Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Rumah lama


__ADS_3

Sejak kepergian Reyna, rumah yang sempat terasa hangat dan hidup dalam 10 hari terakhir, kembali dingin dan sunyi. Tidak ada lagi kecerewetannya. Tidak ada lagi kesibukan yang dilakukan para pengurus rumah atas perintahnya.


Semua kembali seperti sedia kala. Seperti saat Reyna pergi beberapa tahun lalu. Membawa kehangatan dan semua kegembiraan.


Hellian pun kembali ke keadaan sebelumnya. Menyendiri, menatap langit atau kembali menyambangi rumah lama. Rumah yang sempat menjadi tempat makam malam terakhir mereka berlima.


Sama seperti hari ini. Ketika rasa rindu mengusik sanubarinya. Hellian lagi-lagi mengunjungi rumah lama, duduk di tepi danau sembari melihat angsa-angsa yang berenang.


Tanpa disangka, Darion dan Zea juga menyambanhi rumah lama pada wkatu yang sama. Hanya saja, mereka datang sedikit sore, lantaran menyempatkan diri untuk pergi berbelanja lebih dulu.


"Dia pasti sangat merindukan ibu," ucap Zea, ketika ia baru saja datang dan berjalan ke sisi rumah.


Darion menoleh, menatap pria tua itu duduk di tepi danau sendirian. Helaan napas panjangnya sempat terdengar, sebelum akhirnya ia mengajak Zea untuk masuk ke dalam.


"Kita hanya membeli sedikit daging. Tidak tahu kalau ayah juga akan ada disini. Apa aku perlu keluar lagi?" tanya Zea yang berjalan di samping Darion.


"Tidak perlu. Ayah tidak terlalu suka dengan daging. Buatlah pasta dan Foie Gras, dia menyukai itu," jawab Darion yang sibuk meletakkan beberapa paper bag di atas meja.


"Tapi kita tidak punya Foie Gras."


"Jangan khawatir. Pengurus rumah akan membawakannya sebentar lagi."

__ADS_1


Zea mulai membongkar isi belanjaannya. Mengeluarkan sayur dan daging segar yang akan ia olah malam hari ini. Darion pun terlihat sibuk membantu Zea. Memotong sayur untuk salad dan memarinasi daging.


Sedangkan Zea, dia justru terlihat cemas dengan Hellian. Sejak tadi, pandangan gadis itu terus tertuju pada jendela kaca. Melihat Hellian masih duduk dengan posisi yang sama.


"Pergilah hibur ayahmu, Don. Atau setidaknya, temani dia mengobrol," pinta Zea lembut.


"Biarkan saja dia."


"Berhentilah keras kepala, Don! Dia hanya memilikimu sekarang. Pergi dan bicaralah sebentar."


Darion tertunduk, memikirkan perkataan Zea yang memang benar adanya. Pada akhirnya, dia meletakkan pisaunya dan pergi menemui Hellian. Sedangkan Zea masih sibuk memasak sambil melihat mereka dari balik jendela kaca.


Meski Zea tidak bisa mendengar percakapan keduanya lantaran jarak. Setidaknya ia bisa melihat dua pria yang sedang duduk di tepi danau itu, mengobrol dengan baik.


Dua jam telah berlalu. Makanan panas telah ditata rapi oleh Paman Sam di atas meja. Sementara Zea pergi ke ruang tamu untuk memanggil dua orang pria yang sedang asik bermain catur.


"Don, Ayah," panggilnya dengan nada lembut. "Makan malam sudah siap."


Darion menoleh, menatap Zea, kemudian tersenyum sambil mengangguk pelan dan berkata, "Kami akan datang."


Dia menatap wajah sang ayah yang masih sibuk bermain catur. Seperti tidak menghiraukan ucapan dari Zea. Darion yang mulai kesal, lantas bangkit berdiri.

__ADS_1


"Ayah sepertinya tidak tertarik menikmati Wine Penfolds yang kita bawa," ucap darion menoleh pada Zea, tetapi matanya melirik menatap Hellian.


Entah mengapa, setelah kata Wine keluar dari mulut Darion. Hellian langsung menarik napas panjang dan meregangkan tubuhnya.


"Sudahlah! Aku lelah bermain catur, lebih baik isi tenaga lebih dulu," ucapnya sambil bangkit berdiri, lalu berjalan pergi.


Namun ketika ia berjalan melewati Zea, langkah kakinya terhenti sejenak. Pria itu lantas mendekat dan berbisik, "Jangan memanggilku Ayah!"


Perkataan bernada ketus yang keluar dari mulut Hellian, justru tidak membuat hatinya sakit atau tersinggung. Zea justru menaikkan dua sudut bibirnya dan melihat Hellian berjalan menuju meja makan.


"Ayah, aku membuat pasta dan hati angsa!" ucap Zea dengan nada sedikit mengejek.


Hellian sempat menghentikan langkah kakinya lagi, tetapi hanya sesaat. Sedangkan Darion yang entah sejak kapan berdiri di samping Zea, tiba-tiba saja menunduk, mendekatkan bibirnya di dekat telinga Zea.


"Dasar, gadis nakal! Berani-beraninya kau menggoda calon mertuamu," bisik Darion lirih, yang kemudian membuat Zea menoleh.


Zea hanya tersenyum, lalu menjulurkan lidahnya, bermaksud mengejek Darion juga. Sebelum akhirnya dia berlari kecil menuju meja makan dan bergabung bersama dengan Hellian.


Melihat tingkah menggemaskan Zea, membuat seulas senyum Darion lolos dalam sekejap.


"Lihat saja, aku akan membalasmu besok!"

__ADS_1


...☆TBC☆...



__ADS_2