
Selesai menikmati makan malam. Hellian terlihat berjalan ke luar rumah, sedangkan Darion dan Zea duduk di sofa menikmati sebuah film. Namun kepergian Hellian tidak berlangsung lama, pria dengan tongkat kayu itu kembali masuk, setelah setengah jam berada di luar. Entah, apa yang dia lakukan di luar.
Hellian berjalan masuk ke dalam kamarnya, tanpa menoleh ke arah Darion dan Zea yang duduk di depan televisi. Seolah tidak lagi peduli pada hubungan yang sempat ia tentang sendiri. Mungkin, perkataan Reyna terakhir kali membuatnya sedikit luluh.
"Kamu tidak ingin bermain catur lagi dengan Ayah?" tanya Zea memandangi wajah Darion.
"Tidak. Biarkan saja dia tidur lebih cepat malam ini," jawab pria yang sedang asik menikmati film.
Zea hanya bisa menghela napas kasar. Mencoba melepaskan segala kekhawatirannya akan keadaan Hellian, setelah Reyna pergi. Namun, gadis yang masih berstatus single setelah perceraiannya diresmikan itu, masih tidak tenang.
Satu jam berlalu setelah Hellian masuk ke dalam kamar. Entah mengapa, Zea merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Dia bahkan tidak bisa berkonsentrasi pada film yang sedang terputar.
Tiba-tiba saja, Zea melepaskan tangan Darion yang sejak tadi berada di atas bahunya. Lalu dia bangkit berdiri dengan cepat.
"Aku akan melihatnya!" ucap Zea yang langsung berlari kecil menuju kamar Hellian.
"Baby … Zea!"
Panggilan dari Darion sama sekali tidak dianggap. Zea terus berlari kecil menghampiri kamar Darion yang memang berada di lantai pertama.
Namun ketika ia sampai di depan pintu, Zea tidak langsung masuk ke dalam. Gadis itu sempat menarik napas panjang, sebelum akhirnya mengetuk pintu dengan lembut.
Tidak ada jawaban pun yang bisa ia dengar dari dalam, meski beberapa kali ia mengetuk pintu memanggil Hellian. Pikirannya sempat mengira Hellian sudah tertidur, tetapi hati kecilnya bimbang.
Zea yang semula sudah berjalan beberapa langkah pergi meninggalkan kamar Hellian, tiba-tiba berbalik. Ia langsung memegang gagang pintu dan membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci.
__ADS_1
Kamar gelap dengan aroma wine pekat, langsung menyapa dua indra Zea. Dia bahkan mengibaskan tangannya di depan hidung, agar baunya sedikit berkurang.
Zea mencoba berjalan masuk ke dalam, meski semua lampu di kamar dalam kondisi mati. Beruntung, sebuah jendela dengan tirai yang tersingkap, seakan memberi cahaya dari sinar rembulan untuk masuk.
Dari sanalah, Zea bisa melihat Hellian terbujur di lantai tak sadarkan diri.
"A-ayah! Ayah!" teriak Zea langsung menghampiri Hellian.
Dia mencoba memeriksa denyut nadi di leher Hellian, tidak lupa juga dengan napasnya. Mendapati semuanya tidak normal, Zea langsung melakukan CPR sambil berteriak memanggil Darion.
"DON!! DON!! Come here!" teriaknya dengan suara yang lantang.
"Please! Please! Bernapaslah!"
Deru langkah kaki terdengar jelas di telinga Zea, ketika ia mencoba memberikan CPR pada Hellian. Kedua mata Darion langsung tertuju pada Zea yang berlutut sambil memberikan CPR.
Zea mengangguk, kemudian buru-buru bangkit berdiri dan melakukan apa yang dikatakan Darion tanpa bertanya apapun. Darion pun langsung menggantikan posisi Zea untuk memberikan CPR.
Kaki kecil Zea berusaha berlari tanpa memperdulikan apapun. Menerjang batu-batu kecil tajam hanya dengan sandal rumah yang sangat tipis. Berlari secepat mungkin menuju rumah Paman Sam yang berada tepat di belakang rumah.
Diketuknya pintu rumah dengan pondasi batu bata merah itu dengan intonasi cepat. Teriakannya pun cukup melengking memanggil nama Paman Sam. Hingga membuat pria tua itu segera membuka pintu.
"Nona? Ada masalah apa?" tanyanya penasaran melihat napas Zea yang cepat tak teratur.
"Dok-ter! Ayah … maksudku Tuan Hellian butuh dokter segera!"
__ADS_1
Mendengar hal yang disampaikan Zea, Paman Sam tidak bertanya apapun dan langsung masuk ke dalam tanpa menutup pintu. Pria itu meraih telepon rumah, lalu menghubungi seseorang.
"Tuan Besar membutuhkanmu segera!"
Hanya beberapa patah kata, lalu Paman Sam mengakhiri panggilan telepon. Dia berjalan keluar dengan terburu-buru, agar bisa mengajak Zea kembali ke rumah.
Kakinya yang sudah tua renta, tidak mampu lagi untuk berlari. Namun meski begitu, pria itu mencoba mempercepat jalannya agar bisa melihat kondisi Hellian.
Tidak ada percakapan yang terjadi ketika mereka berdua berjalan beriringan. Zea tidak bertanya apapun, begitu juga Paman Sam. Keduanya masih diam, bahkan ketika mereka sampai di kamar Hellian.
"Oh astaga! Tuanku!" Paman Sam buru-buru mendekat, memeriksa napas Hellian yang melemah, sedangkan Darion masih berusaha melakukan CPR.
"Sudah berapa lama?" tanyanya.
"Zea yang menemukannya tergeletak. Dia sudah melakukan CPR, napasnya pun kembali, tapi sangat lemah." Darion menatap wajah tua Sam.
"Tidak ada oksigen disini. Tidak ada peralatan medis apapun. Tapi aku sudah menghubunginya, dia akan datang secepat mungkin."
Raut wajah mereka bertiga terlihat tidak baik. Rasa cemas terlukis dengan jelas, terutama di wajah Darion yang berusaha ditutupi. Namun, Zea dapat melihatnya dengan jelas.
Sampai, suara mobil terdengar dari depan, hingga membuat Paman Sam buru-buru berdiri dan keluar.
"Aku pikir itu serangan jantung. Cepat beri dia pertolongan pertama!" ucap Paman Sam pada seorang pria muda yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Jangan khawatir. Aku akan berusaha!"
__ADS_1
...☆TBC☆...