Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Kepercayaan yang hilang


__ADS_3


Setelah mendapatkan perlakuan buruk dari Darion. Ana mencoba mencari perlindungan dengan menemui Hellian, ayah mertuanya.


Rencana disusun begitu rapi saat di dalam perjalanan. Tidak lupa juga, mampir ke sebuah toko Wine untuk membeli beberapa botol sebagai buah tangan.


Mobil yang dinaiki Julian sampai lebih dulu, sebelum beberapa menit kemudian terlihat mobil yang dinaiki Ana memasuki pekarangan.


"Apa yang membuat Ibu lama?" tanya Julian ketika Ana baru saja turun dari mobil.


"Membeli oleh-oleh tentunya. Tidak pantas datang ke rumah kakek dengan tangan kosong!"


Dua sudut bibir keduanya terangkat. Membayangkan bujuk rayu yang mungkin akan berhasil ketika mereka bertemu dengan Hellian. Mengingat pria itu begitu menyukai cucunya.


Mereka baru saja berjalan masuk beberapa langkah ke dalam. Namun aura yang terasa disana sangat berbeda. Bahkan Julian yang sesekali berkunjung pun merasakannya.


Semua tirai ditutup, seolah tak ingin ada cahaya mentari yang boleh masuk. Bau asap cerutu mengepul, bercampur dengan aroma alkohol yang pekat.


Seorang pria muda dengan sorot mata tajam terlihat berbisik pada pria tua yang duduk termenung di kursi. Pria yang sudah seminggu ini menatap nanar sebuah foto usang.


"Tuan, Nona Ana dan Tuan Julian ada disini."


Hellian masih diam tak bergeming. Sorot mata dengan lingkaran hitam masih tertuju pada foto seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang.


"Dulu aku merasa, semua yang aku pikirkan adalah kebenaran. Mempercayai mataku yang melihatnya keluar dengan seorang pria," uca0 Hellian tiba-tiba.


"Tidak mempercayai dia yang berusaha menjaga nama baik anaknya sendiri. Bahkan ketika pergi, aku tidak mencarinya."


Perkataan-perkataan yang terucap dari mulut Hellian, membuat dua orang yang masih berdiri itu merasa heran. Tak ayal jika mereka pun saling menatap lantaran tidak mengerti arah pembicaraan Hellian.

__ADS_1


Hellian menghela napas panjang, kemudian meletakkan foto yang sejak beberapa hari ini ditatapnya dengan penuh penyesalan. Kemudian ia mengambil tongkat, hendak duduk ke sofa.


Ana yang melihat mertuanya kesusahan berjalan, langsung berlari menghampiri dan bermaksud membantunya. Namun, tangan Ana langsung di tampis, bahkan sebelum ia berhasil memegang Hellian.


"Kakek, ibu hanya ingin membantu Anda!" Nada Julian sedikit meninggi ketika melihat ibunya hampir jatuh ke lantai lantaran sikap kasar Hellian.


"Kalian berdua memang sama saja. Ibu dan anak!" ketus Hellian tak peduli.


"Kek!"


"Sudah. Kakek mungkin sedang banyak pikiran," Ana mencoba menenangkan amarah Julian agar tidak mengacaukan rencananya.


Ana pun masih belum menyerah. Dia mengambil wine yang ia beli dari tangan Julian, kemudian berjalan mendekati Hellian yang duduk di sofa kesukaannya.


"Ayah, aku membawa wine bagus. Coba–"


Belum sempat Ana menyelesaikan kalimatnya, Hellian buru-buru memotong dan menatapnya dengan tajam.


Mendengar perkataan kasar dari Hellian, Anda dan Julian saling menatap heran. Ini adalah pertama kalinya Hellian bersikap kasar pada keduanya. Padahal, sebelumnya pria itu selalu baik dan penuh perhatian.


"Aku dengar, kau masih belum menandatangani surat cerai yang dikirim Darion?"


Dari semua perkataan Hellian, pertanyaan inilah yang paling membuat degup jantung Ana hampir berhenti. Dua matanya membulat penuh. Ada ketakutan yang tiba-tiba menghampirinya.


"Hampir 20 tahun, kau pikir sikap anak itu bisa berubah hanya dengan kau kembali? Hentikan! Tandatangan surat cerai itu segera!"


GLEK


Ana berusaha menelan salivanya. Entah mengapa, bekas cekikan Darion tiba-tiba terasa menyakitkan dan membuatnya susah bernapas

__ADS_1


"A-apa yang Ayah maksud? Kami suami istri, dia hanya marah untuk sesaat." Ana masih berusaha membujuk Hellian agar tetap berada di pihaknya.


"Tanda tangan saja, maka kau bisa mengambil kompensasi. Atau …." Hellian menatap tajam ke arah Ana. Melihat wajah gugup dari sang menantu membuatnya sedikit berpikir.


"Kau menunggu aku melempar bukti jika dia bukan benih milik anakku?"


Ana lagi-lagi terbelalak mendengarnya. Berpikir sedikit lebih keras, bagaimana pria tua itu mencurigai mereka? Padahal dulu, Hellian rela membantah Darion jika dia mengatakan Julian bukan anaknya.


"Cukup kakek!" bentak Julian menatap Hellian dengan wajah kesal.


"Jangan meragukan ibu! Ibu bukan Kakek pikirkan. Dia kehilangan segalanya karena malam itu juga!"


"Ho, kau membela ibumu? Jangan kau pikir aku juga tidak tahu tentang pernikahanmu!"


Degh


Julian yang tadinya penuh dengan emosi saat berbicara dengan Hellian. Tiba-tiba merasa gentar. Dia bahkan secara tak sadar menarik mundur langkah kakinya.


"Hentikan! Jangan melawan kakekmu. Kakek mungkin sedang banyak pikiran, ayo kita kembali dulu!" ajak Ana sambil menarik tangan Julian dan segera membawanya pergi.


Dua orang yang langsung menghindar ketika kedoknya hampir terungkap. Berdiri di depan mobil dengan tubuh gemetar hebat. Ana bahkan menggigit kuku ibu jarinya agar tidak terlalu gugup dan bisa berpikir dengan jernih.


Sedangkan Julian yang juga panik lantaran Hellian mengetahui pernikahan kontraknya, langsung mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


"Tidak mau tahu! Cari hubungan yang terjadi antara ayah dengan istriku secepat mungkin!"


...☆TBC☆...


Bang Jul bakal nemuin perselingkuhan bapak sana istrinya gak nih? 😏

__ADS_1


Masih pagi udah 2 bab nih.


Sajennya masih di tunggu loh ya 😌


__ADS_2