Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Kerja sama


__ADS_3

“Tuan, kami menemukannya!”


Sebuah suara terdengar dari balik panggilan telepon yang baru saja Darion jawab. Dua sudut bibir Darion terangkat puas. Setidaknya beberapa anak buahnya bekerja lebih cepat dibandingkan pihak kepolisian.


“Ambil darahnya, lalu lempar dia ke polisi. Biarkan dia merasakan hidup di penjara selama beberapa hari,” ucap Darion dengan santai.


“Baik, Tuan!”


Darion kembali mengantongi ponselnya, lalu berbalik. Sorot mata yang semula tajam bagai belati bermata dua, kini berubah sendu. Pria itu menatap ke depan, menatap sebuah peti mati putih dengan ukiran bunga.


“Setelah ini, kau dan aku harus bahagia. Ingat itu!”


Setelah mengatakan itu, dia pergi meninggalkan ruangan. Ruangan gelap dengan lima peti mati berjejer. Tidak ada lampu untuk penerangan, yang ada hanyalah satu jendela kaca kecil. Cahaya yang masuk pun hanya menerangi peti mati berwarna putih yang sempat Darion pandang.


Setelah meninggalkan ruangan, yang sebenarnya lebih mirip seperti gudang penyimpanan. Darion terlihat memasuki mobil SUV hitamnya, kemudian pergi berkendara sejauh 20 mill dari lokasi semula.



Watford, sebuah kota yang terletak di Hertfordshire, Inggris. Kota yang memiliki pemandangan indah tanpa banyak gedung-gedung bertingkat, bahkan asap kendaraan bermotor, menjadi kota yang dituju Darion.


Benar, itu adalah tempat yang pernah Hellian tinggali bersama mantan istrinya, ibu Darion. Rumah dengan bata merah berlantai dua, tampak sederhana memang, tapi semua barang-barang di dalamnya sangat mewah.

__ADS_1


Di sisi kanan, terdapat sebuah danau yang dihuni angsa-angsa putih. Sedangkan di sisi kiri terdapat tanah luas dengan rerumputan hijau. Ada sebuah kandang burung yang cukup besar disana, burung yang setiap paginya berkicau riang.


Darion melangkah dengan perlahan setelah memarkirkan mobilnya. Jalan setapak yang dia lewati masih berupa bebatuan, tetapi tidak menusuk di kaki. Dia mulai mengedarkan matanya, melihat rumah yang dulu pernah mereka singgahi bertiga.


Sudah 30 tahun lamanya, sejak mereka pindah ke London. Selama itu pula, rumah itu kosong tanpa penghuni. Hanya beberapa orang pekerja yang tinggal di belakang, untuk menjaga dan merawat rumah.


Seorang pria tua berlari sedikit tergopoh-gopoh ketika ia melihat Darion datang. Pria yang dipanggil Paman Sam tersenyum lebar, bahkan manik matanya berkaca-kaca saat dia berada di hadapan Darion.


“Tuan Darion, sudah lama sekali,” ucapnya sedikit gemetar lantaran menahan rasa haru yang membuat mata tuanya basah.


“Sudah lama, Paman Sam. Bagaimana kabarmu?”


Paman Sam tertawa sedikit, menunjukkan beberapa giginya yang sudah tanggal. “Anda bisa melihatnya. Aku masih hidup.”


“Oh. Apa Anda kemari untuk bertemu dengan tuan? Tuan menginap selama seminggu kali ini,” ucap Paman Sam setelah mengingat jika Hellian berada di rumah lama.


Yah, sudah menjadi kebiasaan bagi Hellian untuk datang kerumah lama, setidaknya dua atau tiga bulan. Hellian akan menginap disana selama dua hingga tiga hari. Namun, selama beberapa periode, Hellian datang hampir setiap bulan dan menginap selama 5 hingga 6 hari.


“Paman Sam sangat peka. Apa ayah ada di ruang baca?”


Paman Sam menggeleng. “Tuan sedang memancing di danau. Akhir-akhir ini tuan sering menghabiskan waktu disana.”

__ADS_1


“Aku mengerti. Terima kasih, Paman.”


Dari halaman depan, Darion melangkah pergi ke sisi timur, tepat dimana danau yang dibuat sang ayah berada. Dari kejauhan, dia bisa melihat pria tua berambut putih itu sedang duduk dan fokus menatap para angsa di danau.


Darion berhenti, tepat di samping Hellian yang sedang duduk. Lalu mulai mengatakan apa yang menjadi keinginan tanpa basa basi.


“Ayah, mari kita bertukar sesuatu,” ucap Darion.


Hellian tidak langsung menanggapi putranya. Dia justru tetap fokus memandang sepasang angsa yang berenang bersama, menjauh dari kerumunan angsa yang lain.


“Pinjami aku Tuan Aaron, dan akan ku beritahu dimana ibu berada.”


Kedua mata Hellian terbelalak penuh, sebelum akhirnya ia tersentak kaget dan memandang Darion. Putra tunggalnya yang ternyata tahu dimana keberadaan sang ibu, tetapi enggan mengatakannya.


“Untuk apa kau membutuhkan Aaron?” tanya Hellian penasaran.


“Aku tahu, Ayah pasti sudah mendengar berita itu. Aku hanya ingin bermain-main saja,” jawab Darion santai.


“Ayah tahu, mereka mempermainkan kita selama 26 tahun lebih. Jadi, biarkan aku bermain bersama Tuan Aaron,” lanjut Darion menatap Hellian.


“Terserah kau saja!”

__ADS_1


...☆TBC☆...



__ADS_2