Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Julian cemburu?


__ADS_3

Hujan semalam sudah reda, tetapi udara sejuknya masih tertinggal. Sisa tetesan airnya pun masih menetes dari dedaunan. Jalanan masih terlihat basah, meski tanpa air yang mengenang. Entah, pukul berapa air itu berhenti turun dari langit.


Suasana hati Zea terlihat cukup bagus. Dia bahkan keluar rumah dengan senyum yang merekah. Ketika berada di lift, berjalan melewati gang kecil untuk sampai di halte, tiba-tiba dia berpikir. Tentang sebuah hubungan yang akan terjadi jika dia resmi bercerai.


Namun, Zea menepis pemikiran itu dengan segera. Dia lebih memilih untuk mempersiapkan diri ketika berhadapan dengan Darion di depan kamera nanti. Memikirkan agar matanya tidak terus tertuju pada pesona sang mertua.



Beberapa orang terlihat sibuk saat ia sampai di kantor. Dari penata busana, hair stylist, penata cahaya, sutradara, dan juga mereka dari Tim dua yang bertanggung jawab.


“Ketua Tim dua sudah datang? Manajer baru saja mencari Anda.”


Zea baru saja menginjakkan lobby, tapi seorang pria sudah memberitahu dirinya untuk segera bekerja. Tanpa banyak berkata, dia segera mendatangi studio yang sudah di siapkan anggota timnya untuk sesi wawancara bersama Darion nanti.


“Manajer, Anda mencari saya?" Zea menyapa seorang pria tinggi semampai dengan rambut pirang.


"Oh, Zea. My Lovely, aku sudah lama menunggu," sapa seorang hair stylist yang sudah lama menjadi teman Zea selama berkarir di NNC.


"Teo? Astaga, sudah lama aku tidak melihatmu."


Zea sedikit terkejut dengan kehadiran Teo. Pria itu baru saja menandatangani kontrak dengan salah satu agensi artis selama satu tahun. Hal itu jelas membuat Zea bertanya-tanya juga.


"Apa yang membuatmu ada disini?" tanya Zea yang dirundung penasaran.


Teo hanya mengedipkan mata, kemudian melirik ke samping. Seakan sedang menunjukkan seseorang dengan kekuasaan luar biasa yang menjadi alasan keberadaannya.


Darion?

__ADS_1


Bagaimana dia sampai satu jam lebih awal dari jadwal?


Sorot mata Zea langsung terfokus pada sosok pria yang sedang duduk. Celana jeans hitam yang dipadu dengan jas hitam dan kaos putih. Kalung dan cincin, juga kacamata hitamnya.


Entah mengapa, gayanya yang berbeda dengan sosok presdir kebanyakan membuat Zea ternganga mengagumi style maskulinnya.


"Hey, Lovely!" Panggilan Teo membuyarkan kekaguman singkatnya.


"Bagaimana kau bisa mengundangnya?"


Pertanyaan Teo langsung membuatnya berpikir ulang. Dia mengingat dengan baik, dua bulan lalu, proposal dari NNC ditolak begitu saja oleh Nesh. Namun saat sebelum dia pergi berlibur ke Maroko, Darion menerima tawaran dan langsung ditangani oleh tim satu.


Apa dia merencanakan semua ini?


Sorot mata Zea kembali terarah pada Darion yang sedang membaca script. Dalam hatinya terus bertanya-tanya. Apa semua ini hanya kebetulan belaka atau ada hal yang lain?


"Tuan Darion ingin mempertakankan kerja kerasnya dengan menonjolkan diri. Dengan begini, akan banyak investor yang tertarik untuk bergabung," lanjutnya menjelaskan.


"Hal itu juga sempat terpikir olehku. Mungkin alasan itu juga, NNC harus bersyukur karena dipilih oleh Direktur Nesh." Manajer ikut berkomentar.


Penjelasan singkat dari Drax membuat Zea berpikir lebih serius. Dibandingkan dengan kebetulan atau sesuatu yang sudah di rencanakan, dia lebih memilih untuk fokus terhadapa acara yang akan dia tangani sebentar lagi.


"Kamera dua dan tiga, posisi On. Oke, fokus pada hitungan ke tiga!"


Talk show yang dipandu langsung oleh Zea pun dimulai dengan pembuka yang menakjubkan. Tidak hanya itu, acara yang disiarkan secara Live ini pun langsung mendapat rating tinggi hanya dengan 10 menit pertama.


Seluruh kamera tertuju pada Darion. Pendiri Nesh dengan keuntungan jutaan poundsterling setiap bulannya. Pria tampan nan macho yang status kehidupannya tidak diketahui oleh media manapun.

__ADS_1


Siapa yang tidak tertarik melihatnya?


Julian pun melihat acara yang dilakukan sang ayah secara live itu. Melihat sorot mata pria berumur 45 tahun yang terus terfokus menatap Zea, istrinya sendiri.


Pikirannya pun mulai menerka-nerka. Menebak banyak praduga tentang hubungan yang mungkin sudah mereka jalin.


Namun, apa itu hanya praduganya saja?


Tidak!


Praduga itu diperkuat dengan komentar dari penonton. Mereka pun tahu, sorot mata lembut yang sejak tadi menatap Host, bukanlah tatapan yang biasa.


"Wanita ****** sialan! Berani-beraninya dia menggoda ayah!"


Dengan emosi yang meluap-luap, Julian merogoh saku, mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.


Percayalah, itu bukanlah berasal dari kecemburuannya terhadap sang istri. Melainkan gengsinya yang tinggi akan pria yang dia panggil ayah.


"Anda harus segera pulang sekarang jika tidak ingin kehilangan pria itu!"


...☆TBC☆...



Hayoo, siapa yang ditelpon si Jul?


Penisirin gak?

__ADS_1


Sajennya dong 🤭


__ADS_2