
Tangisan Zea masih terdengar cukup pilu, tidak peduli bagaimana Darion mencoba membujuknya. Rasa sakit bercampur dengan kekecewaan, datang seperti ratusan anak panah. Menghujam seluruh tubuh, mengoyak urat serta menembus tulang.
Sebuah kenyataan terpahit yang dirasakan seumur hidupnya, bahwa salah satu kodratnya sebagai wanita telah lenyap tak berbentuk. Harganya sebagai wanita telah jatuh dalam titik terendah.
Pikirannya terus berkelana, membayangkan bagaimana masa depannya. Dia yang masih sangat amat muda, tetapi harus menanggung hal yang paling berat selain kehilangan orang tua.
Setelah ini, bagaimana dia akan hidup?
Bagaimana dia menjalani masa tuanya, akankah harus berakhir di panti jompo?
Lalu, bagaimana jika Darion meninggalkan dirinya suatu saat nanti?
Pemikiran-pemikiran itu membuat hatinya semakin sakit, bahkan lebih sakit daripada bekas luka tusukan di perut bawahnya. Zea perlahan melepaskan dekapan Darion, lalu menyeka sisa air mata yang membekas di kedua pipinya.
“Pergilah, Don. Aku bukan wanita yang sempurna,” ucap Zea tiba-tiba setelah ia merasa sedikit lebih tenang.
Manik mata Darion membulat penuh. Dia tidak pernah menyangka, Zea akan mengusirnya dengan cara seperti itu. Lembut, sedikit tegas, tetapi sangat amat menyakitkan.
“Zea ….” panggilnya lembut, seakan tidak peduli dengan ucapan Zea yang berhasil megores hatinya.
“Jika aku yang mandul. Jika aku yang tidak bisa mempunyai anak. Apa kau masih mau denganku?”
Pertanyaan Darion langsung membuat Zea mengalihkan pandangannya. Gadis itu menatap kedua mata darion yang berubah sendu dalam sekejap.
__ADS_1
“Apa yang kau katakan!?” tanya Zea sedikit ketus. “Ini tidak sama. Kau seorang pengusaha yang membutuhkan pewaris!”
Darion meraih kedua lengan Zea, menatap wajah gadis itu lekat-lekat. Lalu berkata, “Dengar!” tegas Drion.
“Pernikahan bukan sebuah ikatan dengan tujuan menghasilkan anak. Ini adalah ikatan, yang kita bentuk dengan dasar kesetiaan dan keinginan untuk hidup bersama. Saling melengkapi kekurangan satu dan yang lainnya,” lanjut Darion tanpa mengalihkan sorot matanya.
“Tapi itu berbeda! Kau tetap butuh pewaris dan aku tidak bisa memberikannya!”
“Kita belum mencobanya, bagaimana kau bisa yakin? Bahkan dokter tidak mengangkat rahimmu!”
Benar. Entah mengapa, Zea baru terpikirkan hal itu setelah Darion mengatakannya. Memang benar, dokter mengatakan jika rahimnya terluka dan kemungkinannya untuk mempunyai anak hanya kecil. Namun hal itu masih memungkinkan lantaran rahimnya masih berada di tempatnya.
“Bagaimana jika itu membutuhkan waktu yang lama?” tanya Zea.
“Kau tidak akan meninggalkanku?” Zea masih bertanya dan langsung dijawab oleh gelengan kepala Darion. “Bagaimana jika itu terjadi?”
“Maka aku akan kehilangan seluruh aset dan perusahaanku, lantaran semuanya akan dialihkan atas namamu.”
“Kenapa?”
“Untuk jaminan. Agar kamu percaya, bahwa aku hanya ingin hidup bersamamu.”
NYESSS ….
__ADS_1
Tubuh Zea terasa ringan setelah mendengar hal itu. Beban yang sejak tadi membelenggu kedua kakinya, akhirnya lepas. Hingga membuat tubuhnya terbang hingga menembus awan. Terlebih, ketika pria itu tiba-tiba mengecup kening Zea dengan lembut.
“Bagaimana jika aku menghabiskan seluruh hartamu?” tanya Zea sedikit menggoda Darion.
“Maka aku akan bekerja keras untuk mencarinya lagi.”
Zea menarik dua surut bibirnya sedikit sambil mendengus. Entah mengapa, dia menjadi jengkel lantaran Darion bisa menjawab godaannya tanpa ada celah. Bahkan sampai bisa membuatnya terdiam tanpa bisa membalas.
“Jadi ….” Darion merogoh saku, mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam, lalu membukanya. Sebuah cincin berlian terlihat sangat cantik, ia sodorkan ke hadapan Zea dengan lembut
“Apa kau sudah bersedia menerimaku sebagai suamimu?”
Kedua mata Zea yang semula sudah mengering, kini kembali basah. Bukan karena sedih, melainkan rasa haru yang perlahan menyapa. Semua karena pria yang duduk di hadapannya itu, sedang memandangnya dengan penuh harap.
Bulir bening di ujung pelupuk akhirnya jatuh menetes, bersamaan dengan anggukan kepala dan seulas simpul senyum. Wajah yang semula dirundung kesedihan, perlahan-lahan berubah penuh kebahagiaan.
Darion meraih tangan Zea, lalu memasangkan cincin berlian itu di jari manisnya.
“Jika kau berani meninggalkanku, maka seluruh asetmu akan kuhabiskan dalam sekejap!”
“Kau boleh menyuruh Drax untuk membunuhku juga, Zea.”
...☆TBC☆...
__ADS_1