Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Selamat tinggal


__ADS_3

Reyna


Memaafkan masa lalu dan berdamai. Lalu hidup bersama, menghabiskan waktu yang hanya terhitung hari. Rasanya lebih menyenangkan dan menenangkan daripada terus menahan rindu tanpa ujung.


Mereka yang sudah melewati 50 tahun pernikahan, pasti merasakan hal yang sama sepertiku.


...'Hiduplah dengan orang yang mencintaimu. Meski kau tidak mencintainya dan merasa bahagia, setidaknya dia tidak akan menyakitimu'...


...☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆...


Perkataan Reyna terus terngiang di kepala yang mengenakan dress hitam. Dia berdiri tegak, pandangannya lurus, menatap peti mati berwarna putih yang perlahan diturunkan.


Mata gadis itu tiba-tiba memerah, membendung air di pelupuk mata yang enggan untuk menetes. Dadanya terasa sedikit sesak, tetapi masih bisa untuk mengambil napas pendek.


Darion yang berdiri di samping, menggulurkan selembar sapu tangan putih. Lalu, dengan lembut menyeka air yang membendung di pelupuk mata.


"Dia pergi begitu cepat. Padahal kita baru saja mengobrol," ucap Zea lirih, sambil menahan isak tangisnya.


"Ibu sudah cukup tua. Rasa sakit yang dia rasakan sudah berakhir." Darion meraih tangan kanan Zea, kemudian mengengamnya dengan kuat.


"Kenapa orang baik selalu pergi lebih dulu, Don?"

__ADS_1


Darion menggeleng pelan. Dia sendiri tidak bisa memahami hal yang dikatakan oleh sang kekasih. Jawabannya pun, sedang dia cari. Namun seberapa keras dia mencari, dia belum juga menemukannya.


Dari semua yang menghadiri pemakaman Reyna. Hanya Hellian yang terlihat begitu sedih. Pria tua yang dikenal dengan gengsi yang tinggi, seolah tidak peduli hal itu. Dia bahkan tidak segen mengusap air matanya secara terang-terangan.


Kepergian sang istri dengan banyak pesan yang ditinggalkan untuknya, seperti cuka yang disiram pada luka. Dadanya menjadi semakin sesak tatkala mengingat setiap kata yang Reyna ucapkan sebelum pergi.


Jadwal liburan yang sempat ia susun, terpaksa harus dipendam bersama jasad sang istri. Kenangan 10 hari selama berada dirumah pun, menjadi tak berarti.


Reyna telah pergi, membawa semua rasa sesal Hellian lantaran terlambat mengetahui kebenaran. Membawa semua keegoisan yang selama ini membelenggu hidup pria tua itu.


Seorang pria dengan seragam kebanggaannya terlihat berlari mendekati pusara yang mulai ditimbun tanah. Kesedihan terlihat jelas di wajahnya, tidak bisa tertutupi meski dia sedang memakai topi.


Darion yang melihat kedatangan Aaron, langsung melepaskan tangan Zea dan menghadangnya. "Tenangkan dirimu! Tenangkan!" pinta Darion dengan lembut.


Kepergian Reyna memang menyisakan banyak penyesalan pada setiap orang. Dia pergi setelah 10 hari keluar dari rumah sakit. Meninggalkan banyak pesan yang tidak disadari oleh siapapun, termasuk suami dan anaknya.


"Ibu berjanji akan melihat anak dan istriku. Dia sudah berjanji …." lanjut Aaron masih tidak bisa membendung rasa sedihnya.


"Setiap orang akan pergi, dengan cara mereka. Kau harus siap dengan hal ini kapanpun!" tegas Darion.


Peti mati berwarna putih telah tertutup tanah sepenuhnya. Batu nisan dari marmer berwarna hitam pun, sudah terpasang dengan sempurna di bagian atas.

__ADS_1


Beberapa orang masih terlihat berdiri, menyeka air mata mereka lantaran ditinggal oleh orang yang sangat baik. Rekan-rekan Reyna dan Hellian pun masih terlihat menaruh sekuntum bunga di dekat batu nisan.


Darion tiba-tiba melepaskan mantelnya, memasangkannya ke tubuh Zea. "Kau sudah berdiri terlalu lama, duduklah sebentar."


"Suruh ayah untuk duduk juga. Atau setidaknya, suruh Drax membawakan kursi roda. Kakinya pasti lelah." Zea menatap Darion yang langsung mengangguk, sebelum akhirnya dia pergi mencari sebuah tempat duduk.


Dari tempatnya duduk, Zea bisa melihat beberapa orang berlalu lalang. Mereka datang dan pergi setelah mengucapkan belasungkawa. Dia juga melihat, seorang pria membawa kursi roda dan memberikannya pada Hellian.


"Pertemuan kita begitu singkat, Ibu. Namun Anda memberikan kesan yang sangat dalam, seolah kita telah mengenal cukup lama."


Zea mendongak, menatap langit biru cerah dengan awan tebal yang beberapa kali menaungi para pelayat, dari sinar sang mentari. Angin semilir berhembus, membawa udara dingin, tetapi tidak terlalu menusuk.


"Apa Anda bahagia setelah mengutarakan rindu selama 10 hari terakhir? Merasakan keharmonisan keluarga yang Anda inginkan. Aku harap, Anda pergi dengan bahagia."


Zea tiba-tiba teringat. Ekspresi Reyna setelah mengucapkan beberapa patah kata untuknya. Wajah sendu bercahaya, seolah tanpa beban. Bahkan, Reyna sempat memamerkan seulas senyum untuknya pada momen-momen ia menarik napas terakhir.


"Selamat tinggal, Ibu …."


"Beristirahatlah dengan tenang, Istriku."


"Aku menyayangimu, penyelamatku … ibuku."

__ADS_1


...☆TBC☆...



__ADS_2