
Setelah berhasil meloloskan diri dari kejaran Mandor Handoyo, sekarang yang dilakukan Mila adalah meminta bantuan kepada aparat kepolisian dan juga menelepon mantan ayah mertuanya.
Tut.
Tut.
Tut.
"Halo Yah."
"Iya halo, kenapa Nak kamu menelepon Ayah tengah malam begini?" tanya Pak Arman pada Mila, sebab tidak biasanya Mila menelepon mantan ayah mertuanya tengah malam.
"Begini Yah, Mila lagi butuh bantuan Ayah, sebab Mas Ibra dan Mas Arya sekarang lagi di sekap oleh lawan bisnis ya, mereka termasuk kompetitornya yang membuat proyek yang sama dengan kita," ujar Mila berterus-terang kepada Pak Arman.
"Apa! kalau begitu kamu jangan panik dulu, Ayah akan mengerahkan orang-orang Ayah untuk menyelamatkan mereka," sahut Pak Arman dan setelahnya memutuskan sambungan telepon Mila.
Setelah sambungan telepon terputus, Mila langsung masuk ke dalam kantor kepolisian untuk melaporkan perihal penyekapan Ibra dan Arya.
"Pak, tolong saya Pak polisi," ucap Mila dengan nada memburu sehingga membuat pihak kepolisian bingung, karena Mila tidak menceritakan duduk permasalahannya yang terjadi.
"Coba Mbak tenang dulu, setelah itu ceritakan masalah apa yang terjadi," imbuh seorang polisi yang sedari tadi melihat Mila yang tidak tenang.
Mila menuruti perkataan polisi tersebut dan mencoba menenangkan diri terlebih dahulu dan setelahnya baru Mila menjelaskan perihal kejadian penyekapan Ibra dan Arya.
Panjang lebar Mila menjelaskan detail kejadiannya dan sekarang barulah tim kepolisian bergegas pergi menuju ke tempat kejadian perkara.
"Pak, apakah saya boleh ikut?" tanya Mila.
"Boleh, tapi kamu tetap dalam pengawasan kami," jawab polisi tersebut.
__ADS_1
Sementara itu.
Di dalam sebuah ruangan kecil, tampak Ibra dan Arya diikat di sebuah tiang besar. Dimana sekarang terlihat Ibra sudah lebih dahulu sadar dari pingsannya.
"Auh, sakit sekali punggung ku," keluh Ibra.
"Eh tunggu, kenapa tangan dan kakiku diikat," sambungnya sembari berpikir, kemudian setelah Ibra kembali mengingat semuanya, barulah sadar kalau saat ini dirinya tengah diculik, karena yang terakhir kali Ibra ingat adalah suara pukulan yang mengenai tepat di punggungnya.
Setelah Ibra mengingat semuanya, Ibra lalu melihat disekelilingnya, dimana saat ini hanya ada beberapa barang usang yang mengelilingi ruangnya tersebut. Namun, saat Ibra menoleh ke arah sisi kirinya, dia melihat kalau Arya juga bernasib sama seperti dirinya yaitu diikat di tangan dan kakinya.
Melihat Arya yang tampak pingsan, membuat Ibra lantas membangunkannya dengan suara yang keras.
"Arya, bangunlah jangan pingsan dulu, lihat apa yang terjadi dengan kita!" ucap Ibra dengan keras. Alhasil, suara keras Ibra membangunkan Arya yang sedang bobok cantik, eh ralat maksudnya membangunkan Arya yang sedang pingsan.
"Aduh sakit sekali, ini siapa sih yang berisik, ganggu banget orang lagi tidur juga, masih enak nih mimpi bulan madu dengan Mila," gerutu Arya yang membuat Ibra hanya bisa menggelengkan kepala saja sembari menahan kesal.
"Hei, buka matamu lebar-lebar, kita saat ini sedang disekap bodoh," kata Ibra dengan kelepasan mengatakan Arya bodoh.
"Jangan lancang Anda memanggil saya bodoh Pak Ibra, walaupun saya menghormati Anda, tapi jika Anda berani mengolok-olok saya, maka saya tidak segan-segan menghajar Anda!" marah Arya.
"Huh, iya saya minta maaf, mungkin marahnya Pak Arya bisa ditunda dulu, sekarang yang harus kita pikirkan adalah bagaimana caranya kita dapat meloloskan diri dari ikatan ini," jelas Ibra.
"Ha, maksud mu apa Pak Ibra," ucap Arya dengan bingung, namun sedetik kemudian dirinya terkejut, sebab ada sebuah tali yang mengikat tangan dan kakinya.
"Sekarang sudah sadar kan, kalau situasi kita sedang tidak baik-baik saja, tadi aku berniat membangunkan Anda karena jerat tali yang mengikat kita Pak, namun sepertinya Anda sedang bermimpi kalau Anda sedang berbulan madu dengan mantan istriku," sindir Ibra dengan senyuman sinis nya yang membuat Arya langsung tertunduk malu, sebab dirinya ketahuan kalau sedang bermimpi enak-enak dengan Mila dan mungkin pikir Arya, nantinya Ibra akan mengadukan hal ini kepada Mila. Sehingga mungkin saja Mila menganggapnya sebagai pria yang mesum.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan," ucap Arya.
"Yang harus kalian lakukan adalah, menyerah dengan proyek itu dan juga kalian harus menandatangani surat ini," potong seseorang yang masuk ke dalam ruangan mereka.
__ADS_1
"Ha, siapa kamu, enak sekali minta tanda tanganku, kau tahu tidak kalau tanda tanganku itu sangatlah mahal," kata Ibra yang membuat Arya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja, sebab menurut Arya, Ibra sepertinya tidak tahu situasinya saat ini.
"Ya karena ku tahu tanda tanganmu sangatlah mahal, maka aku akan memintanya, apa lagi tanda tangan dari dua pengusaha besar seperti kalian," ujar orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Hans, pemilik proyek hotel kompetitor mereka.
"Hei Bung, kau pikir aku mau menandatangani surat jelek mu itu, tentu saja tidak mau, camkan itu!" tolak Ibra dengan keras.
Mendengar ucapan Ibra, tentu saja membuat Hans meradang dan langsung mengeluarkan pistol dari sakunya.
"Sekarang kau pilih tanda tangani surat ini, atau aku akan menembak mu tepat mengenai kepala mu ini," ucap Hans dengan dingin dan langsung mengarahkan pistolnya tepat di kepala Ibra.
Ibra yang melihat perbuatan Hans, langsung meneguk air liurnya dengan kasar, bahkan saat ini, keringat sudah mulai membasahi tubuhnya. Padahal yang Ibra tahu, walau ruangan ini sempit, tapi masih ada fasilitas penyejuk udara atau AC.
"Cepat tanda tangani surat ini!" bentak Hans yang tidak sabar melihat Ibra.
"Eh anu, maaf bagaimana saya mau menandatangani surat ini, kalau tangan dan kakiku saja kamu ikat," keluh Ibra.
Sehingga membuat Hans langsung melepaskan ikatan tangan Ibra dan juga Arya dengan cepat.
"Nah, sekarang karena tangan kalian sudah tidak aku ikat, maka cepatlah tanda tangani surat ini segera.
"Baiklah, tenang ini akan aku tanda tangani segera," jawab Ibra mencoba mengambil sebuah pena dari Hans dan saat Ibra hendak menandatangani surat itu, secara mengejutkan tiba-tiba saja Arya mencekik Hans dengan kuat.
"Ibra, bantu aku segera untuk mengikat dia," perintah Arya dan segera Ibra mengikat Hans dengan menggunakan tali yang sudah dibuka oleh Hans.
"Sial kalian, lepaskan aku sekarang juga!" marah Hans kepada Ibra dan Arya.
"Melepaskan kamu, CK enak saja, lebih baik kau menemani kami di sini saja sepanjang waktu, sampai kita benar-benar membusuk di dalam sini," balas Arya.
Sehingga saat ini, jadilah Ibra, Arya dan juga Hans yang terperangkap dari jerat Hans sendiri.
__ADS_1
"Nah, sekarang temani kita di sini saja ya, pokoknya doakan saja lah, semoga ada bala bantuan yang datang untuk kita bertiga," terang Arya yang seketika membuat Hans langsung melebarkan matanya, sebab perangkap yang sudah dia buat, malah berbalik ikut menyerangnya.
Jika ada yang berpikir, kenapa Arya dan Ibra tidak langsung kabur keluar, jawabannya adalah karena di luar sudah dijaga oleh beberapa bawahan Hans.