres. Sepertinya aku perlu menyelidiki hal ini!
...βTBCβ...
__ADS_1
Dua hari sibuk banget. Maapin ya baru sempet Up π
Sajen jangan sampai ketinggalan π