
Hari masih belum larut, bahkan sinar mentari masih terlihat di ufuk barat dengan cahaya yang temaram. Zea terlihat keluar dari kamar mandi sambil mengibaskan kedua tangannya.
Ah! Melelahkan sekali! Kenapa dia lama sekali keluarnya? Sial.
Umpatan demi umpatan tarbantin sempurna. Raut wajah kesalnya bahkan bisa terlihat meski hanya sekelebat mata.
Setelah ia keluar, Darion menyusul dari belakang dengan seulas senyum mengembang. Seolah-olah dia baru saja memenangkan pertarungan.
Aku bersumpah! Tidak akan mau melakukannya lagi.
Zea langsung merebahkan tubuhnya di sofa, kemudian melihat dua tangannya yang sudah tak berdaya.
"Pergelangan tanganku yang malang!" ucapnya sendu.
Pria yang sedang berjalan ke arah dapur itu jelas mendengar keluh kesah Zea. Namun bukannya merasa bersalah dan meminta maaf, pria itu justru dengan santainya memamerkan seulas senyum.
Rasa kesal Zea tentu saja sudah bertambah. Gadis yang hanya mengenakan kemeja birunya itu bahkan tidak peduli dengan Darion yang mulai sibuk di dapur.
Sampai, aroma harum yang tak sengaja terhirup, membuat pertahanan Zea mengendur. Dia menoleh, memperhatikan pria yang sedang telanjjang dada dan hanya mengenakan apron hitam dengan diam-diam.
Pria itu hanya mengenakan celana panjang, tanpa atasan. Otot lengannya terlihat jelas, dada bidangnya bahkan sangat sempurna. Rambut yang diikat seperti biasa. Wajah serius saat menggoyangkan teflon, menabur bumbu dengan asal.
Zea benar-benar tertegun, larut dalam pesona pria kekar yang ahli memasak itu. Hal yang tidak bisa dia bayangkan, adalah umur pria itu yang hampir mendekati setengah abad, tetapi masih sangat berkarisma.
"Baby, come here! Ayo kita makan!"
Lamunan Zea pecah, tatkala mendengar suara berat yang mulai terdengar familiar di telinganya. Dia berjalan mendekat, tanpa mengingat amarah yang sempat menyelimuti hatinya.
Lalu, mulai menikmati makan malamnya tanpa bicara sepatah katapun. Bahkan, dia tidak memuji masakan Darion, tetapi berhasil menghabiskannya tanpa sisa.
Darion sendiri tidak peduli dengan pujian. Melihat wajah bahagia Zea ketika makan saja sudah cukup baginya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Darion mengajaknya berkeliling penthouse. Menelisik segala sudut, ruang demi ruang yang ada di sana. Hal yang paling menyenangkan bagi Zea rupanya bagian Walk In closet.
Rak-rak berwarna putih dengan list hitam, membuat baju serta barang-barang mahal koleksi Darion tersusun rapi.
"Kebanyakan pria memilih hitam, kenapa kamu memilih putih?" tanya Zea penasaran.
"Tidak ada alasan khusus. Hanya menyukai warna cerah."
Darion berjalan mendekat ke arah Zea, lalu dengan lembut meraih tangan gadis itu. "Ayo kemari, aku akan mengajakmu ke tempat yang paling aku suka!"
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Melewati living room yang ada di lantai dua, kemudian berjalan melewati pintu yang terbuat dari kaca.
Ada balkon yang ternyata cukup luas. Lengkap dengan sofa dan Chiminea, tong pembakar kayu yang terbuat dari tanah liat.
Darion menyalakan api, memastikan agar mereka tidak kedinginan ketika berbincang. Sebelum dia duduk di samping Zea.
"Kamu hanya sibuk menatapku sejak tadi!" goda Darion.
"Huh! Kamu terlalu percaya diri, Don!"
"Iya, aku percaya diri. Sangat percaya diri bahwa kau juga mencintaiku, meski kata itu tidak pernah terucap."
Zea tidak mampu berkata-kata lagi. Meski dia tidak ragu meyakini bahwa perasaannya pada Darion adalah cinta. Namun mulutnya masih sukar untuk mengatakan hal itu.
Mungkin, itu lantaran status yang dimilikinya. Andai jika dia bertemu dengan Darion ketika sudah bercerai, mungkin Zea akan mengungkapkan perasaannya dengan gamblang.
Melihat Zea termenung, Darion merasa sedikit bersalah karena sudah menekannya. Bagaimanapun, dia juga memikirkan posisi Zea yang tidak bisa leluasa.
Dengan lembut ia meraih pundak Zea dari belakang. Kemudian membuat tubuh yang lebih kecil darinya itu bersandar dengan nyaman di tubuh besarnya.
__ADS_1
"Tidak perlu dipikirkan. Aku tahu posisimu yang sulit."
"Eemmm, terima kasih, Don!"
Angin berhembus semilir, tidak terlalu kencang dan tidak terlalu dingin, meski cuaca di luar masih di angka 20 derajat. Entah itu karena pelukan hangat keduanya, atau karena pemanas yang dinyalakan Darion. Namun keduanya menikmati waktu mereka di luar.
"Baby, kamu tidak ada pertanyaan untukku? Kamu bisa bertanya apapun!" ucap Darion tiba-tiba.
"Harus bertanya apa? Tentang istrimu atau suamiku!" Zea seakan mempertegas garis yang menjadi penghalang mereka.
"Kamu tahu aku tidak mencintainya. Dan suamimu itu, juga belum pasti anakku!"
"Bagaimana bisa yakin? Aku tidak percaya kamu tidak pernah melakukan itu dan menabur benihmu!"
"Aku tidak menyangkal hal itu. Namun aku pastikan, benih yang kutabur hanya di ladang milikmu saja. Selebihnya … yeah kau tahu itu tertahan dengan sebuah balon!"
"Puff!" Zea tak bisa menahan tawanya ketika mendengar Darion menyebutkan 'balon'
"Lalu, istrimu?"
"Dia? Aku akan menceritakannya, dengarkan baik-baik!"
...☆TBC☆...
Ingetin kalau bang Diego salah kamar lagi ya 🤭😁
Othor belum bisa mope on soalnya 🤣
Wah, bang Don mau cerita kisahnya sama si Ana. Jangan lupa pantau terus dengab taburan sajen seperti biasa 💋💋
__ADS_1