Seranjang Dengan Mertua

Seranjang Dengan Mertua
Mempersiapkan surat cerai


__ADS_3

Hari ini, cuaca di London ternyata sedang tidak bersahabat. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur sebagian daerah Kerajaan Britania Raya.


Hujan yang mulai turun sejak pukul 4 pagi, masih bertahan hingga pukul tujuh. Kabut pun mulai turun menutupi jalanan, hingga membuat para warganya lebih berhati-hati saat berkendara.


Udara dingin juga menyebar, bahkan suhu di London menyentuh angka 16 derajat. Cukup dingin untuk pertengahan musim gugur, sampai bisa membuat beberapa orang menjadi enggan untuk membuka selimut mereka.


Sama seperti Zea, yang masih terlelap dalam dekapan Darion. Mata gadis itu enggan terbuka, meski beberapa kali alarm di ponselnya berbunyi. Dia hanya meraih ponsel dan mematikannya tanpa membuka mata. Lalu kembali bersembunyi di balik selimut.


Dari balik tubuh kecil Zea, Darion mencoba membangunkannya. "Baby, apa pelukanku begitu hangat? Sampai-sampai kamu tidak mau pergi bekerja."


Tanpa mengerjap, kedua mata Zea langsung terbelalak. Gadis itu langsung bangkut berdiri dari posisi tidurnya secara mendadak. Namun belum sempat ia melangkah, pandangannya mendadak kabur. Kepala pun terasa pening dan berputar, hingga membuat tubuhnya terhuyung.


Beruntung, respon Darion sangat cepat. Dia segera bangun dan menangkap Zea tubuh yang hampir terjatuh. Dua tangannya melingkar dengan erat, memeluk gadis itu dari belakang dengan posisi duduk di tepi ranjang.


“Ada apa?” tanya Darion mengkhawatirkan gadisnya


“Entah. Mungkin tekanan darahku sedikit rendah.”


Hela napas kasar yang berasal dari Darion dapat didengar jelas oleh Zea yang duduk di pangkuannya. Setelah menghela napas, Darion meletakkan keningnya di punggung Zea. Tangan pria itu mengerayang, meraih ponsel Zea yang tergeletak di sampingnya.


“Ada pesan pemberitahuan. Jam kantor mu mundur jadi jam 12 siang.” Darion memberikan ponsel pada Zea.


Zea buru-buru meraih ponsel, membuka pesan lalu membacanya. Zea pikir, itu hanya kebohongan Darion semata. Namun kenyataannya pesan itu benar-benar ada.


“Kenapa baru mengatakannya sekarang?” protes Zea sedikit kesal karena sudah terburu-buru seperti tadi.

__ADS_1


“Kenapa? Kamu sendiri yang tiba-tiba bangun dan langsung berlari seperti itu. Aku mana sempat mengatakannya.”


Itu memang bukan alasan, melainkan kenyataan yang harus Zea terima. Alih-alih meneruskan amarahnya, dia hanya bisa menarik napas panjang. Yah, setidaknya, dia tidak perlu terburu-buru untuk pergi ke kantor di tengah hujan lebat.


“Lalu, kamu sendiri tidak ke kantor?” tanya Zea tanpa menoleh menatap Darion yang sejak tadi duduk diam memangku dirinya.


“Bos tidak punya jam kerja.”


Ah, sial! Aku melupakan hal ini. “Tidak mungkin kamu tidak sibuk kan?”


Darion mengeratkan pelukannya, mencium aroma wangi eksotis dari tubuh Zea. “Sibuk. Hari ini aku harus menyelesaikan dokumen perceraian mu!”


Mendengar itu, Zea tentu menjadi antusias. Dia menoleh, kemudian bertanya dengan nada tidak sabar. “Benarkah? Hari ini. aku bisa menandatangani berkas perceraian itu?”


“Tidak hari ini. Setidaknya besok. Jadi luangkan waktumu, Drax akan membawamu menemui bocah bajingan itu.”


“Drax? Pria yang bersama kalian malam itu?”


“Benar. Dia akan menjamin keselamatanmu,”jawab Darion “Apa kamu ingin aku mengantarmu?” lanjut pria itu berusaha menggoda Zea.


“Tidak perlu. Hanya saja, pria itu sedikit ….”


Darion jelas mengerti perasaan was-was Zea, setelah mendapat perlakuan seperti itu oleh Julian. Namun meski begitu, pria dengan rambut terurai itu mencoba menenangkan dan menjelaskan situasi yang mungkin akan terjadi.


“Selain orang kepercayaanku. Dia juga menjadi salah satu orang kepercayaan ayah. Jika pria itu tidak takut padaku, setidaknya dia takut pada Hellian.”

__ADS_1


Benar. Hal itu jelas sudah dibuktikan sendiri oleh Zea. Nyatanya, atas perintah Hellian, pria yang hampir satu tahun menjadi suami kontraknya, akhirnya bersedia menandatangani surat cerai.


Setelah mendapatkan penjelasan singkat, Zea mencoba mengendurkan sikap waspadanya. Lagi pula, dia masih menyimpan barbel di dalam tas. Setidaknya benda itu masih cukup berguna nanti.


Darion tiba-tiba mempererat lagi lingkaran tangannya. Mendekap tubuh Zea dengan sangat erat, seakan tidak mau di lepas. Lalu dalam waktu yang bersamaan, bibirnya mulai menyusuri tengkuk, menghirup aroma tubuh yang selalu bisa membuatnya candu.


“Hentikan, Don.” Zea menggeliat geli, tatkala bulu-bulu dan bibir dingin Darion menyentuh kulitnya.


“I like it, Baby! Aku suka aroma eksotis dari tubuhmu.”


“Stop, Don! Please!”


“Besok kamu sudah resmi bercerai. Jadi, apa salahnya memulainya satu hari lebih awal?”


Zea berusaha memberontak, melepaskan diri dari dekapan Darion. Namun tenaganya masih belum cukup untuk membuat tubuhnya lepas.


“Don, ah!!!”


...☆TBC☆...



Hayo, pak Mer mau ngapain nak Menantu?


Nikahin dulu baru anu loh pak Mer 😏

__ADS_1


Hari ini mendadak hilang fokus setelah nulis bang Die 😁😁


Nanti kalau masih encer lanjut lagi. Jangan lupa Likenya 👍👍


__ADS_2