
Selepas pertemuan Arya dengan Ibra, setelahnya baru Arya memanggil beberapa karyawan kembali, guna bergabung dalam tim kerja sama dengan Perusahaan Angkasa yang dipimpin oleh Ibra.
"Mila, kamu dipanggil tuh sama bos, disuruh masuk ke dalam ruangannya," ucap salah satu karyawan di situ.
Mila yang masih mengerjakan beberapa tugasnya, otomatis tertunda karena panggilan dari bos nya lebih penting dari pada tugas yang dia kerjakan saat ini.
"Huh, mungkin Bos Arya memanggil ku karena ada pekerjaan tambahan lagi," batin Mila seraya melangkahkan kakinya menuju ke dalam ruangan Arya.
Tok.
Tok.
Tok.
Bunyi ketukan pintu yang diketuk oleh Mila dari luar.
"Permisi Pak," ujar Mila sembari mengetuk pelan pintu ruangan Arya.
"Silakan masuk saja," ucap Arya dari dalam dengan sedikit keras, agar terdengar oleh orang dari luar.
Mendengar perkataan bos nya, Mila lalu masuk begitu saja dan langsung menghadap Arya.
"Permisi Pak, apa tadi Bapak memanggil saya?" tanya Mila dengan sopan.
"Iya, benar Mila saya memanggil kamu, sebab ada yang mau saya bahas terkait kerja sama perusahaan ini dengan klien kita," balas Arya pelan, seraya mencuri-curi pandang ke arah Mila.
"Oh, baiklah Pak kira-kira ada kah yang bisa saya bantu, untuk kerja sama dengan klien ini Pak?" tanya Mila kembali.
__ADS_1
"Iya ada, karena ini adalah kerja sama dengan investasi yang cukup besar, maka saya mengutus kamu untuk menjadi bagian di dalamnya dan nanti kamu adalah perwakilan yang menjadi ketua dalam kerja sama ini Mila," jelas Arya yang kemudian mencoba berbicara serius dengan Mila.
"Baiklah Pak, jika Bapak mempercayai saya dalam kerja sama kali ini, maka saya akan ikut di dalamnya dan saya akan berusaha semaksimal mungkin," jawab Mila yang membuat Arya tersenyum, karena tekad dan ambisi Mila tampak terlihat dimatanya sehingga sebagai Bos, membuat Arya senang sebab memiliki bawahan yang begitu ambisius dalam bekerja.
Setelah Mila dan Arya berbincang-bincang mengenai bentuk kerja sama nya, barulah Mila menandatangani kontrak perjanjian itu, tapi saat setelah menandatangani kontraknya, Mila baru sadar kalau perusahaan yang bekerja sama dengan bos nya adalah perusahaan milik mantan suaminya sendiri.
"Perusahaan Ibra Jaya," gumam Mila yang masih terdengar jelas di telinga Arya.
"Benar, itu nama perusahaan yang akan bekerja sama dengan kita," imbuh Arya yang membuat Mila tersentak kaget, sebab dapat dipastikan kalau kedepannya, Mila pasti akan bertemu dengan Ibra, sang mantan suami.
"Nah, karena tadi pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan kita akan mengadakan perjamuan pesta, maka kita harus berhadir Mila, apa lagi kita diundang secara langsung olehnya," ucap Arya yang membuat Mila kembali kaget, namun setelahnya dengan secepat kilat, Mila mencoba menormalkan lagi dirinya.
"Baik Pak, saya akan ikut juga, karena tidak etis kalau kita tidak menghadiri undangannya," kata Mila yang mau tidak mau harus berhadir di acara mantan suaminya itu, namun kali ini Mila juga tentu saja harus menyiapkan mental yang kuat, jika mantan suaminya kembali mengusik dirinya.
Selepas pulang kerja, Mila langsung bersiap-siap untuk berangkat menuju ke pesta itu, tapi sebelumnya Mila meminta tolong kepada kedua orang tuanya untuk menjaga Andrew dan juga Syifa anaknya.
"Mama, Mila titip anak-anak ya, soalnya Mila harus menghadiri acara bisnis dari rekan kerja sama dengan perusahaan tempat Mila bekerja," seru Mila yang kemudian dibalas anggukan oleh Mama nya.
Setelah, menitipkan anak-anaknya, Mila lalu menunggu Arya, bos nya untuk berangkat bersama menuju ke acara pesta mantan suaminya.
Tidak perlu menunggu waktu yang lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, dimana mobil Arya sudah berada tepat di depan rumahnya.
Sebelum berangkat, Mila kembali pamit ke Mama nya dan juga ke anak-anaknya. Baru setelahnya Mila masuk ke dalam mobil Arya.
"Kamu sudah siap Mila?" tanya Arya.
"Sudah Pak," jawab Mila singkat dan kemudian Arya langsung melajukan mobilnya.
__ADS_1
Perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam lebih, membuat Mila menjadi bosan, apa lagi saat ini antara dirinya dengan Arya hanya diam-diam saja, tanpa ada pembicaraan sedikit pun.
"Aduh, bosan banget sih enggak ada teman bicara," batin Mila yang mengarahkan pandangannya ke arah luar kaca mobil.
Saat dirinya mulai jenuh, saat itu juga akhirnya mereka telah sampai di tempatnya.
"Ayo kita turun Mila," ucap Arya pelan seraya membuka pintu mobilnya untuk Mila.
"Iya Pak," jawab Mila dan setelahnya mereka masuk ke dalam pesta itu dengan berjalan saling beriringan.
Sementara itu, di sisi lain Ibra juga tengah menunggu kedatangan Mila sekaligus untuk memamerkan pasangannya yaitu Siska, sebab malam ini Ibra akan memberikan kejutan untuk Mila berupa pertunangannya dengan Siska.
Saat menoleh ke arah lain, Ibra melihat Mila yang berjalan beriringan dengan Arya, bahkan tanpa sadar Ibra sedikit terpukau melihat kecantikan mantan istrinya. Namun, sedetik kemudian Ibra langsung mengepalkan tangannya, sebab baru bercerai dengan dirinya, Mila malah menjalin hubungan dengan bos nya sendiri, pikir Ibra.
"Ck, memang dasar wanita sundal, baru bercerai denganku, sekarang malah langsung berjalan bersama dengan pria lain," batin Ibra yang menatap tajam ke arah keduanya.
Seolah-olah, Ibra melihat Mila dan Arya adalah musuhnya, padahal tanpa Ibra sadari sebenarnya kemarahan yang dia miliki akibat rasa cemburunya melihat Mila bersama dengan pria lain.
Kembali dengan Arya dan juga Mila, yang saat ini mereka mendekat ke arah Ibra, dan Arya menggunakan kesempatan ini untuk menggandeng tangan Mila.
"Maaf ya, aku pinjam sebentar tangan kamu, sebab aku malu karena belum memiliki pasangan yang harus aku gandeng," ucap Arya dengan suara malu-malu, sebab selama ini memang dirinya masih jomblo atau belum memiliki pasangan sama sekali.
Sesampai dihadapan Ibra, langsung Arya menyapanya yang kemudian diikuti oleh Mila.
"Bagaimana kabar Anda Pak Ibra," ucap Arya basa basi.
"Kabar saya baik Pak Arya, bagaimana dengan Anda, tampaknya hari ini Anda terlihat bahagia sekali, apa lagi sekarang di sisi Anda ada wanita cantik," sindir Ibra yang memang dia tujukan untuk Mila, walau secara tersirat.
__ADS_1
"Ah, Anda bisa saja Pak Ibra, oh iya perkenalkan ini Mila, ketua divisi pemasaran yang akan menjadi ketua dalam menangani proyek kerja sama kita kali ini," jelas Arya yang kemudian Mila memperkenalkan dirinya kepada Ibra, mantan suaminya.
Saat Mila menjabat tangan Ibra, dapat dia rasakan kalau Ibra menjabat tangannya dengan sangat keras, bahkan dengan sengaja Ibra meremas tangannya, hingga membuat Mila mengadu kesakitan.