Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Alasan Reyna


__ADS_3

Darion mengulurkan tangan besarnya, lalu mendarat di pundak Zea. Gadis itu menoleh ke sisi kiri, ketika manik matanya melihat sosok Darion, seulas simpul senyum terukir jelas. Raut wajah yang semula gelisah memikirkan keputusan Reyna, langsung berubah begitu ia melihat senyum Darion dan tatapan lembutnya.


Namun Darion tidak langsung berbicara pada Zea, melainkan pada sang ayah yang masih berdiri di samping Zea. Tanpa menatap sang ayah, Darion menyampaikan pesan dari ibunya.


“Ibu memanggilmu, Ayah.”


Hellian mengira itu hanyalah taktik sang anak untuk menjauhkannya dengan Zea. Namun meski begitu, pria tua itu tetap saja pergi meninggalkan mereka dan menemui Reyna. Setelah melihat Hellian pergi, Darion langsung berpindah posisi,dengan berjongkok di depan Zea.


“Semuanya, baik-baik saja bukan?” tanya Zea penasaran, tetapi hanya dibalas angukan dari Darion.


Rasa penasaran tiba-tiba mengusik pria itu, setelah melihat ekspresi Zea sebelum dia tersenyum. Darion yang berpikir Hellian mengganggu Zea lagi, lantas memborong banyak pertanyaan pada Zea.


“Apa yang kalian bicarakan tadi?”


“Dia tidak mengatakan sesuatu yang menyakitimu, bukan?”


Seulas senyum kembali terukir. Tidak tahu mengapa, ada perasaan bahagia ketika ia menyadari kecemasan dari Darion, meski hal ini bukan pertama kali baginya.


Zea menggeleng pelan sambil berkata, "Tidak, jangan khawatirkan hal itu."


"Bagus kalau begitu. Ayo kembali ke kamar dan istirahat!"


Darion membopong tubuh Zea dengan lembut. Memindahkan tubuh gadis itu ke kursi roda, lalu mendorongnya kembali ke kamar yang berbeda 1 lantai dengan kamar Reyna.


Ketika mereka menaiki lift, Zea yang sejak tadi dilanda rasa penasaran, mencoba bertanya dengan nada yang sedikit ragu.


"Don …."


"Katakan saja hal yang ingin ditanyakan!" jawab Darion sebelum Zea melanjutkan pertanyaannya.


"Apa … nyonya baik-baik saja?"


Zea menunduk, menatap jari jemari yang saling menaut. Ada rasa takut yang tidak bisa ia tutupi. Perasaan yang dapat di lihat jelas oleh Darion.


"Dia baik-baik saja. Yah, pada akhirnya," jelas Darion kembali mendorong kursi roda ketika pintu lift terbuka.

__ADS_1


"Benarkah? Tidak ada satu masalah pun?" Zea mencoba memastikan.


Darion diam sejenak, seperti sedang berpikir sesuatu. Lalu, seulas senyum hadir di wajahnya. Senyum usil yang tidak bisa dilihat oleh Zea.


"Hanya ada 1 masalah," ucap Darion yang langsung membuat Zea menoleh ke belakang.


"Jika bertemu dengannya lagi, jangan memanggilnya nyonya, tapi panggil 'ibu'. Mengerti?"


Zea terdiam, mencoba mencermati perkataan Darion yang terdengar ambigu. Namun sepersekian detik kemudian, raut wajah Zea berubah menjadi merah padam.


"Don! Kau menggodaku!" keluhnya kesal. Dia bahkan memukul tangan Darion yang sedang mendorongnya.


"Lambat seperti biasa!" Darion tertawa renyah, tidak peduli dengan rasa kesal Zea.



Hellian kembali masuk ke kamar tempat sang istri dirawat. Ketika masuk, tirai terlihat tertutup, membuat ruangan sedikit gelap lantaran sinar mentari terhalang oleh tirai tebal.


"Kenapa ruangannya gelap?" tanya Hellian dengan sorot mata fokus menatap Reyna yang duduk bersandar di atas ranjang.


"Apa tubuhmu merasa tidak nyaman? Aku akan panggil perawat!" Hellian yang sedikit panik, buru-buru bangkit berdiri setelah melihat wajah Reyna dari dekat.


Namun, Reyna menolak dan justru menyuruh Hellia untuk kembali duduk. Hellian pun patuh, melakukan permintaan Reyna tanpa bertanya apapun.


"Selama satu minggu ini, apa kamu sudah salah mengira sesuatu?"


Hellian mencoba menerka, mencari tau topik yang sedang dibicarakan Reyna. Namun selama beberapa detik, ia tidak menemukan jawaban apapun.


"Aku tidak mengerti …."


"Menurutmu, aku memaafkanmu karena Darion? Anak nakal yang egois seperti sifatmu itu?" potong Reyna menatap Hellian dengan tegas.


"Ya. Aku kira itu semua demi –"


"Bodoh!" cekal Reyna lagi. "Kau masih saja bodoh dan tidak bisa memahami situasi!"

__ADS_1


Hellian memijat keningnya, berusaha mengerti arah pembicaraan Reyna. Namun pada akhirnya, dia menyerah.


"Tolong, katakanlah dengan jelas. Aku memang bodoh!"


Reyna menghela napas, lalu menatap lurus ke depan. Pemandangannya pun terpaut pada sebuah televisi besar yang tertempel di tembok.


"Kita sudah cukup tua. Alih-alih hidup terpisah dan saling merindukan, lalu mati dalam keadaan menyimpan rindu. Itu akan cukup tragis untuk kisah kita," jelas Reyna.


"Kau sendiri tahu, bagaimana hidup sendiri tanpa orang yang kau cintai. Semua terasa hampa meski kau berpura-pura sibuk setiap hari. Bukankah begitu?"


Reyna menoleh, menatap Hellian yang memandangnya dengan tatapan nanar. Seolah sedang mengisyaratkan bahwa dia tak berdaya.


"Kamu mencoba membujukku agar menerima wanita itu?" tebak Hellian tiba-tiba.


Namun mendengar asumsi Hellian, membuat Reyna mendengus kesal. "Kau masih belum tahu? Dari mana sifat keras kepala anakmu itu?"


"Aku tetap tidak bisa!"


"Tidakkah kau puas menyiksa kita semua dengan keegoisanmu dulu? Semua kesalahan berawal darimu. Anak itu hanya ingin bahagia, jangan membuatnya terbebani lagi. 26 tahun, itu bukan waktu yang sebentar!"


Hellian bangkit berdiri dari kursinya, lalu berbalik dan berjalan ke arah jendela. Dari balik tirai yang sedikit tersingkap, dia mencoba menelan kebenaran yang baru saja diucapkan Reyna.


Memang benar, 26 tahun bukan waktu yang sebentar. Darion telah menanggung segalanya selama itu, dalam kebisuan. Semua hanya karena keegoisan Hellian dengan alasan menjaga nama baik keluarga Walter.


"Cobalah mengenalnya. Dia gadis yang baik. Aku bisa melihatnya dari sorot mata gadis itu ketika kamu bertemu," ucap Reyna masih berusaha meyakinkan Hellian.


"Dia memasang wajah palsu untuk menipumu!"


"Cih, dasar pria tua. Apa kau tidak ingat, saat itu aku bisa melihat tipuan wanita ular itu, tapi kau tidak!"


Hellian menghela napas kasar. Lagi dan lagi, dia dikalahkan oleh kenyataan yang diucapkan Reyna.


"Baiklah, akan ku coba!"


...☆TBC☆...

__ADS_1



__ADS_2