Setelah Talak Tiga

Setelah Talak Tiga
Pernikahan Ibra dan Mita


__ADS_3

Setelah selesai dengan urusan pakaian pernikahannya, sekarang Ibra mengantar Mita pulang tanpa mengajaknya untuk bersantai sejenak menikmati makanan atau hal semacamnya.


Padahal, saat ini perut Mita sudah terasa sangat lapar dan tak jarang bunyi perutnya sudah terdengar sampai di telinganya. Namun, apalah daya, laki-laki disampingnya sangatlah tidak peka, sehingga membuat Mita hanya bisa menahan rasa laparnya saja.


Sesampai di rumah, Mita langsung keluar dari mobil Ibra begitu saja, tanpa menyuruh Ibra untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Brak," suara pintu mobil yang ditutup kuat oleh Mita.


"Ck, kenapa lagi dengan wanita itu, tadi cemberut sekarang marah, memang dasar wanita sangat sulit sekali untuk dimengerti," ucap Ibra dan setelahnya kembali melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.


Beberapa hari setelah persiapan pernikahannya, sekarang tibalah saatnya pernikahan Ibra dengan Mita terlaksana. Dimana, pernikahan mereka hanya dilaksanakan di kantor urusan agama atau KUA saja.


"Bagaimana para saksi, apakah sah?" tanya sang penghulu.


"Sah," ucap semua orang yang berhadir di pernikahan Ibra dan Mita.


Setelah itu, barulah mereka menyalami setiap tamu undangan yang ada, hingga giliran Mila dan Arya yang ikut menyalami Ibra dan juga Mita.


"Selamat ya Pak Ibra atas pernikahannya, semoga samawa sampai akhir hayat," ucap tulus Arya begitu juga dengan Mila yang mengatakan perkataan yang sama dengan suaminya.


"Mas Ibra selamat ya atas pernikahan kamu, pokoknya aku doakan semoga kalian samawa dan bahagia selalu," imbuh Mila pelan dan setelahnya segera menghampiri sang suami kembali.


Mita yang melihat secara langsung bagaimana rupa mantan istri dari Ibra hanya bisa mengaguminya saja, sebab mantan istri bos nya sangatlah cantik, ramah dan sopan sehingga pantas saja membuat bos nya sendiri susah move on dari sang mantan istri.


"Pantas saja Pak Ibra tidak mau berdekatan dengan wanita lain, ternyata mantan istrinya secantik ini, pasti lelaki manapun akan susah move on nya," batin Mita dalam hati yang melihat secara langsung bagaimana Ibra, suaminya saat ini menatap intens mantan istrinya.


Dengan cepat, Mita mencoba menyadarkan Ibra, agar fokusnya tetap terjaga.

__ADS_1


"Mas, itu tamu lain mau menyalami kamu loh," senggol lengan Ibra dan sejurus kemudian Ibra sadar kembali setelah dirinya menatap lama ke arah Mila.


"Pak Ibra, selamat ya atas pernikahannya," ucap tamu undangan dan langsung dibalas dengan jabatan tangan oleh Ibra.


"Iya sama-sama Pak, terima kasih ya sudah berhadir di pernikahan saya," balas Ibra dengan tersenyum lebar seraya menyembunyikan kekagumannya saat melihat Mila yang berhadir di pernikahannya.


Setelah acara pernikahan tersebut selesai, kemudian acara selanjutnya adalah makan-makan bersama dengan anak panti asuhan yang memang telah diundang langsung oleh kedua orang tua Ibra.


"Nah, sekarang ayo anak-anak kita makan bersama-sama," ucap Pak Arman dan setelahnya mereka makan bersama-sama dengan anak panti.


Melihat senyum merekah dari anak-anak panti, membuat Mita terharu sekaligus senang, karena salah satu impiannya telah tercapai yaitu di hari pernikahannya, Mita menginginkan untuk membagi momen kebahagiaannya bersama dengan anak-anak panti.


Mita yang ikut makan bersama, sesekali bercengkerama dengan anak-anak panti, bahkan tak lupa sesekali Mita menawarkan kepada anak-anak panti untuk menambah makanannya.


Tanpa Mita sadari, kalau Ibra tengah menatapnya dengan rasa kagum, sebab rasa kesederhanaan Mita telah menggugah relung hati Ibra yang selama ini tidak pernah berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan bantuannya.


Setelah selesai acara makan bersama, sekarang Ibra ikut bersama dengan kedua orang tuanya dan juga Mita untuk membagikan amplop yang telah berisikan uang.


"Terima kasih ya kak, semoga rezeki kakak mengalir dengan deras," imbuh salah satu anak panti.


"Amin, terima kasih ya doa baiknya," balas Mita dengan senyuman manisnya.


Serangkaian acara pernikahan Ibra dan Mita akhirnya telah usai sudah, sehingga selanjutnya bagi Ibra dan Mita untuk kembali pulang ke rumah baru mereka.


Sebelum Ibra dan Mita menikah, terlebih dahulu Ibra memboyong Mita dan Neneknya untuk tinggal di rumah barunya yang telah dia beli sendiri menggunakan uang hasil tabungannya.


Setelah kembali pulang ke rumah, Mita langsung mencoba melepaskan gaun pernikahan yang dia pakai. Namun, tiba-tiba saja pengait yang ada di belakang gaunnya tidak bisa Mita lepaskan, alhasil membuatnya harus meminta tolong kepada Ibra, suaminya untuk melepaskan pengait gaun pengantin yang Mita pakai.

__ADS_1


"Pak Ibra, boleh bantu Mita enggak, untuk melepaskan pengait gaun pernikahan ini," pinta Mita untuk meminta tolong kepada Ibra melepaskan pengait yang ada di belakang tubuhnya.


"Iya sudah, sini biar kubantu melepaskan pengaitnya," balas Ibra dan segera Mita menghampirinya.


Ibra yang mulai melepaskan pengait gaun pengantin Mita ke bawah, tentu saja membuat bahu Mita terekspos, apa lagi dapat Ibra lihat kalau bahu milik Mita sangatlah putih dan mulus, sehingga membuatnya meneguk kan air liurnya dengan kasar.


"Pak Ibra, apa sudah selesai, Bapak melepaskan pengaitnya?" tanya Mita yang memecahkan pikiran liar Ibra.


"Ehem sudah, kalau begitu sana kamu cepat ganti pakaian dulu dan setelahnya kita makan bersama-sama," jawab Ibra sembari memalingkan wajahnya ke arah lain yang membuat Mita mengerutkan keningnya karena heran dengan tingkah laku atasannya.


Setelah selesai berganti pakaian, sekarang Ibra dan Mita turun bersama untuk makan malam.


"Oh iya aku lupa satu hal, sekarang dan selamanya kamu panggil aku Mas saja jangan ada embel-embel Pak lagi," pinta Ibra yang membuat Mita menatapnya dengan heran, sebab dulu Mita boleh memanggilnya Mas jika ada kedua orang tuanya dan juga neneknya saja. Namun, sekarang malah Ibra memintanya untuk memanggil dirinya dengan sebutan Mas untuk selamanya.


"Baiklah kalau itu mau Bapak, eh maksudnya Mas Ibra," balas Mita dan kembali melanjutkan jalannya menuju ke ruang makan.


Di ruang makan, Mita dan Arya bersama dengan Nek Ijah makan dengan penuh khidmat, bahkan saat makan, hanya terdengar suara dentingan sendok saja tanpa ada satu pun yang memulai percakapan.


Hingga selesai makan, barulah Ibra memulai pembicaraan ringan yang ditujukan untuk Mita dan Nek Ijah.


"Nek, kalau nenek merasa bosan, besok Mita bisa mengajak Nenek untuk jalan-jalan sekitar taman atau pergi kemana pun, karena Ibra tahu kalau di rumah saja pasti rasanya sangat membosankan," ucap Ibra yang kemudian dibalas anggukan kepala oleh Nek Ijah, tanda setuju dengan perkataannya.


"Oh iya sayang, besok kamu sudah tidak masuk kerja lagi, jadi nanti dan selamanya kamu hanya cukup menemani nenek saja agar tidak kesepian," sambung Ibra kembali yang membuat Mita terkejut. Sebab, secara tidak langsung Ibra memecatnya walau dengan perkataan halus.


"Ta-tapi, saya bukan dipecat kan Pak, eh Mas maksudnya," imbuh Mita dengan sedikit keceplosan memanggil Pak kepada Ibra.


"Tenang saja sayang, kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu, kan suamimu ini yang akan membiayai kamu untuk kebutuhan hidup dan kapan saja kamu bisa kok kalau mau bekerja," balas Ibra dengan sedikit mengedipkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Syukurlah kalau begitu, Mita pikir Mas memecat Mita," ucap Mita dengan bernapas lega, sebab Mita pikir dirinya akan dipecat oleh Ibra.


__ADS_2