Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Ancaman Julian


__ADS_3


Darion hanya berdiri di tegak tanpa berkata apapun. Tatapannya pada pria yang sudah lancang telah memasuki ruangannya pun terasa begitu dingin menusuk tulang. Pada saat yang sama, Drax buru-buru berlari masuk ke dalam.


“Maaf, saya tidak menyangka Tuan Julian akan masuk tanpa mengetuk pintu.”


Darion masih menutup rapat kedua mulutnya, begitu juga Julian yang baru saja menerobos masuk tanpa mengetuk pintu. Sedangkan Zea yang mulai panik, hanya duduk di tempatnya dengan tubuh yang gemetar.


Darion sempat menoleh sebentar, sebelum akhirnya dia mencoba mengeluarkan Zea dari sana tanpa dicurigai Julian.


“Nona, Ottmar.”


Panggilan dari Darion langsung membuat kepalanya tegak. Dia tidak menyangka jika Darion akan membuka identitasnya secara langsung.


Tanpa ada permintaan maaf, Darion melanjutkan ucapannya “Tiba-tiba saya harus mengurus hal yang penting. Untuk wawancaranya, saya setuju dengan apa yang sudah Anda siapkan. Tolong kirim bahannya pada sekertaris saya di depan.”


Mendengar itu, barulah ia mengerti niat dari Darion. Dia bangkit berdiri, dengan seulas senyum agar tidak dicurigai, lalu berbalik ke arah tiga pria yang sedang berdiri.


“Saya senang Anda menyetujuinya. Kalau begitu, saya akan menyerahkannya pada sekretaris Anda.”


Melihat istrinya berdiri di hadapannya, Julian jelas sangat terkejut. Begitu terkejutnya, sampai sorot matanya tidak lepas dari Zea. Bahkan, manik mata itu terus memandang gadis itu meski ia sedang berjalan pergi meninggalkan ruangan.

__ADS_1


“Anda mengenalnya?” tanya Drax saat melihat wajah tidak suka dari bosnya.


Julian seketika mengalihkan matanya ke arah Drax sambil memberi jawaban, “Tidak, tapi wajahnya tidak asing.”


Alih-alih mengakui, pria itu justru berpura-pura tidak mengenali istrinya sendiri. Hal ini tentu saja membuat Darion sedikit merasa puas, tetapi juga kesal lantaran sudah di ganggu.


“Ya, mungkin karena dia sering muncul di televisi,” jawab Drax.


“Ada urusan apa? Kau hanya punya 5 menit untuk berada disini!” sahut Darion yang berjalan menuju kursi kerjanya.


“Apa itu karena wanita itu?”


Julian seolah segalanya melupakan hal yang penting. Itu adalah tentang semua urusan baik tentang pekerjaan maupun ranah pribadi yang tidak boleh dicampuri Julian.


“Karena Presdir harus segera ke Belgia untuk bertemu Mr. Jeam.” Drax mencoba memberi penjelasan pada Jullian.


Bagaimana pun, pria itu sudah mengikuti Darion sejak ia merintis Nesh. Dia tidak hanya tahu sepak terjang bosnya saat berusia 20 tahun, tetapi juga semua sifat buruknya.


Alasan sederhana yang lain, adalah karena Zea. Dia tidak ingin hubungan Darion yang baru saja dimulai harus berantakan. Setidaknya, mereka berdua harus bertahan setidaknya sampai Zea dan Julian bercerai.


“Kalau begitu, saya akan mempersiapkan semuanya. Anda harus turun pada menit sepuluh, Tuan.” Drax pun pergi dan menutup pintu, memberi mereka ruang untuk berbicara.

__ADS_1


“Katakan langsung intinya!” pinta Darion tanpa basa-basi lagi.


“Kalau begitu, aku tidak akan berbelit belit lagi. Aku ingin pindah ke kantor pusat, tolong pindahkan aku kemari!” jawab Julian yang di akhiri dengan seulas senyum.


Darion tidak langsung memberi jawaban. Die terlihat bangkit dari kursi dan memakai jas hitamnya. Mengambil sebuah pena di atas meja, lalu meletakkannya ke dalam saku bagian dalam. Dia terlihat tidak peduli meski anaknya sedang meminta sesuatu padanya.


“Tidak! Tempatmu bukan disini!” Begitulah jawaban dari Darion yang sedang bersiap pergi meninggalkan ruangan.


Emosi Julian meledak seketika. Kedua tangannya dikepal dengan kuat, bersamaan dengan rahang yang mengerat hingga memperlihatkan urat leher.


“Kalau begitu aku akan memintanya pada kakek. Aku yakin kakek akan setuju dengan ….”


Belum sempat Julian meneruskan kalimatnya, tangan kanan Darion sudah berada di lehernya. Tangan yang amat besar dengan otot-otot menonjol itu mencengkram kuat leher Julian hingga ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.


“Kau ingin mengatakannya? Katakan saja, aku tidak peduli!”


Darion melepaskan cengkramannya sambil mendorong tubuh sang anak. Dorongan yang cukup kuat, seolah ia semua amarahnya tersalurkan disana.


"Kau pikir, hanya dengan menyandang nama belakang 'Walter' kau bisa menundukkanku? Jangan konyol!"


...☆TBC☆...

__ADS_1


__ADS_2